Duta & Yumna

Duta & Yumna
17


__ADS_3

"Aku hanya ingin memberikan tawaran terbaik, bukan sedang mengerjai kamu, Ta. Itupun jika kamu masih mau menerima tawaran aku. Jika kamu menolak ya, tidak masalah," ucap Lukas pada Duta.


"Tawaran semacam apa yang ingin kamu tawarkan untuk aku, Lukas? Jika setiap bertemu kmau hanya membicarakan soal Yumna, dan jujur itu membuat aku sellau cemburu dan ingin menjauhkan kalian berdua," ungkap Duta dengan penuh rasa kesal.


"Kamu cemburu padaku, Ta?" tanya Lukas mengulum sneyum. Tentu saja, Duta tidak bisa melihat senyuman Lukas yang kini duduk di depannya.


"Kamu mengejekku Kas?" gertak Duta pada Lukas.


"Tidak. Tidak sama sekali. Aku malah ingin membantumu, agar kamu benar -benar bisa menjauhkan aku dan Yumna jika kamu bisa sempurna seperti dulu," ucap Lukas dengan suara lirih.


Duta terdiam menatap ksosong ke arah depan. Baru saja ia mendengar sesuatu yang cukupn menarik.


"Apa maksud kamu?" tanya Duta kemudian.


"Bukankah cita -cita kamu ingin menjauhkan aku dan Yumna? Memangnya kalau keadaan kamu masih sama speerti ini, kamu bisa menjaga Yumna? Kamu bisa berbuat apa untuk Yumna? Bahkan untuk melihat raut wajah Yumna saat ini sdenag tersenyum atau merengut saja, kamu tidak bisa, Ta," ungkap Lukas pada Duta.


"Lalu? Tawaran apa yang ingin kamu berikan padaku?" tanya Duta kemudian.


"Kamu ingin bisa melihat lagi, bukan?" tanya Lukas kembali.


"Jelas itu suatu impian buat aku," ungkap Duta jujur.


"Aku akan membantumu, Ta," jawab Lukas. Suara Lukas terdengar sanagt tulus dan ikhlas.


"Apa maksud kamu dengan ingin membantu aku, Kas?" tanya Duta bingung.


"Aku ingin melihat Yumna bahagia. Sebenarnya itu tujuan utama aku. Beberapa bulan lalu, sebelum aku berpamitan pada Yumna, wajahnya selalu galau dan tak pernah ada senyum di sudut bibirnya. Berbeda dengan Yumna yang aku kenal dulu, saat ospek. Dia begitu ceria dan tidak takut pada apapun walaupun ia salah. Ia berani mengakui kesalahan itu. itu yanga membuat aku kagum pada Yumna," ucap Lukas dengan apa adanya yang di rasakan olehnya saat ini.


Lukas menatap Duta yang berwajah masam. Duta paling tidak suka ada lelaki lain yang meemuji Yumna di depannya. Tangan terkepal erat penuh kekesalan.


"Eitsss ... Tahan emosi kamu, Ta. Jauhkan pikiran kamu dari hal yang buruk. Aku tidak seperti itu. Jika aku mau, kenapa aku harus menawarkan tawaran menarik untuk kamu. Benar bukan? Karena aku tahu, cinta dan sayang Yumna hanya untuk kamu. Satu pinta ku, tolong jaga Yumna sampai kapan pun. Jangan pernah kamu menyakiti dia seperti kecerobohanmu di masa lalu. Jika aku tahu, aku yang akan turun tangan langsung," tegas Lukas pada Duta.

__ADS_1


"Aku suaminya. Aku lebih tahu, apa yang terbaik untuk Yumna, isriku," ucap Duta lantang tak mau kalah.


"Oke. Langsung pada intinya. Aku ingin mendonorkan bola mata untuk kamu," ucap Lukas lirih.


Duta tercengang mendengar ucapan Lukas baru saja. Mana mungkin ada seseorang yang sehat ingin memberikan matanya untuk dirinya. Apalagi keduanya tidak begitu dekat.


"Apa maksud kamu, Kas?" tanya Duta tak paham.


"Aku hanya ingin kamu menuruti kata -kataku saja. Tanpa harus banyak tanya, yang penting kamu bisa melihat lagi, dan menjadi lelaki sempurna," ucap Lukas dengan suara mantap.


Air mata Lukas tak terbendung lagi. Sesak rasanya mengucapkan hal ini. Tapi, semua itu sudah menjadi keputusan besar.


***


Yumna sudah kembali ke aktivitas seperti biasa. Dunia perkuliahan sudah di mulai. Kini sudah memasuki semester ganjil. Memang baru semeter lima, tapi jadwal kuliahnya begitu padat.


Sudah beberapa minggu berlalu. Yumna tidak menghubungi Duta sama sekali. Terakhir saat Yumna akanpulang dan suara Duta mengahalnginya sungguh masih terasa sekali hatinya tersayat. Tapi, Yumna berusaha tetap tegar dan tegas pada keputusannya.


"Widih ... Baru selesai sesi satu, makannya udah kayak kuli," goda Yuri pada Yumna yang baru saja menghabiskan satu piring nasi uduk dan susu milo hangat.


Yuri hanyamengangguk kecil dan menyeruput es kopi sambil mengunyah roti cokelat.


"Ekhemmm ... Kamu udah denger desas desus kampus?" tanya Yuri kemudian.


"Desas desus apa? Yumna gak pernah mau tahu urusan kampus. Kemarin juga, di tawarin ikut kepengurusan BEM atau untuk prodi, tapi Yumna tolak. Males Ri," ucap Yumna pelan.


"Wah ... Padahal itu salah satu impian kamu, bukan? Kamu mau nunjukkin kalau kamu bisa pada Kak Duta dan semua orang," ungkap Yuri pada Yumna.


"Tapi masalahnya sekarang Kak Duta kan gak ada, Yuri. Terus Yumna mau nunjukkin untuk siapa. Dulu maksud Yumna kan, biar Kak Duta tahu, bahwa kuliah dan organisasi itu bisa berjalan bersamaan tanpa mengabaikan hal lain contohnya ...." ucapan Yumna terhenti. Jujur Yumna malas mengingat masa lalu yang sering membuatnya jengkel sendiri.


"Contohnya kamu sendiri. Sebagai kekasih yang tak di anggap," goda Yuri tertawa kears hingga menutup mulutnya sendiri denagn telapak tangan.

__ADS_1


"Ahhh ... Resek kamu. Ri. Sahabat luknut. Calon kakak ipar yang gaj se -frekuensi nih," ucap Yumna terkekeh sendiri.


Yumna menyeruput milonya dan terdengar suara teriakan dari belakang.


"Hei ... Kamu!" teriak salah satu senior ke arah meja Yuri dan Yumna.


Kedua sahabat itu cukup terkenal di kalangan mahasiswa karena kesayangan salah satu dosen mata kuliah studio. Pekerjaan mereka selalu memuaskan dan mendapatkan nilai terbaik.


Yuri menoleh ke arah Bima yang berteriak tadi.


"Lo manggil gue?" tanya Yuri.


"Ya ... Lo sama cewe cantik di sebelah lo," ucap Bima yang kini menghampiri meja Yuri dan Yumna.


Bima adalah pengganti Alice. Ia adalah ketua BEM yang baru dan Bima hanya mencari mahasiswa dan mahasiswi yang pintar untuk di promosikan menjadi ketua mahasiswa setiap prodi.


"Kenalin gue Bima. Boleh ggue ikut duduk di sini," tanya Bima pada Yuri dan Yumna.


"Silahkan saja, Pak Ketua," ucap Yuri terkekeh.


Yumna melirik sekilas ke arah Bima dan kini menoleh ke arah Yuri seolah meminta penjelasan.


"Kayaknya temen di sebelah lo, gak kenal gue," ungkap Bima dengan ringan tawa yang renyah.


Bima adalah mahasiswa terbaik dari Fakultas Teknik Sipil. Satu angkatan dengan Duta. Ia di pilih oleh Kampus karena membawa nama baik Kampus atas prestasi oleh raganay sebagai Kapten Basket beberapa waktu waktu yang emmenangkan lomba antar propinsi. Posiis Bima menggantikan ALice yang terjerat pada obat haram.


Yuri menatap Yumna dan tersenyum.


"Kamu gak kenal, Na? Ini namanya Bima, Ketua BEM yang baru. Dia gaintiin Alice," ucap Yuri menjelaskan.


"Terus? Hubungannya sama kita apa? Lagi pula kita gak se -angkatan kan?" ucap Yumna ketus.

__ADS_1


"Hemmm ... Gini. Gue dateng kesini, snegaja nyari lo berdua. Karena gue tahu sepak terjang kalian dan nama kalian cukup tenar di Kampus. Gue mau salah satu dari kalian jadi Ketua Himpunan Mahasiswa untuk Prodi Arsitek sekaligus jadi sekertaris gue. Gue butuh orang yang rajin dan ramah," ungkap Bima pada kedua sahabat itu.


"Sorry ... Yumna asda kelas. Kalian lanjut bicara aja. Lagi pula, Yuman gak tertarik sama dunia organisasi," ucap Yumna yang langsung pergi begitu saja meninggalkan Yuri dan Bima di Kantin Kampus.


__ADS_2