
Nick dan Arsista akhirnya menikah. Setelah pernikahan mereka di laksanakan. Sesuai janji Nick, ia akan membawa Arsista kembali ke Indonesia dan tinggal menetap di sana. Urusan Papah Wisnu akan ada yang mengurusnya. Papah Wisnu pun sudah mendapatkan pengobatan terbaik. Operasi besarnya juga sudah berjalan sanagt lancar.
"Sudah siap?" tanya Nick pada Arsista yang masih terlihat kaku setelah pernikahan mereka.
"Sudah Nick. Aku sudah siap," jawab Arsista meletakkan koper besarnya di dekat pintu.
Keduanya langsung pergi ke Bandara dan akan melakukan perjalanan yang cukup jauh dan tentunya perjalanan itu akan sangat menjenuhkan sekali.
Nick terlihat santai duduk di salah satu kursi pesawat VIP itu dan Arsista ada dis ebelah Nick. Arsista lebih nampak gugup dan sedikit gelisah.
"Kamu kenapa? Gak nyaman?" tanya Nick menatap Arsista.
"Perutku mulas," ucap Arsista merasa tak nyaman.
__ADS_1
"Yakin?" tanya Nick tak percaya.
"Untuk apa aku bohong Nick. Perutku benar -benar sedang sakit seperti di peras," ucap Arsista semakin ketus.
Bisa -bisanya Nick tidak percaya pada dirinya.
"Karena kamu pandai beralasan dan berbohong padaku, Sista. Apakah masih ada kesempatan bagi orang yang sudah banyak berbohong dan menyakiti orang lain?" tanya Nick menyipitkan kedua matanya.
"Arghhh ... Itu terserah kamu Nick. Mau percaya atau tidak," tegas Arsista yang langsung memejamkan kedua matanya dan emnahan rasa sakit di perutnya.
Rahasia besar sudah terkuak, Bunda Sinta, Jone, Dafa, Yumna dan Duta sudah berkumpul di ruang tengah di kediaman keluarga besar Yumna.
"Jadi semuanya sudah jelas. Kalau semua yang terjadi sudah di rencanakan. Alasannya pun jelas karena sesuatu hal yang menurut kita di luar nalar. Tapi itulah cinta. Cinta itu kadang bisa membutakan segalanya," ucap Jone menjelaskan sambil melirik ke arah Duta.
__ADS_1
"Sudah. Bunda sudah ikhlas. Bunda hanay ingin tahu dan mulai sekarang kita tak perlu lagi membahas soal ini," ucap Bunda Sinta menjelaskan.
"Gimana Na? Kamu mau bagaimana sekarang?" tanya Dafa pada adik bungsunya.
Setelah mengetahui semuanya, Nick juga memberikan penjelasan panjang lebar yang membuat Yumna sedikit tenang. Nick menasihati Yumna untuk tetap bersama Duta. Mneurut Nick, Duta adalah lelaki baik dan bertanggung jawab.
"Na ... Gimana?" tanya Jone mengulang pertaanyaan Dafa tadi.
Yumna menarik napas dalam dan di hembuskan perlahan. Kecap meminta cerai sudah terucap beberapa kali dari bibir mungilnya. Tidak mungkin Yumna menjilat air liurnya sendiri. Gengsi sekali pastinya.
"Yumna mau istirahat dulu. Yumna lelah. Perut Yumna juga keram. Yumna naik duluan," jawab Yumna langsung berdiri dan akan pergi meninggalkan ruang tengah itu.
"Jangan main pergi aja dong. Kamu harus jawab di depan kita semua terutama di depan Bunda. Besok orang tua Duta mau datang, tanya tentang kepastian ini," tegas Jone merangkul Yumna yang sudah akan pergi dari ruang tengah.
__ADS_1
Duta sengaja diam dan tak berkutik membiarkan Yumna mengambil keputusan tanpa bujukan Duta. Saat ini appaun keputusan Yumna, Duta akan menerimanya. Duta tidak akan lagi mencoba untuk mengemis dan mempertahankan rumah tangganya jika Yumna memang sudah tidak ingin di pertahankan.
Yumna melirik ke arah Duta. Rasa cinta itu tentu masih ada di hati Yumna. Duta adalah cinta pertama sekaligus cinta sejatinya. Tidak ada yang bisa menggantikan posisi Duta di hati Yumna. Tapi untuk menarik kembali kata -katanya, apakah Yumna sanggup?