
Yumna tak tahan lagi menahan air matanya. Kata -kata Duta begitu menghayutkan batinnya. Air matanya deras luruh begitu saja saat menatap Duta dari layar TV besar. Duta sedikit menahan sesak di dadanya yang juga di rasakan Yumna. Betap tulus cinta dan sayang lelaki itu pada dirinya. Lihat, di saat Duta sedang berbahagia saja, ia tidak bisa menampakkan rasa bahagianya karena batinnya tersiksa serta pikirannya kacau selalu tertuju pada Yumna.
Rangkaian acara wisuda pada hari ini telah selesai. Senyum bahagia dan lebar dari setiap widawan itu begitu memperlihatkan bahwa mereka berhakmendapatkannya karena menuntaskan pendidikan mereka di jenjang strata satu ini. Bukan hal mudah untuk mencapai di titik ini tapi bukan juga hal yang sulit. Setiap ada kemauan pasti ada jalan yang terbuka lebar untuk kita.
"Duta!!" teriak beberapa teman satu angkatan dan kakak tingkat yang mengenal Duta secara serempak.
Duta menoleh ke arah teman -temannya dan ikut tersenyum bahagia.
"Heii ... Kalian belum keluar?" tanya Duta pada teman -temannya dan menatap semua teman wisudanya satu per satu. Sudah di pastikan setelah ini mereka tidak akan pernah lagi bertemu walaupun berada dalam satu kota yang sama. Seperti yang sudah -sudah, setelah lulus dan menjadi alumni, tentu masing -masing orang memiliki kesibukan dan mencari jati dirinya sendiri lalu berusaha keras untuk menjadi orang sukses, baru setelah beberapa tahun atau bahkan beberapa puluh tahun lagi mereka akan bertemu di tempat yang tak di sengaja dan ada dua opsi, satu mereka saling memotivasi dan opsi kedua mereka saling menyombongkan diri denagn smeua yang mereka miliki dan yang telah mereka capai selama ini. Realita. bukan?
"Kita foto bersama Dut," ucap seorang Kakak angkatan Duta yang sejak dulu mengidolakan Duta.
"Oke. Kita semua," ucap Duta memberikan penjelasan.
__ADS_1
"Ya kita semua," ucap kakak tingkat yang tak dikenal oleh Duta tapi begitu terlihat sangat baik mengenal Duta.
Beberapa orang berjajar berdiri di belakang dan berjongkok di depan mengambil posisi dan memperlihatkan plakat kelulusan yang mereka bawa lalu berpose dengan beberapa gaya.
Tidak ada yang pernah tahu, bagaimana kehidupan mereka setelah ini.
"Terima kasih Kenalin namaku Arsista," ucap Kakak angkatan itu mengulurkan tangannya.
Bisa di bayangkan selama ini ia mengidolakan Duta dan hanya menatap Duta dari kejauhan saja. Saat ini, Arsista mendapatkan kesempatan untuk bertemu langsung dengan Duta, bahkan bisa berfoto bersama.
Duta sekials melirik ke arah Arsista yang tersenyum ke arahnya penuh arti. Duta bergegas pamit dari sana dan pergi dari sana secepatnya.
"Orang tuaku sudah menunggu. Aku harus ke rumah sakit disnaa, istriku masih sakit," ucap Duta menjelaskan kondisi Yumna dengan tegas.
__ADS_1
"Iya Ta. Salam buat orang tua kamu, keluarga kamu dan Yumna. Semoga Yumna cepet sembuh dan pulih lagi. Sukses terus buat kamu, ya Ta," ucap salah seoarng teman Duta yang pernah satu kelas dengannya waktu mengambil mata kuliah studio akhir.
"Iya. Makasi ats doa dan dukungannya. Aku akan mengenang semua kenangan kita di mata kulaih studio akhir, sampai kita lembur dan pulang pagi cuma buat mandi dan cari sarapan," ucap Duta tertawa kecil mengingat smeua yang pernah dia alami.
"All ... Itu smeua memang indah Ta. Gak akan terulang lagi, kecuali kerjaan kita nanti masih berkutat dengan raancangan dan maket, kita harus siap lembur," ucap temannya itu terkekeh.
Mereka saling berpelukan dan saling melepaskan lalu Duta pergi.
"Duta ... Ini buat kamu. Maaf kalau gak bagus. Tapi aku pengen kamu menyimpannya. Mungkin suatu hari kita isa ketemu lagi," ucap Arsista memberika sebuah slayer rajut buatan tangannya.
Duta menatap slayer tersebut dan tak mau menerimanya. Duta menggelengkan kepalanya pelan.
"Sorry ... Aku gak bisa nerima pemberian kamu. Kamu tahu aku sudah punya istri dan ada hati yang harsu aku jaga, walaupun dia tidak tahu, tapi aku tidak akan membiarakn hatiku selalu di geluti arsa bersalah hanya karena slayer ini," ucap Duta jujur.
__ADS_1
"A -aku tidak bermaksud apapun Ta. Aku selama ini hanya mengidolakan kamu karena kamu hebat. Tidak lebih dari itu. AKu tahu kamu punya istri, dan aku bukan tipe perempuan yang mau merebut atau mengganggu hubungan orang. Kamu salah Ta," ucap Arsista tegas. Pemberiannya ini memnag hanaya sebuah kenang -kenangan saja. Tidak lebih. Mungkin Duta terlalu pembelajaran dalam hidup. Tidak mau memberikan celah sekecil apapun yang bisa merusak hubunagnnya dengan Yumna.