Duta & Yumna

Duta & Yumna
125


__ADS_3

Yumna berpura -pura tuli dan etrus berjalan menuju supermarket dan menarik troli besar untuk membeli keperluan dirinya dan bayinya yang amsih ada dalam kandungan. Selama ini, Yumna mendapatkan bagian dari keuntungan perusahaan milik Papahnya. Bunda Sinta juga masih mendapakan haknya sebagai istri wlapun yang mengurus perusahaan adalah kedua putra yang hebat dan di banggakannya itu.


Duta diam dan mengikuti langkah Yumna. Selama ini Duta sellau emngikuti kemana pun Yumna pergi. Ia akan berjalan dengan jarak yang tidak pernah di darai keberadaannya oleh Yumna. Namun akli ini, Duta begitu rindu pada istrinya dan bayi yang ada dalam kandungan Yumna.


"Bisa gak sih, gak usah ganggu kehidupan Yumna lagi?" ucap Yumna ketus saat mengetahui Duta sudah berjalan menyamai langkahnya dan terus mengiringi langkah kaki Yumna.


Duta tak banyak bicara, ia hanya ingin menemani Yumna tanpa berdebat. Yumna pun hanya menghela napas panjang dan mulai memilih beberapa sayuran untuk ia makan sehari -hari. Bunda Sinta membebaskan Yumna untutk membeli apapun yang Yumna inginkan, yang penting makanan itu sehat untuk Yumna dan bayinya.

__ADS_1


"Banyakin makan sayur," ucap Duta pada Yumna.


"Gak usah sok peduli," ucap Yumna masih saja ketus.


"Peduli pada kamu dan anak kita, itu tanggung jawab Kakak," ucap Duta lantang dan tegas.


"Hemmm ... Peduli? Sejak kapan bisa merangkai kata peduli? Tapi gak ada satu perlakuan yang bisa menunjukkan kata pedui itu sendiri, yang ada E G O I S!" ucap Yumna menyindir Duta denagn suara ketus dan sinis.

__ADS_1


"Kita seperti ini sudah satu bulan lebih, Na. Kalau di hitung dari waktu di Paris, itu sudah hampir tiga bulan. Kamu masih saja belum bisa menerima permintaan maaf Kakak," ucap Duta ekmudian.


"Sejak kapan Kakak minta maaf? Gak pernah kan? Lagi pula percuma juga minta maaf, kalau pasti akan di ulang, atau kejadian begini terulang lagi. Percuma Kak!! Malahan yang ada Yumna yang ekan batunya. Yumna yang sakit hati, Yumna yang kecewa!!" ucap Yumna penuh emosi. Pikirannya tetap membaca list belanjaan yang di berikan oleh Bundanya tadi.


"Bisa gak sih. Kita duduk tenang terus ngobrol santai tanpa otot, tanap teriak, semua kita bahas pelan -pelan," pinta Duta kemudian ikut mendorong troli belanjaanya itu.


Melihat Duta yang mulai berusaha mendekati Yumna. Yumna pun menghempaskan tanagn Duta dari pegangan troli besranya itu.

__ADS_1


"Udah deh. Yumna itu mau belanja dengan tenang dan santai. Gak mau ada pengganggu. Jadi biarkan Yumna menjalani kehidupan Yumna sendiri," ucap Yumna ketus dan emninggalkan Duta dengan anggukan pasrah.


Bukan Duta namanya jika ia harus menyerah terhadap satu keadaan, bahkan yang kondisinya tidak baik sekali pun. Duta tetap semangat empat lima, apalagi ini ada hubungannya denagn Yumna, istrinya dan benih cintanya. Semau Duta lakukan demi keutuhan rumah tangganya.


__ADS_2