Duta & Yumna

Duta & Yumna
58


__ADS_3

"Kenapa sih? Kok muka lo gitu amat? Ada apa?" tanya Duta penasaran.


"Kemarin gue lihat, temennya Yumna jalan smaa Bima," ucap Omesh agak ragu. Omesh benar -benar baru ingat soal ini.


"Bima? Ada urusan apa?" tanya Duta mulai cemas.


"Gue pikir ada urusan pribadi. Soalnya wajah siap namanya tadi?" Omesh mengulang pertanyaannya.


"Yuri," jawab Duta cepat.


"Ohh iya, Yuri ... Keduanya terlihat serius banget," ucap Omes lirih.


"Lo jangan bikin gue makin panik dong. Yuri itu calon kaka ipar gue. Kalau ada apa -apa bisa runyam ini," ucap Duta makin bingung.


Baru selesai bicara ponsel Duta berbunyi dan nama Daffa muncul di sana. Ini tengah malam bahkan sudah dini hari, kenapa Kak Daffa teelpon Duta? Ada apa gerangan?


"Gila kontak batin tuh. Lihat, Kak Daffa langsung telepon saat kita ngomongin kekasihnya. Mati lu, Ta," goda Kahfi menakut -nakuti Duta.


"Arghhh sial lu pada," ucap Duta mengumpat kesal.

__ADS_1


Duta mengambil ponsel itu dan mulai berbicara dengan Kak Daffa dengan sopan.


"Iya Kak. Ada apa amlam -malam telepon Duta? Yumna nya juga lagi istirahat, Kak," ucap Duta yang begitu santai berbicara dengan Daffa, Kakak Yumna.


"Ekhemm ... Gini, mau tanay aja. Yuri ada nginep di apartemen lo gak? Soalnya udah dua hari ini ponselnya gak bisa di hubungi," ucap Daffa lirih dan terdnegar cemas sekali. Batin Daffa tidak mau berpikiran buruk, mungkin saja memang menemani adik bungsunya yang super manja itu.


"Emang kenpaa Kak? Lagi berantem?" tanya Duta berusaha tenang. Duta memberikan kode kepada teman -temannya untuk tetap diam dan tidak mengeluarkan suara sedikit pun.


"Gak Ta. Cuma beberapa hari yang lalu, pamitan mau pergi dulu bantu temennya cari kado buat ibunya. Setelah itu gak ada kabar. Ponselnya mati, GPS di ponselnya juga gak bisa di lacak," ucap Daffa bingung.


"Ohhh ... Ekhemm ... Biar Duta dan Yumna ke rumah Yuri ya Kak? Yuri udah lama juga gak main dan nginep di sini. Terakhir lihat Yuri pas kuliah bareng sama Yumna dan sekarang gak lihat lagi. Gimana Kak? Udsah telepon di rumahnya belum?" tanay Duta ikut cemas.


"Kak ... Duta tanya Yumna dulu. Biar langsung bergerak. Lebih baik, Kak Daffa lapor polisi. Nanti Duta telepon, ada hal lain yang harus Kak Daffa ketahui," ucap Duta dengan cepat.


"Oke ta. Gue tunggu kabar baiknya tentang Yuri," ucap Daffa.


Duta menutup sambungan teleponnya dan meletakkan ponselnya.


"Yuri hilang. Gue curiga sama Bima. Maunya apa sih tuh cowok!!" teriak Duta frustasi.

__ADS_1


"Sabar Ta. Kita harus mikir keras ini. Mereka sepertinya sudah tahu permainan kita dan mereka memkaia Bima sebagai alat manfaat mereka," ucap Kahfi menepuk pundak Duta untuk menguatkan Duta.


"Tolong rahasikan ini dari Yumna. Gue gak mau Yumna sakit lagi gara -gara mikirin ini," titah Duta denagn tegas.


"Emangnya Yumna sakit apa, Ta? Parah gitu? Sampai lo kayak ketakutan gitu?" tanya Ega pada Duta.


"Dia banyak menyimpan rasa sakit, kecewa dan tidak meluapkan. Jadi nyerangnya ke saraf otak berakhir depresi. Punya rasa cemas dan rasa takut yang berlebihan," ucap Duta menjelaskan.


"Separah itu?" tanya Andrew tak percaya.


"Iya separah itu," jawab duta bingung.


"Banyakin sabar Ta. Kita semua pasti bantu. Teman -teman, kita cari bukti kuat, kita buka semua aib petinggi kampus dan sementara waktu kita tinggal di sini. Kalau bisa, kita sewa kamar beda lantai malam ini juga tanpa di ketahui siapa pun," titah Omesh pada semuanya.


"Kalau bisa jangan pakai nama Duta. Pakai nama lo aja Lit," ucap Ega.


"Jangan gue dong. Kita bikin nama palsu aja. suruh Yumna yang turun," cicit Ferdi.


"Good job. Gue bangunin bini gue dulu. Kamar ini biarakan begini jangan kelihatan kita pergi," ucap Duta pelan.

__ADS_1


__ADS_2