Duta & Yumna

Duta & Yumna
79


__ADS_3

Kedua mata Yumna mengerjap pelan dan terbuka menatap langit -langit kamar rawat inap yang sedang di pakainya. Kedua matanya mulai mengedar sambil satu tangannya memegang kepalanya yang terasa sakit sekali.


Dua bola matanya yang indah dan sayu itu tertuju ke arah Bunda Sinta yang masih tertidur pulas di sofa panjang. Bagaimana tidak, Bunda Sinta semalaman menunggu putrinya yang belum juga siuman sudah hampir dua hari. Sejak semalam, Duta meminta ijin pada mertuanya untuk kembali pulang dan bersiap pada acara pelepasan dan kini Duta tengah bersiap untuk acara wisudanya.


Yumna kembali memalingkan wajahnya dan menatap langit -langit lalu beralih ke arah jendela kamarnya yang mulai terlihat terang karena sinar matahari mulai masuk ke dalam kamar rawat inapnya.


Perlahan Yumna bangun dari tidurnya. Tubuhnya masih terasa lemas dan kepalanya masih sedikit pening. Tapi, ada hal lain yang membuatnya semangat. Yumna seperti terbangun dari mimpinya. Mimpi indah yang tiba -tiba membangunkannya dan membuat Yumna teringat sesuatu. Ya, Hari ini adalah hari wisuda Duta, suaminya.


"Bunda!!" teriak Yumna dengan suara keras seperti orang kebingungan.


Suara Yumna begitu lantang dan keras sekali. Berulang kali memanggil Bundanya yang masih tertidur pulas dan akhirnya Bunda Sinta terbangun juga menatap ke arah Yumna dengan tatapan takjub dan bingung.


Bunda Sinta terduduk lalu berdiri menghampiri Yumna yang masih dudu di atas brankar tempat arwat inapnya.

__ADS_1


"Yu -Yumna? Kamu sudah siuman, Nak?" tanya Bunda Sinta pelan.


"Ckk ... Bunda apaan sih? Hari ini, Kak Duta wisuda. Kenapa Bunda gak siap -siap. Yumna juga kenapa gak di bawain baju dan alat make up. Yumna mau datang ke acara wisuda Kak Duta," ucap Yumna mulai cemas karena waktunya terbuang percuma dan hari makin siang bisa -bisa Yumna terlambat datang.


"Sayang ... Kamu masih sakit lho," ucap Bunda Sinta mencoba menenangkan Yumna. Bunda Sinta pikir, Yumna bakal frustasi lagi karena amnesianya.


"Apaan sih Bunda ini. Yumna udah sehat lho," jawab Yumna dengan senyum lebar.


"Iya Na. Sudah sehat. Tapi harus tunggu doketr yang periksa kamu untuk kasih ijin gak?" ucap Bunda Sinta pada Yumna.


Bunda Sinta kembali mengerjapkan kedua matanya dan menatap Yumna tak percaya.


"Permisi," ucap dokter yang tersenyum menatap Bunda Sinta lalu tersenyum ke arah Yumna yang sudah siuman. Dokter itu seidkit terkejut menatap Yumna.

__ADS_1


Langkah kaki dokter muda itu begitu bersemangat dan segera ingin memeriksa Yumna yang terlihat sudah segar bugar.


"Kamu sehat Na?" tanya dokter muda itu sambil mnetaap Yumna dengan perasaan bahagia.


"Sehat dokter. Dok, hari ini, Yumna mau ijin buat lepas infusan dan pergi ke wisuda Kak Duta, suami Yumna," ucap Yumna dengan nada memohon.


"Kamu yakin? Kamu sudah sehat?" tanya dokter itu meyakinkan Yumna.


"Yumna sehat dokter. Ayolah dokter, bisa terlambat ini. Yumna mau lihat Kak Duta memakai toga," ucap Yumna memohon lagi pada dokter muda itu untuk memberikan ijin.


Dokter muda itu melirik ke arah Bunda Sinta yang juga masih belum yakin akan smebuhnya Yumna.


"Gimana Bunda?" tanya dokter itu meminta persetujuan juga.

__ADS_1


"Ayolah Bunda. Kita sudah terlambat. Belum lagi kita harus ke butik dan ke salon. Acara Kak Duta jam delapan sampai sekitar jam sebelas siang. yumna juga mau ada di sana menjadi tamu undangan spesial," ucap Yumna lirih.


"Tapi Na?" ucapan Bunda Sinta menggantung. Seolah Bunda Sinta ingin bicara pada dokter muda itu berdua saja.


__ADS_2