Duta & Yumna

Duta & Yumna
78


__ADS_3

Duta mengangkat istrinya masuk ke dalam ruang IGD sebuah rumah sakit sambil berteriak keras.


"Tolong!! Tolong istriku!!" teriak Duta yang setengah berlari menuju ruang IGD mencari bantuan untuk segera menolong istri tercintanya.


Sebuah brankar langsung di siapkan oleh seorang perawat dan Duta menidurkan sang istri di brankar tersebut. Satu orang dokter jaga langsung memeriksa keadaan Yumna yang sdeang tak sadarkan diri itu.


Duta memukul dinding ruangan IGD itu dengan keras. Bodoh sekali dirinya meninggalkan sang istri sendirian dan terjadilah seperti ini. Menyesal? Tentu iya!! Duta menyesal sekali!! Padahal dirinya akan mengajak Yumna berbelanja pakaian dan kebutuhan Yumna untuk menhadiri acara wisuda nanti. Kalau begini? Bagaimana Duta berharap Yumna datang? Menghampiri dirinya sambil mengucapkan selamat dan memberikan bunga untuk dirinya.


Duta melangkah ke arah dalam lagi dan menatap tubuh mungil yang tergolek lemah di brankar sambil mendekati sang dokter.


"Bagaimana keadaan istri saya, dokter?" tanya Duta lirih.


"Sejauh tidak ada masalah yang serius. Tapi, kenapa bisa tidak sadarkan diri? Apakah dia terjatuh?" tanay dokter itu sambil emmeriksa tubuh Yumna. Apakah ada luka di sekujur tubuhnya.


"Saya kurang tahu, dokter. Kebetulan saya tadi ke kamar mandi dan saya melihat istri saya sudah di bantu beberapa orang dan sya tidak sempat bertanya karena saya panik dan langsung di bawa ke rumah sakit," ucap Duta menjelaskan panjang lebar pada dokter tersebut.


"Ohh begitu. Ya sudah. Istri anda, saya pindahkan ke ruang rawat inap dulu dan kita tunggu hingga siuman," ucap dokter itu pada Duta.

__ADS_1


Duta hanya mengangguk pasrah menuruti apa yang di perintahkan oleh dokter yang memeriksa Yumna.


***


"Kenapa bisa begini, Ta?" tanya Jone dengan kesal.


Jone hanya takut, keadaan ini malah memperburuk kondisi Yumna yang amnesia.


"Maafkan Duta, Kak," jawab Duta lirih dan terlihat pasrah.


Duta sejak tadi duduk di kursi dengan kedua tangan yang di lipat di atas tempat tidur. Kedua mata Duta tak henti menatap Yumna. Duta hanya ingin melihat Yumna siuman dan etrbangun dari tidurnya. Lalu orang yang pertama di lihat adalah Duta.


"Sudah Jone! Jangan menyalahkan dan memojokkan Duta. Dia gak salah. Ini semau takdir, Jone. Kamu jangan main hakim sendiri berteriak keras. Dinginkan kepala kamu," ucap Bunda Sinta menasehati.


"Maafkan kami," ucap Bunda Gita tiba -tiba yang baru datang dan langsung masuk ke ruang rawat inap itu.


Bunda Gita menghampiri Bunda Sinta dan saling berpelukan.

__ADS_1


"Tidak apa -apa. Tidak ada luka, dan kandungannya baik -baik saja," ucap Bunda Sinta memberitahu.


"Alhamdulillah," jawab Bunda Gita merasa lega.


Bunda Gita melepas pelukan itu dan berjalan emnghampiri Yumna yang masih terlihat pulas tertidur dan mengusap pelan punggung Duta untuk memberi semangat dan selalu sabar.


"Yumna pasti sembuh," ucap Bunda Gita pada putra semata wayangnya.


"Iya Bunda. Terima kasih," jawab Duta lirih.


Duta merasa tidak bersemangat saat ini. Ia hanya ingin menemani istrinya hingga terbangun.


***


Yumna membuka kedua matanya dan berlari di taman bunga yang indah dan wangi. Tubuhnya terasa ringan saat ia ingin mengambil bunga mawar merah yang ada di ujung taman itu. Langkahnya terhenti saat namanya di sebut. Yumna mengedarkan pandangannya dan mencari sumber suara itu. Yumna tak menemukan orang yang memanggilnya, tapi suara itu tidak asing saat masuk ke gendang telinganya.


"Yumna!!"

__ADS_1


Kedua mata Yumna terbelalak dan menatap tajam ke arah orang yang ia anggap memanggil namanya.


__ADS_2