Duta & Yumna

Duta & Yumna
25


__ADS_3

Yumna berada di kamar ruang inap itu sendirian. Yuri sempat berpamitan untuk pulang se rumah sebentar dan akan kembali dengan membawa pakaian ganti serta cemilan untuk menemani Yumna malam ini.


Kondisi Yumna sudah lebih baik dan stabil. Yumna menatap ponsel sejak tadi. Berulang kali melihat pesan singkat yang ia kirimkan kepada Bunda Gita yang tak kunjung terkirim. umna juga mencoba menelepon Duta, tapi juga tak bisa di hubungi nomor Dutanya.


"Pada kemana sih? Cuma mau mastiin. Bener gak sih, Kak Duta pulang? Terus mau wisuda?" ucap Yumna pada dirinya sendiri.


Yumna kembali meletakkan ponselnya di atas nakas saat perawat datang dan masuk ke dalam untuk laporan kunjungan sekaligus pemberian obat.


"Hallo ..." sapa perawat itu sambil mendorong rak yang berisi obat dan kertas untuk ceklis.


"Hai Sus ..." jawab Yumna ramah.


"Sudah makan malam?" tanya perawat itu tersenyum sambil melihat tempat makan malam Yumna yang masih utuh.


"Belum nafsu makan. Nanti saja kalau teman Yumna sudah datang. Sendirian di kamar tidak enak," ucap Yumna pelan.


"Ya sudah. Jangan lupa makan malam dulu baru minum obatnya," titah perawat itu meletakkan kotak kecil untuk menyimpan obat yang harus di minum Yumna dan di letakkan di atas nakas.

__ADS_1


"Sus ... Boleh tanya?" tanya Yumna sedikit ragu.


"Mau tanya apa? Kalau bisa saya jawab, pasti saya jawab," ucap perawat itu ramah dengan senyum manisnya.


"Siapa yang membawa saya ke rumah sakit? Sustre pasti tahu dong?" tanya Yumna menatap perawat itu dengan tatapan memohon.


"Seingat saya sih, seorang laki -laki, ganteng, badannya keren, rambutnya belah samping, senyumnya manis. Kalau gak salah ya. Soalnya pas itu saya lagi ganti shift, Agak ramai sih, soalnya kondisi kamu sedang tidak sadfarkan diri. Iya kan?" ucap perawat itu mencoba memastikan.


"Betul. Terus laki -laki itu putih?" tanya Yumna kembali masih penasaran.


"Putih dan tinggi. Maaf ya, masih banyak yang harus saya periksa. Mari," ucap perawat itu berpamitan.


"Apa jangan -jangan Lukas yang bantu Yumna? Lukas selama ini selalu mengintai Yumna. Kalau begitu yang menolong Yumna juga Luka sdong," tebak Yumna merasa Lukaslah sosok lelaki yang di maksud. Ciri -ciri umumnya memang mengarah ke arah Lukas.


Yumna tertidur saat menunggu Yuri. Ayah dan Bundanya serat kedua kakak lelakinya sudah terbang menuju kota di mana Yumna berada.


***

__ADS_1


Dua jam kemudian, tepat pukul sembilan malam. Yumna terbangun dan membuka kedua matanya. Yumna terduduk kaget karena kamar itu sudah tertutup hordengnya. Pandangan Yumna mengedar ke seluruh ruangan rawat inap itu. Ada satu kantung plastik berisi makanan di aats nakas dan tubuh Yumna tertutupi oleh selimut yang ada di bagian bawah kakinya tadi.


"Yuri!! Yur?" teriak Yumna dengan keras memanggil nama Yuri, sahabatnya itu.


Jantung Yumna berdegub keras. Yumna bukan takut kepada hantu. Yumna lebih takut pada manusia. Rasa trauma kejadian siang tadi masih jelas di otaknya. Bisa jadi yang menyelinap masuk ke dlaam kamarnya adalah orang jahat.


Yumna mengambil plastik yang ada di atas nakas, lalu membuka untuk mengetahui apa isinya. Semakin terkejut setelah melihat isi di dalam plastik itu.


"Siapa kamu!! Tolong janagn permainkan Yumna!!" teriak Yumna di dalam kamar rawat itu dengan suara keras dan lantang.


Yumna menengok ke kiri dan ke kanan. Tubuhnya terasa merinding.


Dari luar ruangan itu ada seseorang yang merapat ke dinding dan menatap Yumna dari celah hordeng yang sengaja tidak di tutup secara menyeluruh lalu pergi meninggalkan tempat itu.


***


"Kamu tidak menemuinya, Lukas? Bukankah kamu masih menyayangi Yumna?" tanya Asma sedikit cemburu.

__ADS_1


"Pertanyaan macam apa itu. Bukan urusan kamu, Asma," jawab Lukas ketus dan kembali masuk ke dalam kamar tidurnya.


__ADS_2