
Yumna kembali jatuh dalam lembah kekecewaan. rasa penyesalan datang ke Jepang seolah ia ungkit kembali. Satu bulan bersama Duta dan merawat suaminya menjadi sia -sia karena keinginannya tidak di kabulkan oleh Duta.
Yumna mengabaikan teriaka Duta, panggilan Duta pagi tadi. Saat Duta bilang tidak siap dan tidak mau mengambil resiko besar, di situlah Yumna merasa percuma menjadi seoarang istri yang sudah jelas ia setia dan menerima Duta apa adanya saat ini.
Kini, Yumna sudah berada di Bnadara bersama Yuri untuk kembali pulang ke Indonesia. Yumna mau melupakan semuanya dan melepaskan Duta secara perlahan itu adalah pilihan terbaik saat ini. Untuk apa bertahan? Jika, mimpi Yumna tak di wujudkan sama sekali.
Yumna hanya berpamitan pada Bunda Gita. Yumna tidak bercerita tentang apapun, dan Bunda Gita paham soal itu.
"Kamu sudah yakin dengan keputusan kamu, Na? Kamu tadi gak pamitan sama Kak Duta, lho. Main pergi aja," ucap Yuri kepada Yumna. Sebagai sahabat sekaligus sebagai calon kakak ipar, Yuri menasihati Yumna. Yuri bertuga menemani Yumna, atas permintaan Dafa, kekasihnya dan kedua orang tua Yumna.
Yumna hanya diam dengan punggung bersandar pada sandaran besi kursi tunggu di lobby Bandara, menunggu jadwa penerbangan pesawat mereka yang masish cukup lama.
Melihat Yumna tak menjawab dan hanya diam saja. Yuri kembali angkat bicara dan menasihati Yumna.
"Seharusnya kamu pamitan baik -baik, Na sama Duta. Setidaknya kamu tetap harus menghormati dan meghargai Kak Duta. Bukan begini caranya, kesannya kayak kabur tahu gak sih," ucap Yuri pada Yumna.
"Yumna lagi pengen tenang dan pengen sendiri dulu. Tolong ya, Ri," pinta Yumna pada Yuri.
Yuri mengangguk kecil dan paham dfengan suasana hati Yumna saat ini. Situasisnya tidak seperti kemarin -kemarin dimana Yumna terlihat sangat bahagia dan begitu ceria. Tapi hari ini, seolah Yumna dan Kak Duta memliki masalah pribadi yang membuat Yumna kesal dan marah lalu mengambil keputusan yang simpel sekali.
***
Bunda Gita sudah kembali mengurus dan merawat Duta. Duta terekejut saat Bunda gIta bilang Yumna dan Yurisudah kembali ke Indonesia tadi pagi. Yumna benar -benar marah sampai tidak berpamitan pada dirinya.
__ADS_1
"Kamu mau makan apa, Ta? Biar Bunda siapkan," tanya Bunda Gita pada Duta.
"Bunda, Duta mau ke taman. Biasanya jam segini, Yumna selalu mengajak Duta ke taman dekat sini dan membeli cemilan," ucap Duta dengan raut wajah penuh kesedihan.
Bunda Gita mengusap pelan punggung Duta. Anak lelaki semata wayangnya itu begitu kuat dan tegar sekali menghadapi semua ini.
Tangan Bunda Gita menyentuh tangan Duta yang dingin. Tentu, anak lelakinya kini bertada di fase yang sedang menjadikan dirinya sebagai orang yang tidak baik dan sama sekali tidak berguna. Punggung tangan putra semata wayangnya itu di usap begitu pelan dan lembut.
"Duta ... Kamu harus kuat menjalani ini semua. Sebenarnya ada apa antara kamu dan Yumna? Apakah Yumna meminta cerai?" tanya Bunda Gita pada Duta.
Dengan cepat Duta menggelengkan kepalanya. Yumna memang tidak berpamitan pada dirinya, tapi tadi tidak bicara soal perceraian atau perpisahan.
"Tidak Bunda. Yumna tidak meminta cerai. Tadi pagi, Yumna meminta agar Duta mau memberikan anak," ucap Duta jujur.
"Duta menolaknya dengan berbagai alasan. Alasan Duta yang paling utama karena Duta seperti ini Bunda. Duta pikir, kekurangan Duta ini tidak akan membahagiakan Yumna saat ini. Apalagi jika Yumna benar hamil, Duta harus gimana? Kalau keadaan Duta belum berubah. Duta juga mau mengurus istri Duta yang ngidam, mengantar istri ke Bidan untuk periksa kandungan, itu naluri lelaki yang ingin menjaga wanitanya," ucap Duta lirih. Sudah tak ada lagi air mata yang jatuh ke pipinya. Duta semakin kuat dan tidak serapuh dulu. Kedatangan Yumna benar -benar membuat Duta termotivasi untuk sembuh, untuk pulih dan untuk sehat lagi. Semangat hidupnya kembali berkobar.
Tangan Bunda Gita kini mengusap kepala Duta lembut dan memberanrkan letak rambut yang tidak rapi.
"Bunda tidak mau ikut campur urusan rumah tangga kamu. Bunda juga tidak bisa menyalahkan kamu atau Yumna yang ingin cepat memiliki anak. Mungkin Yumna punya alasan lain,, Ta. Kenapa Yumna bersikeras ingin punya anak. Bisa jadi Yumna ingin kamu tidak melepaskannya. Kadang wanita itu kan merasa takut kehilangan. Apalagi kalian berjauhan, terus misalnya kamu sembuh, dan ada yang lain, lalu melupakan Yumna," ucap Bunda Gita menasihati.
"Duta tidak seperti itu Bunda. tidak mungkin Duta meninggalkan Yumna yang sempurna," ucap Duta berteriak lantang.
"Duta ... Bunda tahu soal itu. Bunda paham dengan perasaan kamu kepada Yumna. Tapi? Yumna sedang di posisi sulit. Yumna ingin menemani dan merawat kamu, tapi kamu yang minta Yumna kembali pulang dan menyelesaikan kuliahnya secepatnya. Pikir Yumna, kalau dia hamil, dia pasti etrikat sama kamu, begitu juga dengan kamu akan terikat dengan Yumna. Nanti kamu bisa kembali ke Indonesia kapan saja, atau Yumna yang bisa datang ke Jepang untuk mengunjungi kamu kapan saja," ucap Bunda mulai menasihati.
__ADS_1
"Terus Duta salah langkah? Seharusnya Duta mengabulkan keinginan Yumna? Gitu?" ucap Duta mulai gusar.
"Tidak salah Ta. Kalau memang kamu merasa belum siap ya gak apa -apa. Kan tadi Bunda bilang, di sini tidak ada yang salah atau benar, tapi kalain butuh komunikasi biar gak salah paham," ucap Bunda Gita dengan suara lembut.
Duta mengangguk kecil. Jujur, ia kecewa dengan sikap Yumna yang pergi begitu saja.
***
Seperti biasanya, Duta belajar berjalan di taman dekat apartemen tempat tinggalnya. Biasanya Duta akan tertawa mendengar celoteh Yumna yang terus emnyemangati Duta untuk terus berjalan maju ke depan dan mengabaikan semua suara yang tidak penting agar Duta tetap bisa fokus.
"Ayo ... Kak Duta, Yumna di sini. Semangat," teriak Yumna dengan keras. Tapi kini suara itu hanya ada di kepalanya saja. Duta hanya bisa mengingat semua kenangan indah dan manis yang sudah Yumna torehkan di hati Duta. Duta mengulum sneyum dan emngingat semuanya. Waktu satu bulan itu ternyata begitu cepat dan terus berakhir di hari kemarin.
Langkah Duta semakin tegas menapaki jalan setapak di taman itu.
"Hai ... Kamu Duta?" tanya seorang perempuan menyapa Duta secara tiba -tiba.
Mendenagr sapaan itu, Duta langsung menghentikan langkah kakinya dan diam di tempat. Duta tidak mengenal suara perempuan itu.
"Maaf anda siapa? Saya memang Duta, tapi saya tidak mengenal anda," ucap Duta pelan.
"Ekhemmm ... Bisa kita bicara sebentar di mana gitu?" tanya perempuan itu pada Duta.
"Maaf ... Kalau saya tidak kenal anda, dan anda tidak membuka identitas anda, saya tidak mau di ajak kemana pun," tegas Duta pada perempuan itu yang kemudian melanjutkan kembali belajar berjalannya meninggalkan perempuan itu.
__ADS_1