Duta & Yumna

Duta & Yumna
139


__ADS_3

Yumna duduk di teras taman di samping ruang tengah. Seperti biasa, Yumna paling senang melihat bintang -bintang yang bertaburan di langit.


Malam ini langit begitu cerah sehingga semua bintang bisa terlihat indah kelap kelip berdampingan dengan bulan purnama yang bulat seperti kuning telur asin.


"Susu hamil jangan sampai lupa di minum," titah Duta pada Yumna sambil memberikan satu gelas susu yang masih hangat.


Tugas Duta setiap malam adalah membuatkan istri manjanya itu segelas susu hamil rasa mocca.


"Terima kasih Papah Duta," goda Yumna sambil menerima susu itu dan langsung di minum hingga habis tak bersisa.


"Sama -sama Mama Yumna. Wah ... Langsung habis," ucap Duta sennag dan mengambil gelas tersebut dari tangan Yumna dan di letakkan di meja taman.


Yumna masih mendongak ke atas sambilmerasakan angin smeilir malam yang sedikit dingin menerpa kulit mulusnya.


"Kamu bahagia kan, Na?" tanya Duta lembut yang duduk tepat di samping Yumna.

__ADS_1


Yumna menoleh ke arah Duta dan menyandarkan kepalanya di bahu Duta dengan manja.


"Tidak ada pertanyaan lain? Selain bertanya soal itu?" tanya Yumna lirih sambil memainkan jari jemari Duta.


Tangan kiri Duta langsung merangkul pinggang Yumna dan membuat istrinya lebih nyaman dan sedikit hangat.


"Tidak cuma perempuan yang butuh kepastian. Lelaki pun juga butuh kepastian dan pengakuan. Bedanya lelaki masih bisa mnegontrol diri sedangkan wanita lebih terlihat agresif dan menggebu -gebu," ucap Duta pada istrinya.


"Lalu hubungannya dengan kebahagiaan apa?" tanya Yumna kemudian lalu memeluk perut Duta sambil mendongakkan wajahnya menatap Duta yang semakin terlihat tampan sekali.


"Tentu saja Kak. Bukankah semakin banyak ujian dan cobaan malah membuat kita semakin kuat," ucap Yumna pada Duta.


"Semoga memang begitu adanya," jawab Duta mencium kening Yumna dengan penuh kasih sayang.


"Kak ... Tadi ada Kak Arsista. Kalian tidak saling menyapa?" tanya Yumna penasran. Sikap Duta tadi seperti orang angkuh dan tak mengenal Arsista. Padahal, Arsista adalah mantan anak bosnya.

__ADS_1


"Untuk apa, Na. Kalau Kakak bilang kita gak ada hubungan itu tandanya memang tidak ada. Kakak gak mau menyapa. Karena kita gak punya urusan apapun. Lagi pula Kakak hanya punya urusan dengan Nick," ucap Duta menjelaskan.


"Setidaknya menyapa Kak," titah Yumna lembut.


"Kamu masih bisa berbaik -baik dengan Arsista? Dia dan Papahnya dalang pembunuh Papah kamu, sayang. Kakak masih gak bisa terima itu," ucap Duta penuh emosi.


"Yumna, Kak Jone, Kak Dafa dan Bunda masih biosa memaafkan," ucap Yumna lembut.


"Gak. Jangan paksa Kakak untuk memaafkan wanita iblis seperti Arsista. Gara -gara dia, kita pernah hancur, Na. Kakak gak bisa memaafkan dia," ucap Duta semakin kesal.


***


"Nick!! Nick!! Buka pintunya Nick!! Jangan lakukan ini padaku, Nick. Lebih baik jebloskan saja aku ke penjara, di bandingkan aku di perlakukan seperti anjing!! Nick!!" teriak Arsista terus mengiba dan memanggil nama Nick.


Nick hanya mengulum senyum dan pergi menjauhi kamar yang di pakai khusus untuk memasung kakai dan tangan Arsista.

__ADS_1


Hati Nick juga hancur melihat Yumna yang bahagia denagn Duta. Tapi, Nick lebih sakit melihat Yumna yang menangis. tangisan itu harus di bayar tuntas oleh Arsista.


__ADS_2