Duta & Yumna

Duta & Yumna
113


__ADS_3

Duta menarik napas panjang dan begitu sanagt lega. Akhirnya ia bisa sampai di bandara menunggu pesawatnya yang masih tiga jam lagi. Duta sempat mencari penerbangan lain yang lebih cepat, tapi memang tidak ada lagi. Mungkin waktu tiga jam tidak menjadi masalah untuk Duta. Tapi setlah kejadian di pavilium temapt ia mengontrak Duta menjadi semakin was -was dan memiliki ketakutan tersendiri.


Duta membuka posenlnya dan mengetikan sebuah pesan untuk Nick. Entah mulai kapan, keduanya menjadi berteman dan akur serta akrab. Karena satu -satunya yang paling netral dan memberikan keterangan dengan jelas hanyalah Nick.


"Nick, kamu ada waktu aku ingin meneleponmu sekarang. Kamu benar, Nick," tulis Duta denagn cepat. Duta mearsa dirinya ada yang membuntuti. Hidupnya seperti tak nyaman dan menjadi gelisah sendiri karena cemas.


Ponsel itu masih menyala. Pesan yang Duta kirim sudah terkirim kepada Nick. Hanya saja, Nick belum membalas pesan Duta. Padahal Nick sudah bilang kalau tadi sudah mengantarkan Yumna pulang ke rumah karena Nick ada keperluan lain juga sebelum besok pagi ia akan kembali ke Paris.


"Kenapa gak di baca sih? Padahal ini penting banget," ucap Duta di dalam hatinya lalu memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku.


Memang tempat paling aman adalah kembali ke negara kelahirannya dan berkumpul dengan Yumna, istrinya. Ini adalah harga mati. Tidak ada keputusan yang lebih baik kecuali keputusan yang di ambil Duta saat ini.


***

__ADS_1


Saat makan malam tiba, Yumna sudah berada di rumah. Sejak sore, Yumna sudah kembali karena moodnya tiba -tiba menjadi malas.


Bunda Sinta membiarkan gadisnya yang tengah mengandung itu melakukan apapun yang ia suka. Begitu juga dengan kedua kakak laki -laki Yumna yang sejak tadi menatap aneh tingkah laku Yumna malam ini.


"Na, Lo gak kesambet kan?" tanya Jone tiba -tiba pada adik bungsunya.


"Kesambet apa?" jawab Yumna ketus sambil merobek kulit ayam yang krunchy dan di makan dengan lahap.


"Apaan sih Kak. Mending urus diri sendiri, cari cewek, keburu uzur," ucap Yumna ketus.


    "Yumna!! Mulutnya dijaga. Kamu itu sedang hamil. Kalau bicara yang baik. Kak Jone itu Kakak paling tua. Seharusnya kamu itu bisa menghargai dan emnghormati Kak Jone sebagai pengganti Papah, bukannya malah mengejek. Suka atau tidak suka, Kak Jone itu harus di hormati!" ucap Dafa lantang dengan tatapan mata tajam ke arah Yumna.


Yumna membalas tatapan tajam itu ke arah Dafa. Yumna paling tidak suka diatur -atur. Entah sejka hamil, Yumna lebih senang mengurung diri di kamar dan membuka album foto kenangan bersama Papahnya.

__ADS_1


"Kok malah Kak Jone yang dibela? Bukannya bela Yumna? Kak Dafa sudah kerja sama dengan Kak Jone buat gak suka sama Yumna? Atau Yumna memang harus pergi dari rumah ini? Gitu? Mau Kak Dafa, Yumna pergi?! Yumna akan pergi!!" ucap Yuman penuh emosi sambil menggebrak meja dengan telapak tangannya hingga Bunda Sinta berdiri dan emmeluk Yumna menghalangi keinginan konyol Yumna.


Rumah besar itu adalah rumah ketiga anaknya. Bunda Sinta tidak mau, ketiga anaknya terpecah karean hal sepele.


"Yumna? Yumna sayang Bunda kan? Jangan pergi sayang. Kak Dafa itu sayang sama Yumna. Kak Dafa gak mungkin usir Yumna dari rumah ini," ucap Bunda Sinta berusaha menenangkan kembali hati Yumna. Bunda Sinta berusaha meredaam kembali emosi Yumna yang meletup- letup hingga wajahnya memerah.


"Biarkan saja Bun. Kalau Yumna mau pergi biar dia pergi. Memangnya anak manja seperti dia bisa hidup sendiri? Kak Dafa cuma mau ingetin sama kamu, Na. Kalau kamu ada masalah sama Duta itu selesaikan bukan malah diam! Itu sama aja kamu membiarkan dan masalah kamu gak akan pernah bisa selesai dengan tuntas," ucap Dafa ketus dan pergi meninggalkan meja makan terlebih dahulu.


Jone hanya menatap umna dan Bunda Sinta lalu ikut pergi meninggalkan kedua wanita yang amat ia sayangi.


Yumna hanya bisa terdiam dan tertegun emlihat kedua kakaknya yang malah memarahinya secara tidak langsung bukan memeluk seperti biasanya dan membantu Yumna keluar dari masalahnya.


Tak terasa kedua mata Yumna basah dan air matanya luruh begitu saja tanpa halangan. Dadanya semakin sesak dan sakit rasanay berdebat dengan sang kakak. Selama ini, ia tidak pernah salah paham hingga berseteru seperti saat ini.

__ADS_1


__ADS_2