
Jejak sosok tersebut tidak ada sama sekali. Entah kemana perginya dan ada dimana sebenarnya sosok itu bersembunyi. Jelas ia merasa panik jika ada yang mengikutinya. Andrew pasang muka tenang dan santai seolah memang dia tidak mencari siapa -siapa dan sibuk dengan bukunya lalu pergi begitu saja tanpa ingin tahu keberadaan sosok misterius itu.
ANdrew pergi ke koperasi kecil yang ada di dalama kampus, letaknya di lobby kampus. Koperasi itu menjual kebutuhan mahasiswa seperti kertas berlogo atau hand out dan modul untuk kuliah yang di titipkan dosen agar di perbanayak dan di beli oleh tiap mahasiswa yang mengambil mata kuliah tersebut. Koperasi itu juga menjual beberapa roti dan minuman ringan. Untuk menghilangkan kegugupannya Andrew amsuk kesana dan berpura -pura membeli roti dan minuman serta modul salah satu dosen yang ia kenal secara asal.
***
Ariel dan Ega masih berada di lokasi belakang kampus. Mereka kembali berpura -pura menjadi mahasiswa pencari kost. Target mereka kali ini ibu -ibu tua. Biasanya akan jujur bicara. Tepat sekali, di dpean ada seorang ibu tua yang usianya sudah lima puluh tahunan ke atas dan Ega berpura -pura kesakitan di bagian perut.
"Haduh Riel gue gak kuat nih. Lo kalau mau jalan cari kost cari aja. Gue tunggu di sini deh. Biar duduk di sini," ucap Ega merintih kesakitan.
Ariel yang terkejut karena tidak ada aba -aba sebelumnya. Ariel kira Ega betulan sakit perut. Setahu Ariel memang Ega punya penyakit maag yang sering kambuh.
"Ga? Lo kenapa Ga? Ya Allah Ga? Maag lo kumat ya?" ucap Ariel panik hingga ibu tua itu keluar emmbuka pagar dan ingin membantu Ega.
"Itu temannya kenapa Dek? Sakit? Sini bawa masuk dulu biar Ibu buatkan teh panas," ucap Ibu tua itu ikut membantu Ega untuk berdiri dan membawa masuk ke dalam lalu duduk di kursi yang ada di teras.
Ibu tua itu masuk ke dalam dan membuatkan du gelas teh manis dan mengeluarkan roti cokelat sobek yang di letakkan di atas nampan.
"Hanya ada ini Dek. Coba di makan dulu untuk mengganjal perut dan menghangatkan perut kalian. Kebetulan ibu gak masak hari ini jadi gak bisa kasih kalian makan," ucap Ibu tua itu tersenyum tulus.
"Bu ... Ini juga udah bersyukur banget. Saya makan ya Bu?" ucap Ega dengan cepat mengambil teh manis dan roti membuat kedua mata Ariel membola melihat kerakusan Ega. Baru saja Ega itu makan siang di warteg bersama Ariel dan Ega menghabiskan dua piring nasi porsi besar, ini masih ambil roti sobek dan menikmatinya seperti orang kelaparan.
"Ga? Maag lo kambuh? Apa jiwa kemskinan lo lagi meronta -ronta," tanya Ariel polos tanpa tahu maksud Ega.
"Gu ecapek jalan akkai dari pagi mana belum makan. Wajar kalau maag gue kambuh," ucap ega sambil emngedipkan satu matanya.
Ariel menatap aneh Ega. Ia tidak paham kode keras dari Ega.
"Mata lo kelilipan Ga?" tanay Ariel polos tak paham.
Ega melengos kesal dan emnatap Ibu tua yang sedari tadi melihat keduanya secara bergantian.
__ADS_1
"Maaf Bu. Disini ada kost?" tanya Ega pelan.
"Buat siapa?" tanya Ibu tua itu pada Ega.
"Buat kita berdua Bu. Kita ini mahasiswa semester akhir. Maunya cari yang deket kostnya, karena kendaraan kami sudah kami kembalikan pada orang tua, biar gak repot pindahannya lagi nanti," ucap Ega menjelaskan sambil mengunyah nikamt roti sobek rasa cokelat itu.
"Ekehmm ... Ibu ada tiga kamar kosong. Kalau mau di sewa boleh. Tapi, lihat saja rumah Ibu seperti ini, tidak bagus, dan tidak bisa memberi fasilitas baik di sini," ucap Ibu tua itu pada Ega dan Ariel.
"Gak apa -apa Bu. Kita malah mau ngucapin terima kasih sudah bis akost disini. Cuma Ibu yang mau nerima kami tanpa banyak tanya. Kami itu yang penting ada tempat tinggal, bisa tidur tenang, hidup kenyang dan di jalani dengan tenang sambil ngerjain skripsi biar cepet selesai dan lulus tepat pada waktunya." ucap Ega tersenyum senang.
"Mau lihat tempatnya?" tanya Ibu tua itu agak cemas juga.
"Boleh. Ibu kenapa ya, kayak orang bingung," tanya Ega ikut penasaran apa yang terjadi sebenarnya.
"Ekhemmm ... Kalian masuk saja dulu. Nanti, ibu jelaskan di dalam," ucap Ibu tua itu pada Ega dan Ariel.
Ega, Ariel dan Ibu tua itu masuk ke dalam rumah. Ega dan Ariel nampak terkejut karena rumah itu kosong. Hanya ada tikar tipis dan TV di lemari.
"Maaf ya Dek. Begini adanya. Ibu memang bukan orang mampu jadi tidak bisa merenovasi rumah ini," ucap Ibu tua itu sendu.
Ibu tua itu nampak tersenyum ikhlas. Ia tidak tahu berapa rupiah harus memberikan harga untuk kamar jelek dan dingin serta bau apek itu.
"Kampung ini hanya akan ada beberapa bulan lagi. Semua orang sudah mendapatkan uang untuk relokasi. Berhubung Ibu tmenolak untuk di relokasi, Ibu tidak di bayar lahannya tapi akan tetap di gussur. Sungguh keji sekali," ucap Ibu tua itu dengan mata yang muali berkaca -kaca.
"Memangnya ada apa Bu? Kenapa sampai di relokasi?" tanya Ega mulai menari perhatian cerita Ibu tua ini. Untung saja targetnya tepat sasaran.
"Disini aka di buat tempat karaoke terbesar dan kampus kalian juga sudah ada ijin untuk di ambil alih dan akan di bangun mall serta hotel," ucap Ibu tua itu menjelaskan.
"Lalu? Kampus pindah?" tanya Ega bingung sendiri.
"Kampusnya tinggal nama. Kalian harus mencari kampus lain," ucap Ibu tua itu terkekeh.
__ADS_1
Ega dan Ariel saling berpandangan dan diam. Ini benar -benar informasi musibah.
***
Yumna terbangun dan mendengarkan pembicaraa, Duta, Ferdi dan Lita dari belakang dinding kamarnya yang menghubungkan dengan ruang tengah.
Duta pikir Yumna masih pulas tertidur akibat obat tidur tersebut. Yumna berjalan mengendap dnegan langkah di seret sambil menutup mulutnya agar tak bersuara. Paling tidak percaya, saat Duta bercerita tentang kondisi Yuri yang kritis dan kini mendapatkan perawatan khusus di ruang ICU sebuah rumah sakit.
"Apa?! Yuri kritis? Dan info ini sengaja kalian sembunyikan dari Yumna agar Yumna sama sekali gak tahu?! Gitu?! Jahat kalian!!" teriak Yumna keras sambil menangis.
Duta terkejut dengan suara lantang Yumna yang tiba -tiba ada di ruang tengah.
"Kamu sudah bangun sayang? Mau makan?" tanya Duta lembut dan berdiri ingin memeluk Yumna.
"Kamu jahat Kak!! Kmau tega bohongin Yumna!! Ini masalah sahabat Yumna. Tapi, Kakak sama sekali cuek," ucap Yumna salah paham.
"Kamu salah Na. Kakak gaak cuek. Kakak cuma gak mau kamu ikut sakit denger kondisi Yuri. Itu aja. tolong ngerti Na. Kita ini ingin di pisahkan oleh seseoarng. mereka cari cara agar kakak terpuruk dan tidak bisa menemani kamu lagi," ucap Duta menjelaskan dududk perkaranya.
"Siapa? Siapa yang jahat sama hubungan kita?!! Siapa?! Semua orang sennag lihat kita, semua orang iri dengan hubungan kita?!" ucap Yumna lantang.
"Justru itu Na. Justru karena mereka iri, mereka ingin membuat kita tidak bahagia dan berpisah," ucap Duta menjelaskan.
Yumna menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Kakak jahat!! Atau jangan -jangan memang kakak yang ingin hubungan ini berakhir?! Hah!! Jahat kamu, Kak!!" teriak Yumna keras dan berlari keluar dari kamar apartemen itu menuju lift.
Duta langsung ingin mengejar namun dicegah oleh Ferdi.
"Biar gue yang ngejar Yumna," ucap Lita cepat lalu berlari menuju lift dan terus berlari menegjar Yumna yang ingin pergi ke rumah sakit.
Citt ...
__ADS_1
BRUK!!
"Arghhh!!" suara lantang yang begitu pekik hingga suara itu menghilang.