Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja

Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja
Sampai Di Villa


__ADS_3

Sinta segera menancapkan gas menuju rumah Indah yang hanya berbeda lorong blok dari rumahnya, dengan mengendarai sepeda motor David. Hanya membutuhkan waktu 2 menit ia telah sampai di depan rumah Indah.


Sinta menggeser pagar yang tidak terkunci itu. Lampu rumah Indah tampak menyala semua, termasuk lampu kamar Indah yang ada di sisi kanan rumah, itu berarti Indah memang ada di rumah.


Tok tok tok


Sinta mengetuk pintu rumah…


“Assalamu’alaikum, Indah!” Teriak Sinta.


Tak ada jawaban dari si empunya rumah.


“Indah!”


“Indah, kamu di dalam?!” Sinta masih saja berteriak.


Namun tetap saja tak ada jawaban dari Indah.


Akhirnya, Sinta mencoba menghubunginya, berharap gadis itu akan mengangkat teleponnya, ia merogoh tas samping yang ia bawa, mencari handphonenya, lalu menekan nomor ponsel Indah.


Tapi tetap saja sama Indah tak kunjung mengangkat telepon darinya, meski ia sudah berulang-ulang kali mencobanya. Dia hanya ingin tahu keadaan gadis itu, tapi mengapa sulit sekali.


“Mungkin dia butuh waktu untuk sendiri.” Gumam Sinta.


Akhirnya ia memutuskan untuk kembali pulang, membiarkan sahabatnya itu menenangkan hatinya, mungkin…


Sinta meninggalkan teras rumah Indah, namun begitu sampai di depan pagar, langkahnya kembali terhenti.


“Ck.” Decaknya.


Ia pun kembali masuk ke teras rumah itu, dan duduk di salah satu kursi dipan kayu yang berukuran mini. Kembali mengotak-atik ponselnya, untuk kemudian kembali terdiam, seolah sedang menunggu sesuatu.


Beberapa saat kemudian, saat suara notifikasi di ponselnya terdengar, Sinta pun beranjak dari tempat tersebut dengan raut wajah yang cukup lega, melajukan kembali sepeda motornya... pulang ke rumah.



Indah masih betah dengan posisinya yang kini masih berbaring di tempat tidur. Gadis itu enggan beranjak, meski kini perutnya terus berbunyi dari tadi, ia sudah sangat lapar. Yahh, gadis itu belum makan malam.

__ADS_1


Wajahnya tampak lesu, ingin membuat makan malam, tapi badannya tak mendukung untuk itu.


Beberapa saat kemudian, Indah dikejutkan dengan suara ketuan pintu yang cukup kuat. Ia mulai was-was, apalagi sekarang ia hanya sendirian di rumah. Pikirannya mulai kemana-mana. Ia sedang asyik memikirkan strategi apa yang akan ia lakukan saat akan membasmi penjahat yang mungkin kini sedang mengetuk pintu rumahnya itu, mencoba mengingat-ingat apa yang dilakukan Kevin dalam film Home Alone saat menghadapi penjahat. Namun suara teriakan seseorang membuyarkan semua rencana tersebut.


“Sinta...? Wa’alaikumsalam warahmatullah.” Indah menjawab, berbisik.


Yah, ia sangat mengenali pemilik suara tersebut, yang sekarang sudah memanggil-manggil namanya di luar.


Dilema, ia ingin keluar menemui gadis itu. Namun langkahnya begitu berat. Ada perasaan sungkan, takut dan entahlah... ia hanya belum siap saja untuk bertemu dengan Sinta.


Bagaimana mungkin ia menemuinya dan mengatakan 'maaf karena telah menolak kakakmu, aku tidak bisa bersamanya karena aku tidak mencintainya.' Oh ayolah apakah ia akan sanggup, sementara Sinta dan semua keluarganya begitu baik padanya. Menerimanya dengan baik di rumah mereka, dan lagi, ibu Sinta sangatlah perhatian padanya, begitu pula dengan David.


Dan penyakit lamanya pun kambuh lagi, yaitu rasa tidak enak hati kepada orang lain meskipun apa yang terjadi bukanlah kesalahannya atau bukan kesalahannya sendiri. rasa yang membuatnya sangat sulit mengatakan tidak, dan selalu di hantui perasaan bersalah, Indah membenci itu semua.


10 menit menunggu, Sinta masih saja setia memanggil dan mengetuk pintunya. Indah yang berada di kamar hanya bisa menggigit jari merasa bersalah.


Beberapa saat kemudian, suara ketukan pintu dan teriakan berhenti, Indah berpikir Sinta mungkin sudah menyerah dan pergi. Gadis itu mengusap dadanya, lega. Namun suara notifikasi di ponselnya kembali membuatnya terkejut, gadis itu kembali mengelus dadanya.


“Oh Indah… kamu kenapa jadi parnoan gini sih……” Indah mengeluh pada dirinya sendiri, yang terkejut hanya karena ponselnya berbunyi.


Ia mengambil ponselnya, ternyata pesan dari Sinta.


Demi membaca pesan itu, lengkungan terukir dibibir Indah. Yah, dari pesannya Sinta mungkin tidak marah padanya, dan ia memiliki alasan yang baik bukan untuk bertemu dengan gadis itu. Namun, rasa tak enak hati kembali menahannya.


"Lebih baik aku balas chat dia saja." Ucap Indah pelan.


[yah, aku di sini, aku baik-baik saja Sin. Aku hanya butuh waktu untuk menenangkan diriku saja, maafkan aku.] Bunyi pesan Indah.


Setelah menerima pesan dari Indah, ada sedikit rasa lega yang Sinta rasakan. Setidaknya Indah memang ada di rumah, dan baik-baik saja. Lagi pula apa yang akan ia katakan pada Bu Dania kalau ia tidak tahu keberadaan Indah. Untuk saat ini itu cukup untuknya.


Setelah membaca pesan itu, Sinta pun meninggalkan rumah Indah. Ia juga harus segera pulang, takut ibunya akan mencari karena ia tidak berpamitan tadi.


***


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih hampir 2 jam, Jayadi, Dania dan Sarah pun sampai di sebuah Villa bergaya klasik namun tetap memberikan kesan modern di setiap interiornya, terlihat sangat Indah.


“Villa ini cukup Indah, dengan semua pemandangan alam di sekitarnya, aku merasa seperti telah pulang ke kampung halamanku sendiri.” Bisik Sarah kepada Dania yang sekarang telah berdiri di sampingnya, asyik menatap sekitar.

__ADS_1


“Iya, tempat ini memang Indah, tapi sangat berbeda jauh dari apa yang aku bayangkan.” Balas Dania.


“Maksud kamu?”


Belum menjawab pertanyaan Sarah mereka berempat telah di sambut oleh Pak Tonson, rekan bisnis sekaligus pemilik dari Villa tersebut diikuti dengan beberapa bodyguard dan asisten di samping dan belakangnya.


“Selamat datang Jayadi." Tonson menjabat tangan Jayadi kemudian melirik ke arah Dania dan Sarah. Lalu mereka berpelukan seolah mereka adalah kawan lama.


"Hebat sekali kau bisa membawa mereka berdua ke sini." Bisik Tonson.


"Tentu saja, apa sih yang tidak bisa dilakukan Jayadi." Jayadi tersenyum membanggakan dirinya.


Jayadi dan Tonson melepaskan pelukan mereka, beralih menatap 2 wanita yang kini berada di sisi mereka.


"Apakah perjalanan kalian menyenangkan?" Tonson bertanya pada Dania dan Sarah.


"Iya Pak, tidak ada hambatan sama sekali, kami menikmati pemandangan menuju Villa ini." Sarah menjawab, sementara Dania hanya tersenyum hormat di sampingnya.


"Baiklah, mari masuk ku rasa kalian harus beristirahat dulu sebelum kita semua membicarakan tentang bisnis." Tonson berucap pada Jayadi dan yang lainnya.


"Baiklah." Jayadi menjawab.


Sarah dan Dania hanya bisa mengangguk sungkan.


Mereka lalu memasuki Villa, tempat itu tampak sangat luas, sangat berbeda jika dilihat dari luar.


"Villa ini sangat besar yah...." Lagi-lagi Sarah berbisik.


"Iya, tapi awalnya aku pikir Villa yang dimaksud Pak Tonson akan jauh lebih besar dan mewah. Jika dipikir-pikir..... beliau adalah salah satu investor kita yang menginvestasikan uangnya dalam jumlah yang sangat besar di perusahaan bukan, jadi dia pasti orang yang sangat kaya raya." Dania membalas, menduga-duga.


"Seharusnya Villanya jauh lebih mewah kan....."


"Huussttt... jangan terlalu kenceng ngomongnya, nanti Pak Tonson dengar." Sarah memperingatkan.


"Tapi kalau di pikir-pikir kamu ada benarnya juga sih...." Sarah memegang dagunya.


"Tapi kita jangan berpikiran buruk dulu Dania, barangkali saja Pak Tonson memang sengaja agar Villa ini terlihat seperti berbaur dengan alam, ia kan." Sarah mencari pembenaran.

__ADS_1


"Hhmm.... mungkin kamu benar."


__ADS_2