Duta & Yumna

Duta & Yumna
123


__ADS_3

Memberikan saran, nasihat, petuah dan masukan itu sangat mudah. Tapi, bagi orang yang menjalaninya itu pasti akan sangat sulit sekali. Saat pikiran dan hati tidak nge -klik dan tidak se -tujuan maka semuanya tidak akan berhasil.


Satu bulan berlalu, Duta masih ettap saja memikirkan Yumna. Ya, Yumna melanjutkan kulaihnya kembali di kampus lama dan Duta membuka usaha bersama teman -temannya yang sudah lulus juga. Merintis sebuah usaha denagn modal nekat saja.


Selama satu bulan ini, Duta dan keempat kawannya sudah berhasil menyewa kantor dan kantor tersebut mulai beroperasi. Mereka ketuk pintu emnawrakan jasa arsitek mereka denagn nilai jual yang standat. Bukan hal mudah membuka suatu usaha yang semuanya tidak memilikipengalaman untuk menjalankan roda perusahaan.


"Ta ... Lo tuh emang cocok jadi bos. Kita semua gak masalah. Lagi pula, perusahaan ini kan ide lo, saham juga, banyak dari keluarga lo. Sudahlah, kita yang penting jalanin dulu, dan mendapatkan hak kita masing -masing," ucap Pras pada Duta.


"Tapi kita perlu musyawarah untuk mencapai mufakat bukan ambil sampel begini. Gak seru. Setiap orang punya kemampuan, Pras. Kita gak boleh egois. Ekhemmm ... Gue cabut dulu ya," ucap Duta kemudian dan pergi dari kantor untuk pergi ke kampus.


"Ta!! Woyy .. Mau meeting," panggil Cahyo denagn cepat sambil membawa tumpukan berkas untuk di rapatkan siang ini.


"Gue pergi bentar doang. Cuma mau lihat si dia," ucap Duta kemudian dan segera menuruni anak tanggadan masuk ke adalm mobilnya.

__ADS_1


"Susah kalau punya temen lagi jatuh cinta," ucap Cahyo menggelengkan kepalanya.


"Bukan jatuh cinta, Yo. Tapi mau rujuk lagi sama Yumna. Yumna itu kan lagi hamil, wajar dong kalau Duta itu khawatir," ungkap Pras jujur.


"Ya udah sih, kalau Yumna udah minta pisah. Ngapain juga masih ngemis sih, si Duta. Udah tahu Yumna gak mau, masih aja di kejer," ucap Cahyo yang paling tidak suka punya cewek ribet modelan Yumna yang manja.


"Mereka belum cerai. Mereka masih berstatus suami istri. wajar dong, kalau Duta masih berharap pernikahannya gak kandas," ucap Pras membela Duta.


Pras hanya meneghela napas panjang dan membuka berkas -berkas yang ada di meja untuk melihatnya.


Duta memarkirkan mobilnya di dekat kantin kampus. Yuri mengirim pesan bahwa saat ini Yumna berada di kantin bersamanya dan sedang makan dengan lahap.


Duta hanya ingin memastikan Yumna baik -baik saja saat ini. Kandungannya juga semakin terlihat semenjak usia kandungannayh beranjak empat bulan.

__ADS_1


"Na? Laper?" tanya Yuri menatap Yumna yang lahap seperti orang kelaparan.


"Banget Ri," ucap Yumna terus menghabiskan makanan yang ia pesan.


Yuri hanya menggelengkan kepalanya pelan. Yumna benar -benar seperti orang kelaparan. Terkadang mau masuk kelas masih saja mengunyah cemilan yang ia beli dari kantin.


"Ngomong -ngomong lo gak kangen sama Kak Duta?" tanya Yuri pelan sambil mengaduk es susu cokelatnya.


Yumna menoleh ke arah Yuri, sahabatnya. "Sejak kapan kamu keinget kak Duta? Yumna aja gak mau inget -inget," ucap Yumna ketus.


"Tapi lo lagi hamil, Na. Anak lo tetep butuh kasih sayang bapak biologisnya," ucap Yuri menasehati.


"Udah deh. Gak usah bikin selera makan siang Yumna jadi hilang" tegas Yumna menyeruput es susu putihnya. Yumna meletakkan alat makannya dan malas melanjutkan makan siangnya. Selera amkannya hilang seketika.

__ADS_1


__ADS_2