
Di dalam markas besar, satu orang pemimpin dengan gaya arogannya duduk di salah satu sofa dengan satu gelas martini di tangannya.
"Kalian sudah bereskan?" tanya bos besar yang selama mereka kenal sebagai pria keras, garang dan arogan serta keji.
"Soal itu sedang dalam proses, Bos. Tapi ada masalah baru, dia kembali dan ingin menggagalkan rencana besar kita," ucap salah satu anak buahnya itu.
Markas besar dengan lambang samurai itu telah di penuhi beberapa anggota inti mereka.
"Jadi anda Bos Besar kami yang kami kenal selama ini?" ucap salah satu anak buahnya yang begitu kagum dengan penampilan Bosnya itu. Mereka selama ini hanya mengenal dengan sebutan dengan nama Bos Geji, alias Garang dan keji.Tidak ada ampun jika berurusan dengan mafia ini, pasukan berani mati, pokoknya. Lelaki muda, ambisius, obsesi tinggi, tak mau terkalahkan dan licik.
"Kau pikir aku hanya ilusi? Tak pernah ada? Hah!! Lalu jika aku tak ada, siapa yang bisa membayar kalian mahal? Menggaji kalian setiap bulan hingga kalian bisa berpesta setiap malam?" ucap Bos besar itu dengn sikap sombongnya.
"Maafkan kami, Bos. Kami hanya terkejut, takjub sekaligus senang, bisa bertemu dengan anda," ucap anak buah itu sambil menganggukkan kepalanya dengan sikap hormat dan sopan.
"Malam ini kita eksekusi satu per satu sesuai dengan rencana yang sudah kita buat. Aku tahu ini bukan hal mudah, tapi kalian pasti bisa melakukannya dengan baik. Aku akan memberikan hadiah yang sangat besar jumlahnya, atau kalian bisa pilih sendiri hadiah apa yang kalian mau," ucap Bos besar itu denagn kaca mata hitam menutupi kedua matanya sambil menenggak sisa martini di dalam gelasnya.
Semua anggota inti yang berada disana mengangguk paham dan saling melirik satu sama lain. Ini sama saja mereka bertarung dengan teman sendiri untuk menunjukka kehebatan mereka. Bukan lagi pekerjaan yang bisa di lakukan secara bersama dan saling support.
"Kapan kami boleh mulai eksekusi? Wanita ini di musnahkan dan lelaki ini?" tanay anak buahnya itu.
__ADS_1
"Lelaki itu musnahkan. Wanita itu kurung saja dulu," ucap Bos besar itu dengan senyum smirknya penuh kelicikan.
***
Yumna dan Duta sengaja ingin emnikmati waktu berdua saja. Duta membawa Yumna ke sebuah bukit yang dulu sering mereka sambangi saat sepulang sekolah.
"Bukit cinta?" tanya Yumna dengan mata berbinar.
Bukit dengan sejuta kenangan indah. Banyak cerita disini, saat Duta masih perlahan mendekatinya dan belum mengungkapkan rasa cinta dan sayangnya pada Yumna.
"Apa yang kamu ingat tentang bukit cinta?" tanya Duta penuh semangat melihat Yumna yang terlihat sangat bahagia.
"Itu semua kesukaanmu. Coba kamu buka dashboardnya lalu ambil apa yang ada disana," titah Duta pada Yumna.
Saat mengisi bahan bakar mobil, Yumna ijin untuk ke toilet dan Duta membeli apa yang Yumna suka. Yumna membuka dashboard itu lalu melihat ke dalamnya.
"Bunga dan cokelat? Kak Duta? Ini buat Yumna?" tanya Yumna penasaran.
"Ya iyalah buat kamu, Sayang masa iya buat yang lain? Memang di bolehin kalau Kakak mau kasih cokelat dan bungan buat yang lain?" goda Duta tertawa keras.
__ADS_1
"Boleh kok, asal Yumna udah mati," jawab Yumna ketus dan lantang sekali.
Seketika Duta menghentikan laju mobilnya dan menatap Yumna yang asal bicara.
"Jangan suka asala bicar. Gak baik, Na. Jangan pernah seperti itu lagi. Kakak gak suka," ucap Duta terlihat marah dan tak suka.
"Kakak bercandanya kelewatan," jawab Yumna ketus.
"Maafin Kakak, sayang. Tadi kakak hanya bercanda. Percaya tidak ada wanita lain selain kamu, Na," ucap Duta berusaha meyakinkan pada Yumna.
Duta memeluk Yumna dari arah samping dan membawa kepala Yumna dalam dadanya sambil mengusap pelan pucuk kepala Yumna.
"Jangan pernah bicara apapun, Na. Apalagi soal kematian. Cinta kita memang hanya terpisahkan oleh maut. Tapi, Kakak hanay ingin maut itu merenggut kita secara bersamaan, bukan masing -masing atau salah satunya. Kamu tahu Na? Ditinggalkan itu rasanya berat dan tidak enak, di bandingkan yang meninggalkan. Karena yang meninggalkan lebih siap dan memiliki tujuan yang jelas," ucap Duta menjelaskan.
"Yumna kan sudah janji tidak akan pergi dari Kak Duta sampai kapan pun, apapun itu kondisinya. Hanya saja, Yumna merasa akhir -akhir ini merasa tidak enak hati dan sellau mimpi buruk," ucap Yumna lirih. tangan Yumna memegan erat lengan Duta seperti takut terlepas pelukan itu.
"Kakak akan pegang janji itu selamanya, Na. AKan Kakak tagih, jika kamu mulai ada perbedaan," ucap Duta mengingatkan.
Yumna mengangguk kecil dan paham dengan apa yang di bicarakan oleh Duta.
__ADS_1