
Jangan lupa vote, like dan sarannya yah. karena masukan kalian sangat penting buat aku.
Silakan tinggalkan jejak, supaya aku makin semangat update ceritanya.
Terima kasih sudah mampir
Happy reading 😊😘
...***...
...Entah siapa dia?...
...Yang hadirnya melekat indah...
...dalam relung jiwa...
...Langkah kaki yang goyah...
...karena terpana...
...Senyum indah dari balik hijabnya...
Di tempat lain...
Assalamualaikum
Sebelumnya aku minta maaf kak, karena telah lancang memberikan surat ini kepada kakak. Aku hanya tidak tahu harus berbicara lewat apa dengan kak Adnan. Oh iya, melalui surat ini aku ingin mengatakan yang tidak sempat aku katakan waktu di UKS. Aku hanya ingin bilang terima kasih karena kakak sudah menyelamatkan aku. Itu aja, sekali lagi terima kasih.
Wassalamualaikum
^^^Indah^^^
__ADS_1
Adnan membaca surat dari Indah dengan seksama. Setelah selesai,tanpa ia sadari sebuah senyum terukir di bibirnya. Cowok tampan itu bahkan terus membacanya berulang kali. Surat Indah dengan kata-kata yang singkat mampu membuat hatinya begitu bahagia. Entahlah, padahal tidak kata yang istimewa di dalamnya, selain kata terima kasih. Setelah puas berulang kali membacanya, ia merebahkan tubuhnya di tempat tidur.
Kamar Adnan cukup besar, dengan dinding berwarna cokelat muda mendominasinya. serta plapon putih dengan sebuah lampu di bagian tengah. Terdapat majalah dinding di dekat pintu kamarnya. Berisi informasi penting, jadwal, atau pun rencana yang ingin ia lakukan.
Di kamar Adnan juga terdapat sebuah lemari pakaian, meja belajar, rak buku, dan sebuah tempat tidur berukuran cukup besar. Rak buku Adnan di penuhi dengan banyak buku yang tersusun rapi di sana. Terdapat foto berbingkai , piagam penghargaan, dan banyak piala yang tersusun rapi di bagian atasnya. Mengingat Adnan adalah siswa terpandai di sekolahnya, yang sudah banyak memenangkan lomba. Mengharumkan nama sekolah, dan membuat orang tuanya bangga.
Terakhir di samping kanan meja belajarnya, terdapat sebuah jendela dengan gorden cokelat muda. Senada dengan warna tembok kamarnya. Dan 1 kipas angin yang juga berada di sisi lain meja belajar.
Adnan kembali teringat wajah teduh Indah, dengan lesung Pipit dan gigi kelinci saat dia tersenyum. Kembali terukir senyum simpul di wajah Adnan. Namun bayangan saat Indah menangis tiba-tiba terlintas di pikirannya. Raut wajahnya yang tenang, kini berubah menampakkan kecemasan.
"Aku minta maaf, bagaimana pun akulah yang menjadi penyebab air matamu hari ini. Tapi, sungguh aku tidak bisa melihatmu menangis. Bagaimana ku jelaskan padamu bahwa aku dan Ayu tidak punya hubungan apa-apa. Bagaimana ku jelaskan padamu, tentang perasaan yang aku rasakan untukmu." Adnan berucap pelan, memandang langit-langit kamarnya.
Sejak pertama kali melihat Indah, Adnan sadar bahwa ada sesuatu yang tumbuh di hatinya. Gadis itu tampak polos dan lucu. Adnan selalu merasa tenang saat melihatnya, walaupun itu hanya beberapa detik saja. Perasaan yang aneh, namun itulah yang ia rasakan.
Namun, ia tidak mau menampakkan kegugupannya jika berada di dekat gadis itu. Ia akan berusaha bersikap sedingin mungkin agar perasaannya bisa ia tutupi. Adnan pun juga selalu berusaha untuk menjauh darinya. Tetapi tidak, walaupun ia sempat menjauh, Adnan tidak pernah bisa melihat Indah jika dalam kesusahan. Ia selalu kembali, selalu berada di dekat Indah, walau Indah tidak menyadari itu. Adnan tahu perasaan yang tumbuh di dalam hatinya tidaklah benar. Jika ia ingin membuktikan cintanya, ia akan mengambil langkah yang serius. Yaitu dengan mengikat orang yang ia cintai dalam hubungan yang halal. Tetapi ini bukanlah saatnya, ia hanya harus menyelesaikan pendidikannya, dan menjadi laki-laki yang layak untuk Indah.
...***...
Teng teng teng
"Ada apa nak? Kenapa makannya dimainkan seperti itu? Kamu sakit?" Bu Dania khawatir melihat Indah yang hanya melamun dari tadi.
" Ehh,, tidak ma. Indah cuma tidak nafsu makan saja." Jawab Indah berbohong.
"Kamu ada masalah nak? akhir-akhir ini mama perhatikan kami selalu terlihat sedih." Yah, walaupun Bu Dania jarang menanyakannya keadaan Indah, tapi dia selalu memperhatikan anak semata wayangnya itu.
"Tidak kok ma, tidak ada masalah apa-apa, Indah cuma capek saja."
" Ya udah, Kamu makan yah. Mama tidak mau kalau kamu sakit karena malas makan, Yah sayang!"
"Iya, ma." Indah mulai menyendok makannya, memaksa untuk makan. Ia tidak mau membuat ibunya khawatir.
__ADS_1
"Oh iya, besok kan hari Ahad yah... padahal mama tadi mau ngajakin kamu ke supermarket untuk belanja bulanan. Stok makanan kita sudah hampir habis sayang."
"Tidak apa-apa kok ma, Indah baik-baik saja. Besok Indah akan bantuin mama untuk belanja." Indah menyunggingkan senyum. Mencoba menghibur ibunya, ia tidak mau jika ibunya membawa belanjaan yang banyak sendirian.
"Ya sudah kalau begitu, besok pagi kita pergi belanja yah..."
"Iya, ma."
...***...
"Indah, ayo nak." Teriak Bu Dania dari teras.
"Ia, ma." Indah pun berlari keluar menuju teras.
Indah memakai gamis cream dengan hijab yang senada. Yah, Indah selalu mamakai gamis atau rok, karena dia adalah tipe cewek yang tidak suka memakai celana jeans. Tak lupa pula sebuah sepatu kets berwarna hitam dengan garis putih di bagian bawahnya, juga sebuah tas berukuran sedang yang ia tenteng di bahunya. Sementara Bu Dania juga memakai baju terusan berwana cokelat dengan jilbab berwarna hitam. sebuah tas jinjing di tangannya dan memakai sendal rata.
Pukul 08:25 Indah dan Bu Dania berangkat dengan mengendarai sepeda motor menuju supermarket yang tak jauh dari rumah mereka. Sesampainya di sana, Bu Dania memarkirkan motornya.
"Ayo, nak." Ajak Bu Dania.
"Mama masuk duluan aja, tali sepatu Indah lepas." Ucap Indah sembari menunduk mengikat tali sepatunya.
"Ya udah, cepat yah sayang." Bu Dania melangkah masuk ke supermarket.
"Iya ma."
"Oke, dah selesai." Ucap Indah berbicara pada diri sendiri.
Indah mulai berjalan menuju pintu masuk. Diliriknya jam tangan di lengan sebelah kirinya. Tanpa ia sadari seseorang yang juga sedang sibuk memainkan handphonenya juga berjalan dari arah yang berlawanan. Yah, dia sekarang menuju ke arah Indah dengan sebuah minuman yang ia pegang di tangan yang lainnya. Dan saat jarak mereka semakin dekat...
Bruukk...
__ADS_1
"Aarghh..." Teriak Indah saat bahunya dan bahu pria tersebut bertabrakan. Membuat minuman yang dipegang pria itu tumpah mengenai hijab dan gamis Indah.
"Aadduuhh..." Ucap Indah yang reflek membersihkan minuman itu di hijab dan gamisnya.