
Duta menatap gadis yang ada di depannya namun wajahnya masih tertutupi buket bunga mawar merah yang masih segar.
"Kamu siapa?" tanya Duta denagn suara lembut.
"Siapa coba tebak?" tanay Yumna berusaha menggoda suaminya denagn suara yang sengaja dibuat -buat.
"Tadi suaranya seperti Yumna, istriku. Kenapa suaranya jadi seperti tokek kecekek," ucap Duta mengulum senyum. Duta melihat jari -jari Yumna yang memegang buket bunga mawar dan melihat cincin pernikahan melingkar di jari manis Yumna.
Denagn cepat Yumna menjauhkan buket bunga mawar merah itu dan mengerucutkan bibirnya ke depan.
"Kok kayak tokek kecekek sih? Gak ada persamaan yang lebih bagus dikit selain tokek?" ucap Yumna menggerutu dan Duta tersenyum lebar lalu memeluk tubuh Yumna dengan sangat erat, mengabaikan apa yang di ucapkan Yumna sejak tadi. Duta sangat senang dan etrharu hingga air matanya menetes di pipinya. Duta tidak malu, bahkan ia sangat bahagia melihat Yumna datang untuk melihatnya wisuda.
"Sayang ... Kamu sudah sembuh?" ucap Duta mencium pucuk kepala Yumna berkali -kali untuk memastikan bahwa dirinya sedang tidak bermimpi. Yumna hanya bisa diam dan merasakan sentuhan yang begitu terasa menggebu -gebu itu.
Erat sekali pelukan itu sampai Yumna semara sesak dan berbisik, "Kak, pelukannya terlalu erat."
Duta tersadar, dirinya tidak sedang bermimpi apalagi berhalusinasi. Ini memang nyata dan benar adanya Yumna dalam dekapan tubuh Duta.
Perlahan Duta mengendurkan pelukannya dan menatap wajah Yumna yang tersenyum manis menatap wajah Duta. Yumna langsung mendongak menatap wajah Duta yang terkena silau matahari.
__ADS_1
"Yumna rindu sama Kakak," ucap Yumna lirih lalu berjinjit dan mengecup bibir Duta lembut.
"Bukan cuma rindu, selamat buat kakak sudah di wisuda. Love u, Kak," ucap Yumna lalu mengcup kedua pipi Duta bergantian. Duta menangkup wajah Yumna dengan kedua tangannya yang kekar.
"Kamu sudah sembuh?" tanya Duta berhati hati dengan sedikit keraguan sambil menatap lekat ke arah dua mata Yumna yang indah juga sedang menatap dirinya.
"Memangnya Yumna sakit apa?" tanya Yumna kepada Duta dengan rasa penasaran.
"Ekhemmm ... Sakit apa ya?" jawab Duta bingung sambil memutarkan kedua bola matanya lalu pandangannya kembali tertuju pada Yumna.
"Sakit apa sih? Yumna merasa baik -baik saja lho. Gak sakit apa -apa," ucap Yumna pelan.
Duta mengecup bibir Yumna lembut. Bibir itu sengaja tak di lepas oleh Duta dan Yumna menatap Duta lama sekali.
Yumna langsung melepas kecupan bibir Duta di bibirnya dan terdiam.
"Banyak orang Kak," ucap Yumna dengan senyum lebar.
"Kenapa? Malu?" tanya Duta pelan.
__ADS_1
"Iya," jawab Yumna menatap Duta dengan tatapan teduh.
"Kakak gak sedang bermimpi kan?" tanya Duta masih penasaran.
"Mimpi apa sih? Yumna gak paham? Kakak itu habis wisuda, harusnya bahagia," ucap Yumna pelan.
"Kakak bahagia Na. Sangat bahagia sekali. apalagi kamu hadir di hadapan Kakak. Kamu itu kado terindah buat Kakak. Tidak ada wanita yang seperti kamu, sampai kapan pun Kakak akan emnjaga kamu, Na," ucap Duta lirih dengan kedua tangan masih menangkup wajah Yumna.
"Apaan sih Kak? Kayak Yumna mau pergi aja. Maaf ya, Yumna datang terlambat jadi gak bisa lihat kakak di dalam," ucap Yumna dengan senyum manis.
"Gak apa -apa, Sayang. Kakak senang pokoknya," ucap Duta terharu.
"Ini buat Kakak," ucap Yumna memberikan buket bunga dan boneka berwujud simbol wisuda.
Duta melihat apa yang Yumna bawa dan mengecup pipi Yumna.
"Terima kasih. Seharusnya ini tidak perlu, Na. Cukup dengan kehadiran kamu, itu sudah membuat Kakak bahagia," ucap Duta pelan.
"Kita kan suami istri, Kak. Masa iya Yumna gak hadir di acara pentingnya suami," ucap Yumna tertawa renyah semakin membuat Duta menatap Yumna tak percaya.
__ADS_1
Duta melongo mentaap istrinya lekat sekali. Ternyata Yumna tak hanya sembuh saja, tapi juga sembuh dari penyakit amnesianya.