
Satu bulan kemudian ...
Usia kandungan Yumna sudah menginjak lima bulan. Perutnya semakin terlihat besar dan bulat. Yumna masih aktif kuliah malahan sedang sibuk -sibuknya mempersiapkan ujian akhir semester bulan depan.
Hubungan Yumna dan Duta sudah membaik dan bahkan keduanya makin terlihat mesra dan semakin romantis hingga membuat orang lain di sekitarnay menjadi baper melihat keduanya yang makin serasi dan cocok. Duta sedang sibuk dengan pekerjaannya. Perusahaan kecil yang sedang di rintisnya semakin lama semakin berkembang pesat dan semaki maju.
Perusahaan yang di dirikan oleh Duta dan beberapa sahabatnya itu semakin banyak di kenal dan mendapatkan proyek besar.
Siang ini, Duta memiliki janji dengan investor sekaligus klien untuk tanda tangan kontrak kerja. Selama ini Duta tak pernah bertemu langsung dengan pemilik dana terbesar itu. Bos besar itu hanya mengutus asisten pribadinya untuk memberikan rencana kerja dan proposal untuk pengajuan sebuah kerja sama untuk proyek besar.
"Kak ... Yakin ini tempat untuk makan siangnya?" tanya Yumna yang siang ini di ajak Duta untuk ikut makan siang sambil menemani Duta menemui Bos Besar yang akan mendanai sebuah proyek besar di kota itu.
Yumna masih mengedarkan pandangannya di restaurant bintang lima itu sambil mengusap lembut perut besarnya. Wangi restaurant itu membuat perut Yumna lapar sekali.
"Yakin sayang. Memang kenapa? Kamu mau makan enak kan? Kamu inget ini hari apa?" tanya Duta kemudian menatap lekat Yumna yang sudah duduk sambil menatap buku menu di depannya. Duta mengenggam tangan Yumna dan menguspa pelan punggung tangan itu.
"Tapi ini restaurant mahal Kak. Nanti yang mau bayar siapa?" tanya Yumna agak ragu.
__ADS_1
Duta dan Yumna sedang mengumpulkan uang untuk membeli rumah minimalis yang menjadi impian Yumna. Yumna hanya ingin memiliki rumah yang tidak perlu besar tapi nyaman untuk di tinggali. Sebisa mungkin sebelum bayinya lahir, mereka sudah membeli rumah tersebut.
"Sayang ... Kita ini sedang mendapat proyek besar. Kalau kita mengeluarkan sesuai dengan level mereka itu tak masalah karena kita akan mendapatkan keuntungan yang besra dan berlipat ganda," ucap Duta bersemangat sekali.
"Memang sudah pasti?" tanya Yumna agak ragu.
Duta mencubit pipi Yumna dengan gemas lalu berbisik pelan sekali.
"Pasti dong. Ini rejeki untuk kelahiran anak kita. Kira -kira anak kita laki -laki atau perempuan?" tanya Duta.
Tangan Duta menyusup ke bawah meja dan mengusap perut Yumna yang makin keras dan bulat itu.
"Anak Papah mau makan apa sih? Makan yang banyak ya," titah Duta berbisik pada Yumna.
"Anaknya di perut. Ini ibunya," jawab Yumna tertawa.
"Memang ngasih tahu ibunya, biar ibunya memilih makanan yang di sukainya dan gak usah mikirin harga," titah Duta menatap Yumna dengan tatapan penuh cinta.
__ADS_1
"Makasih ya sayang," ucap Yumna mengedipkan satu matanya pada Duta.
Baru juga akan memilih makanan, Bos besar itu sudah datang bersama istrinya.
"Hai Duta, Yumna? Apa kabar kalian?" sapa Nick sambil menggandeng tangan Arsista dengan erat.
Yumna mengangkat wajahnya menatap sosok yang sudah berdiri di depan mejanya. Duta pun menatap Nick dengan terkejut.
"Nick?" ucap Duta pelan.
Nick mengangguk mantap dan duduk di kursi tepat di depan Yumna. Arsista yang sejak tadi mennduk juga ikut duduk di samping Nick.
Yumna menatap ke arah wanita yang duudk di samping Nick.
"Kak Arsista?" panggil Yumna lirih takut salah ucap.
Duta pun tak peduli siapa yang berada di samping Nick. Duta lebih fokus untuk menyelesaikan kotrak kerja sama dengan Nick.
__ADS_1