Duta & Yumna

Duta & Yumna
14


__ADS_3

Waktu liburan semesteran pun terasa sangat cepat sekali. Yumna masih merasa berat untuk berpisah apalagi harus meninggalkan Duta di Jepang seorang diri hanay dengan Bunda Gita saja.


Pagi ini, Yumna malas beranjak dari tempat tidurnya. Ia nyaman tidur di pelukan Duta. Hampir sebulan lamanya Yumna tinggal di tempat ini, untuk merawat Duta dan membantu Duta terapi jalan agar lekas sembuh. Duta dan Yumna beserta keluarga tetap mencari donor mata yang cocok dan segera melakukan operasi mata.


Duta masih menatap kosong ke arah langit -langit. Ia sedikit canggung ingin memulai kembali hasratnya yang masih terpendam beberapa bulan ini. Beberapa kali Yumna merayu dan menggoda Duta lewat sentuhan dan kecupan, tapi Duta berusaha menghindar. Duta hanya tidak ingin Yumna kecewa karena Duta tidak bisa melakukannya secara maksimal.


Kepala Yumna tertidur di dada bidang Duta dengan tangan melingkar di perut Duta. Yumna masih pulas tertidur, semalaman Yumna dan Duta banayk bercerita kenangan lucu saat dulu awal mereka bertemu. Duta mengusap pelan rambut hingga punggung Yumna. Besok, Yumna harus kembali ke Indonesia dan tetap menyelesaiakn kuliahnya. Itu kesepakatan antar Duta dan Yumna. Duta sedikit mengancam Yumna agar Yumna tetap memprioritaskan kuliahnya agar tidak terbengkalai dan ketinggalan.


Hujan rintik -rintik sejak semalam membuat Duta dan Yumna malas bangun dan beranjak dari tempat tidur itu. Mereka lebih nyaman saling mendekap dan memeluk erat.


Yumna sudah terbangun sejak pagi tadi. Tapi, ia senagaj diam dan hanya merasakan tubuhnya di peluk dan di usap oleh Duta, nyaman dan lembut sekali. Rasa sayang dan rasa cinta Duta begitu kentara dan terasa sekali. Mengingat sebentar lagi mereka akan berpisah dalam waktu yang cukup lama. Air mata Yumna turun kembali, Yumna tak kuasa lagi menahan rasa sedihnya.


Usapan Duta terhenti di punggung Yumna. Kepala Duta bergerak mendengarkan dengan jelas isakan Yumna yang sanagt lirih itu.


"Na ... Kamu nangis?" tanya Duta lirih. Tangan Duta pun emnggapai wajah Yumna dan Yumna terkejut. Yumna tak bisa lari dari dekapan Duta. Yumna hanya bisa diam saat jari -jari Duta menyusuri wajah yumna dan terhenti di pipi Yumna yang basah.

__ADS_1


"Sayang ... Kamu kenapa nangis?" tanya Duta kembali. Tetapi Yumna masih saja diam tak menjawab.


"Na ... Jawab dong, jangan diam saja. Kakak mau tahu, apa yang sebenarnya sedang kamu pikirkan, kamu rasakan. Kamu tahu kan, Na? Kakak sekarang tidak bisa melihat kamu, hanya bisa mendengar suara kamu, tangisan kamu. Kalau kamu tidak bicara, gimana Kakak tahu," pinta Duta dengan suara lirih sekali.


Mendengar ucapan permintaan Duta, Yumna kembali menangis. Kini tangisannya terasa sekali isakannya di dada Duta.


"Kamu kenapa, Na? Apakah Kakak menyakiti hati kamu? Jawab Na? Jangan diam saja. Apa kamu menyesal bertemu Kakak?" tanya Duta lembut.


Yumna mendongakkan kepalanya menatap wajah Duta yang tampan dengan tatapan kosong ke atas tak berarah. Satu tangannya menyeka air mata yang masih tersisa di bawah matanya.


Mendengar tangisan Yumna yang sesegukan, Duta pun semakin mengeratkan pelukannya. Tubuh Yumna yang mungil semakin di tarik ke adalam dan menempel pada dadanya.


"Jawab Kak!! Kakak tidak mau menyentuh Yumna? Memangnya Kakak tidak mau punya keturunan dengan Yumna?" tanya Yumna dengan suara sedikit menguat. tangisannya kembali pecah. Satu bulan ia menunggu agar Duta menyentuhnya. Keadaan Duta sama sekali tak membuat Yumna malu. Karena Yumna yakin, Duta akan sembuh seperti sedia kala. Duta akan emndapatakan donor mata yang tepat dan cocok untuk tubuhnya.


"Sayang ... Kakak ini buta. Tak mungkin bisa menyentuh kamu," ucap Duta lirih sekali dan suaranya begitu meyayat hati Yumna.

__ADS_1


"Itu bukan alasan yang kuat, Kak. Buta itu jangan di jadikan alasan buat Kakak. Yumna masih bisa meenuntun Kakak. Asal Kakak itu niat dan siap," ucap Yumna kesal.


"Kakak memang tidak bisa Yumna. Kakak tidak siap. Kakak belum bekerja, lulus pun juga belum. Apa yang mau kamu harapakan dari lelaki buta seperti Kakak. Jalan pun Kakak masih etrtatih, dan belum bisa sempurna," ucap Duta membela diri. Duta hanay ingin Yumna realistis saja. Duta ini sedang berusaha untuk sembuh dan semua keluarganya juga sedang membantunya mencari donor mata yang tepat untuk Duta. tapi semua itu butuh proses, tidak semudah itu dan segampang itu kan?


Yumna bangkit dari tidurnya. Yumna menjauh dari tubuh Duta dan menatap Duta yang masih menatap ke atas tanpa ada tujuannya.


"Yumna ... Na ... Kamu mau kemana Na? Sini tetap Kakak peluk," pinta Duta pada Yumna. Duta juga merasa berat akan di tinggalkan Yumna, istrinya. Satu bulan ini Duta begitu bahagia, ia tidak lagi meragukan kasih sayang dan cinta Yumna. Yumna si gadis manja, kini mulai berubah menjadi wanita dewasa yang sesuai dengan keinginan Duta. Walaupun tidak bisa memaska, Yumna bisa merawat dan memotivasi Duta.


Duta tentu akan kehilangan tubuh mungil yang sellau memeluknya, suara manja Yumna kalau mau tidur dan saat bangun tidur. Celotehan gadis itu saat berteriak dan menyemangati Duta jika terapi dan berlatih jalan. Satu bulan ini, progres kesembuhan Duta begitu meroket. Dokter yang memeriksanya sungguh takjub dengan keinginan kuaat Duta yang mau sembuh dan mau berlatih keras. ini otot -otot lutut Duta mulai kuat. Hanya menggunakan satu tongkat saja, Duta sudah bisa berjalan walaupun masih tertatih, setidaknya kedua telapak kakinya sudah bisa menapak denagn baik dan benar. Langkah kakinya sekarang mulai tegas dan mantap melangkah. Seamngat hidupnya muali berkobar kembali. Itus emua karena Yumna. Peran Yumna begitu penting dalam hidup Duta. Yumna yang selalu memberika cinta dan kasih sayang tanpa batas waktu. Yumna yang selalu tulus dan ikhlas berada di sisi Duta, walau Yumna kecewa dan masih menyimpa rasa penyesalan terdalam.


"Kalau Kakak masih sayang dan cinta sama Yumna. Seharusnya permintaan Yumna yang begitu sederhana ini bisa Kakak wujudkan. Tapi, jika Kakak memang sudah tidak ada rasa lagi, mungkin, lebih baik Yumna pergi dari sekarang dan tidak perlu menunggu besok," ucap Yumna ketus dan emngancam.


Yumna bergegas turun dari tempat tidur dan mengambil kopernya yang mulai di isi beberapa pakaiannya yang ada di dalam lemari.


Yumna hanya ingin Duta tak melupakannya. Setidaknya, Yumna juga butuh penyemangat untuk menjalani hidupnya saat berjauhan dengan Duta, Jika, benih cinta itu benar bisa tertanam di rahimnya, mungkin rasa rindu dan penantiannya pada Duta sedikit terobati. Hanya itu yang Yumna inginkan.

__ADS_1


__ADS_2