Duta & Yumna

Duta & Yumna
69


__ADS_3

Semua memejamkan kedua matanya dan tak ingin melihat ke bawah.


Daffa yang tersadar lalu berlari dan mengangkat tubuh Yumna yang tersangkut di pagar pembatas. yumna berhasil berpegangan pada besi panjang dan terus berteriak histeris.


Duta dan Jone juga ikut membantu mengangkat tubuh Yumna.


Lukas nekat emnjatuhkan diir ke bawah bersama Yumna. Ia pikir Yumna masih ada dalam dekapannya, nyaatanya Yumna berhasil selamat.


"Na!!" teriak Duta histeris sambil memeluk tubuh Yumna dengan erat dan menciumi berulang kali hingga tubuh gadis itu lemas lalu tidak sadarkan diri.


"Bawa Yumna cepat!!" teriak Dafa frustasi emlihat adiknya begitu pucat dan dingin di sekujur tubuhnya.


Yumna sudah berada di ambulance bersama Duta, Dafa dan Jone. Duta memegang tanagn Yuman yang sudah dingin. Selang oksigen sudah di pasangkan di hidung Yumna, namun tetap saja, napas Yumna sepertyi tersengal, namun tidak sadarkan diri.

__ADS_1


tak berselang lama, Yumna sudah di pindahka ke ruang IGD. Dokter meyarankan ada bedah atau operasi besar di kepala Yumna karena ada darah beku yang menyumbat aliran oksigen ke otak. Jika di diamkan maka pasien bisa meninggal secara mendadak.


"Bagaimana? Kita tak banyak waktu lagi," tanya dokter itu dengan tenang.


"Kesempatan untuk berhasil?" tanya Papah Yumna dengan suara berat dan berusaha tegar.


"Lima puluh lima puluh, tapi kami akan berusaha semaksimal mungkin," jawab dokter itu sedikit ragu.


"Lakukan yang terbaik untuk istriku, dokter," ucap Duta menangis.


Keluarga Yumna sedang berduka sedalam -dalamnya. Begitu juga dengan keluarag Duta. Bunda Gita sejak tadi memeluk putanya dengan erat.


"Kalau Yumna butuh nyawa, Duta siap berikan asal Yumna bisa hidup lagi!!" teriak Duta frusatasi dan berteriak keras hingga suaranya menggema di lorong itu.

__ADS_1


Duta berdiri dan memeluk pintu operasi itu. rasanya tak tega meliaht Yumna masuk ruang operasi tadi. kedua matanya tertutup, wajahnya pucat dan kulitnya dingin sedikit memutih.


"YUMNA!!!" teriak Duta hiseris dan terduduk di depan pintu kamar operasi. Hatinya hancur lebur. Melihat kondisi Yumna yang sedang tidak baik -baik saja.


Duta menatap kedua tangannya seolah masih memeluk tubuh Yumna yang lemas seeprti tadi. Baru saja ia bahagia menemukan istrinya. Kini, hatinya sudah harus menangis lagi mendengar kemungkinan Yumna sembuh itu kecil.


"Ini salah Duta, Bunda!! Salah Duta!! Duta terlalu cinta pada organsiasi. Duta selalu mengabaikan Yumna dulu. Ini karma untuk Duta!! Duta gak mau kehilangan Yumna!! Dia wanita yang selalu ada buat Duta!! Yumna!! Bangun Yumna!!" teriak Duta semakin frustasi.


Bunda Gita memeluk putra semata wayangnya dengan erat dan mengusap kepalanya lembut. Tak pernah Bundanya melihat Duta yang tegas menjadi frustasi seperti ini.


"Yumna pasti sembuh, ta. Kita berdoa saja. Bukan malah mennagis, atau menyesali yang sudah terjadi. Ini semua takdir, Ta. Kamu harus ikhlas apapun yang terjadi. Itu harus, Ta. Harus!!" bisik Bunda Gita pada putranya.


Duta menggelengkan kepalanya pelan dan emngusap air matanya dengan asal menggunakan punggung tangannya.

__ADS_1


"Tidak Bunda!! Duta tidak akan bisa ikhlas!! Duta mau bawa Yumna ke Paris. Dia mau ke Paris, naik kereta gantung, naik ke atas menara Eiffel dan duduk berdua di balkon sambl menatap lampu kota Paris yang indah. Kita honeymoon, Bunda. Yumna mau punya anak, Yumna siap jadi ibu. Yumna sudah janji sama Duta," ucap Duta terus menangis di peluakn Bunda Gita.


__ADS_2