
Duta mengamati semua foto-foto yang di kirim Kak Jone ke ponselnya. Pikirannya menjadi tak karuan. Memang benar foto - foto itu adalah dirinya yang seolah sedang merangkul dan memeluk perempuan lain tak lain, Arsista, putri dari Om Wisnu.
"Kok bisa sih? Seolah ada yang mau fitnah aku," ucap Duta pelan.
"Tapi siapa?" imbuhnya membatin dalam hatinya.
Duta masih termenung dan mengingat kejadian malam itu. Semua orang di kantor ini di traktir dis ebuah restaurant dan minum banyak karena tender besar telah di menangkan oleh perusahaan Om Wisnu berkat Duta dan Herland yang bekerja sama dengan baik.
"Woy!! Ngelamun aja. Gak pulang?" tanay Herlanda yang duduk di dekat Duta.
"Kira -kira lo bisa jelasin soal ini gak? Secara loe ada saat acara pesta itu," ucap Duta pada Herlanda.
Duta ingat betul, ia tidak minum jadi ia tidak mabuk. Bahkan ia pualng terlebih dahulu.
Herlanda memegang ponsel Duta dan menatap foto yang terlihat janggal itu.
"Ini bukan loe, Ta. Lihat ya, ini tabgan kanan dan gak ada cincin kawin loe," ucap Herlanda menjelaskan.
__ADS_1
"Kenapa bisa mirip gue wajahnya, bajunya juga?" tanya Duta pada dirinya sendiri.
Benar -benar aneh.
"Kayaknya foto itu di edit. Lagi pula ini foto di ambil udah tengah malam, dan loe udah pulang bareng gue kan?" ucap Herlanda mengingatkan.
"Terus siapa nih yang fitnah gue. Dia sengaja mengkambing hitamkan gue biar hubunga gue sama Yumna berakhir," ucap Duta sendu.
"Saran gue. Loe balik ke Indonesia. Loe jemput istri loe kesini. Kalau gak mau atau amrah karena foto ini. Loe kudu jelasin semuanya sampai salah pahamnya hilang. Tapi kalau istri loe tetap gak mau tahu, berarti otak istri loe udah ada yang nyuci tuh biar benci sama loe. Tentunya orang itu ada kaitannya sama foto ini. Paham kan loe sama maksud gue?" tanya Herlanda pada Duta. Duta mengangguk paham. Ini jelas fitnah tak beralasan.
Tapi siapa? Siapa yang tega melakukan ini? Siapa yang tega menghancurkan bahagia rumah tangganya? Apakah ada orang ketiga yang diam -diam menyukai Duta atau Yumna?
Yumna sudah turun dari mobil Nick dan langsung merentangkan kedua tangannya sambil menghirup udara segar pantai di bawah pohon kelapa yang bergoyang karena angin sepoi -sepoi.
"Arghhhh ... Nikmat mana yang kamu dustakan Yumna," ucap Yumna berteriak keras pada dirinya sendiri.
Nick menutup pintu mobilnya ikut tersenyum bisa membuat sahabatnya itu bahagia. Setidaknya misi Nick untuk menghilangkan beban Yumna itu tercapai.
__ADS_1
"Makan yuk? LAper nih, baru kita jalan -jalan di pinggir pantai, sambil nunggu agak sore juga biar gak terlalu panas," ucap Nick mengajak Yumna.
"Boleh. Ada apa aja sih? Kayaknya makan yang seger -seger enak deh," pinta Yumna pada Nick.
"Apa? Coba kamu yang pilih. Mungkin kamu mau meluapkan ngidam kamu," titah Nick yang berjalan di sebelah Yumna.
"Bakso mercon sama es kelapa muda langsung dari buaahnya," pinta Yumna saat melihat kedai bakso yang di depannay banyak tumpikan buah kelapa hijau yang terlihat enak.
"Ide briliiant. Tapi ... Jangan pilih bakso mercon, kasihan perutnya. Pilih bakso beranak atau bakso telur saja, lebih ada proteinnya. Jangan menyiksa diri," ucap Nick menasehati.
"Oke. Siap Bos," jawab Yumna senang.
Nick dan Yumna sudah berada di kedai bakso dan mereka memesan amsing -masing satu mangkok bakso pilihan mereka dan es kelapa dari buah kelapa asli.
Saat emnunggu pesanan, Nick mencoba berbicara pada Yumna.
"Besok aku harus kembali ke Paris. Aku tidak bsia meninggalkan kelas terlalu lama. Kamu mau ikut sekalian? Biar ada teman di pesawat?" tanya Nick pada Yumna.
__ADS_1
Yumna mengerjapkan kedua matanya. Baru saja ia menemukan sahabat yang baik dan tulus. Bisa membuat Yumna tertawa dan bahagia sepanjang hari. Tapi, Yumna harus kembali kehilangan Nick untuk kembali melanjutkan studinya di Paris.