Duta & Yumna

Duta & Yumna
144


__ADS_3

"Kak Duta marah?" tanya Yumna menatap raut wajah suaminya yang mulai berubah sedikit memerah karena menahan marah dan cemburu.


"Menurut kamu? Apa Kakak harus terlihat tetap baik -baik saja, mendengar berita yang membuat Kakak syok? Kalau bisa minta, Kakak sudah minta agar jantung Kakak berhenti berdetak se -persekian detik untuk mengontrol emosi Kakak," ucap Duta jujur. Lebih baik Duta ungkapkan semua perasaannya sekarang. Untuk apa di tutup -tutupi malah menyakiti dirinya sendiri.


"Tapi kita cuma makan kok, Kak. Waktu itu Yumna telepon Kak Duta. Tapi Kak Duta sibuk ada klien katanya," ucap Yumna membela diri.


"Tidur yuk," titah Duta langsung mengakhiri tema pembicaraan yang kurang menyenangkan ini.


Yumna langsung berdiri dan berjalan keluar dari ruang kerja Duta. Duta merangkul Yumna agar hatinya tetap tenang.


Ceklek ...


Pintu kamar tidur itu telah di tutup dan di kunci. Yumna duduk di tepi ranjang dan menaikkan kedua kakinya ke atas kasur lalu menarik selimut. Duta melepas kaos oblongnya dan ikut berbaring di samping Yumna sambil mematikan lampu tidur hingga kamar itu gelap dan hanya menyisakan sorot lampu dari arah luar yang masuk melalui celah hordeng yang tak tertutup rapat.

__ADS_1


Yumna memiringkan tubuhnya dan memeluk perut Duta yang sudah memejamkan kedua matanya. Duta membuka kembali matanya dan melirik ke arah istrinya yang sedang menatapnya.


"Maafin Yumna, Kak," ucap Yumna lirih.


Tangan Duta menepuk punggung tangan Yumna dan tersenyum lebar.


"Sudah di maafkan. Tidurlah Na. Besok kamu harus ke kampus pagi, bukan," titah Duta lembut.


"Iya Kak. Makasih ya," jawab Yumna masih ragu dengan jawaban Duta barusan. Yumna mencoba percaya dan memejamkan kedua matanya lalu tidur pulas hingga pagi.


***


Sudah beberapa hari ini, Arsista tak lagi di pasung di ruang khusus. Arsista lebih di manusiakan dan kini tinggal satu atap dalam satu kamar yang sama denagn Nick. Tentu saja denagn penjagaan yang super ketat sekali.

__ADS_1


Arsista menatap kaca besar yang memperlihatkan pemandangan kota besar dari lantai atas yang begitu indah. Lampu warna warni yang menghiasi jalanan dan gedung -gedung bertingkat menambah kecantikan gemerlapnya malam.


Arsista melipat kedua tangannya di depan dada. Tubuhnya yang langsing dan putih hanya terbalut lingerie tipis berenda berwarna hitam. Kulitnya yang bersih semakin terlihat sexy dan mempesona.


Brak!!


Nick masuk ke dalam kamar pribadinya dan menutup pintu kamar itu dengan sangat keras. Ia berjalan menuju tempat tidur denagn tubuh yang sempoyongan dan bau alkhohol.


Setiap malam selalu seperti ini. Arsista akan mengurus Nick selama berada di dalam kamar. Membersihkan tubuh Nick yang kotor dan berkeringat, mengganti pakaian dan mengelap muntahan akibat terlalu banyak minum.


Nick tidur terlentang di tempat tidur. Tubuhnya menguasai kasur empuk yang bersih itu sambil melepaskan dasi yang masih terikat kencang di lehernya.


"Yumna!! Yumna!!" teriak Nick yang masih saja teringat Yumna, sahabatnya. Cintanya terlalu dalam pada Yumna.

__ADS_1


Arsista sudah biasa melihat pemandangan ini dan sama sekali biasa saja. Arsista malah merasa kasihan kepada Nick. Biar bagaimana pun juga, Nick sudah baik mau membantunya menjadi lebih baik lagi.


__ADS_2