Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja

Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja
Rencana Licik Untuk Indah


__ADS_3

Jangan lupa vote, like dan sarannya yah. karena masukan kalian sangat penting buat aku.


Silakan tinggalkan jejak, supaya aku makin semangat update ceritanya.


Terima kasih sudah mampir


Happy reading 😊😘


...***...


"Ayu, aku dan Dewi sudah membawanya ke toilet." Ucap Widia yang terengah-engah, menghampiri Ayu.


"Bagus, tunggu apalagi? Ayo ke sana!"


"Ayo." Widia mengangguk, berjalan di samping Ayu.


Toilet


Masih dengan perempuan yang sama yang beberapa waktu lalu memberikan informasi tentang Indah kepada Ayu. Ia kembali di bawa ke toilet oleh Ayu dan teman-temannya. Perempuan itu kini berdiri di pojok toilet wanita, dengan menyilang kan tangannya di depan dada. Raut wajahnya begitu khawatir. Sedari tadi hatinya begitu gelisah, entah apa yang harus ia lakukan kali ini. Batinnya penuh dengan perasaan bersalah. Sementara Dewi berdiri tak jauh darinya, mengawasi perempuan itu. Beberapa saat kemudian, Ayu masuk ke toilet itu, sedangkan Widia menunggu di luar, mengawasi situasi.


"Oh, tuan putri kita sudah ada di sini rupanya. Apa kau tidak menunggu terlalu lama?" Ayu menatap tajam perempuan yang ada di hadapannya itu. Sementara Dewi tersenyum licik mendengar perkataan Ayu.


"Susah banget yah buat panggil lo. Apa gue harus selalu suruh Dewi dan Widia buat bawa lo temuin gue? Lo pikir lo siapa? Ha!" Ayu mulai membentaknya.


Perempuan itu tidak terkejut sama sekali, dan tidak bergeming mendengar bentakan Ayu.


"Ayu, jangan keras-keras. Nanti ada yang dengar." Dewi yang berada di sampingnya mengingatkan.


"Huufft.... oke... oke." Ayu menghembuskan nafas panjang. Mencoba mengendalikan kemarahannya.

__ADS_1


"Lo tau, kenapa lo di bawa ke sini?"


"Tidak, tapi aku tahu kamu memiliki niat yang buruk." Jawab perempuan itu tenang.


" Apa lo bilang?" Ayu yang marah hampir saja menjambak rambut perempuan dihadapannya itu. Tapi Dewi buru-buru menghentikannya.


"Gue tahu harus bagaimana menghadapi gadis keras kepala seperti lo. yah, memang benar gue memanggil lo kemari karena gue punya tugas penting buat lo. dan lo harus melakukan itu untuk gue. Gue mau 3 hari dari sekarang lo harus membawa indah ke halaman belakang sekolah, tepat pukul 15.00"


Perempuan itu terkejut mendengar perintah Ayu.


"3 hari dari sekarang? Bukankah itu hari Minggu? Untuk apa kamu membawa Inda ke sana? Tidak akan ada orang di Sekolah. Apa yang akan kamu lakukan?


'Apa yang akan gue lakuin, itu bukan urusan lo!" Bentak Ayu.


"Lo hanya perlu bawa Indah kemari. Gue gak mau tau caranya gimana, yang gue tahu pukul 15.00 Indah sudah datang ke tempat yang gue suruh. Ngerti lo?!'


"Apa yang akan kamu lakukan kepada Indah? Jangan nekat Ayu! Gak, aku gak mau lakuin itu." Kecemasan di wajah perempuan itu semakin menjadi-jadi.


"Dan yang kedua, terserah kalau lo gak mau ikutin perintah gue. Lihat ini?" Ucap Ayu sembari mengeluarkan sebuah handphone dari saku seragamnya.


"Apa perlu gue telepon bokap gue sekarang? Ingat yah, hanya dengan menekan 1 tombol ini saja. Maka keluarga lo yang akan menanggulangi semuanya." Ayu memperlihatkan handphonenya dengan kontak ayahnya di sana.


"Tolong jangan lakukan itu. Ibuku sedang sakit sekarang, bagaimana kami akan membayar biaya rumah sakit jika papaku di pecat? Aku mohon."


"Sekarang kami pilih, menyelamatkan ibumu yang sedang sakit, atau perempuan norak itu, Indah?"


"Mengapa kamu sangat membenci Indah, apa salah dia padamu? Dia adalah gadis yang sangat baik. Mengapa kamu menempatkan ku pada situasi seperti ini?" Air mata perempuan itu mulai jatuh.


"Oowww... rupanya lo bisa nangis juga? Yang gue tahu tentang lo, lo selalu masuk ruang BK karena berantem dengan anak cowok. Dan hari ini, lo nangis cuma karena perempuan norak dan kampungan itu. Hahaha.... lucu sekali." Ayu mulai tertawa begitu pun dengan Dewi.

__ADS_1


"Untuk seseorang yang tidak memiliki hati seperti dirimu, tentu saja kamu akan tertawa."


Wajah Ayu memerah, dengan kasar ia mendorong perempuan itu ke tembok, dan sekarang memegang bahunya kuat.


"Denger yah, gue akan nunggu Indah di tempat dan waktu yang sudah gue bilang. Dan kalau dia tidak datang, lo akan menyesal untuk selamanya. Ngerti lo" Ayu melepaskan cengkraman kasar. Kemudian melangkah meninggalkan perempuan itu sendiri.


"Apa yang harus aku lakukan? Apa?" Perempuan itu menangis, tak sanggup lagi membendung air matanya. Ia menunduk, tergugu akan dilema yang besar.


...***...


Indah sedang asyik menikmati makan siangnya di kelas. Yah, semenjak kejadian Ayu mempermalukannya di kantin, ia hanya sekali ke sana dan tidak pernah lagi. Indah memilih untuk membawa bekal dan makan di kelas.


Suasana kelas cukup sunyi. Hanya ada beberapa siswa di sana, termasuk Indah. Ada yang terlihat sedang asyik memakan bekalnya juga sama seperti Indah. Ada pula 2 orag siswa lainnya yang memilih tertidur di bangku mereka masing-masing, dan satu siswi yang sedari tadi sibuk berdiri di depan papan tulis. Berkali-kali menulis sesuatu di sana, lalu menghapusnya kembali.


Sinta masuk ke kelas dengan raut wajah yang murung, kemudian duduk di samping Indah. Indah melihat ada perubahan sikap pada sahabatnya itu.


"Kok kamu murung Sin? Bukannya kamu dari kantin yah? Seharusnya... sekarang wajahmu itu bersinar seperti biasa karena perutmu sudah kenyang. Hehe." Indah mencubit pelan pipi Sinta, mencoba menghiburnya.


Sinta tersenyum datar.


"Kamu sakit yah?" Indah bertanya kembali, mulai khawatir.


"Enggak kok, aku cuma tidak enak badan saja. Aku akan beristighfar di UKS." Ucap Sinta berdiri dari bangkunya.


"Kalau gitu aku temenin yah." Indah ikut bangkit dari tempatnya duduk.


"Tidak usah Indah, aku bisa sendiri kok. Lihat, kamu belum menghabiskan makananmu. Makanlah dulu, aku baik-baik saja, tidak perlu khawatir, yah..." Sinta meyakinkan.


"Baiklah, tapi kamu hati-hati yah."

__ADS_1


"Iya." Sinta tersenyum datar.


Indah menyendok makannya sekali lagi. Mengunyah perlahan, sambil memikirkan sesuatu. Indah sadar bahwa beberapa pekan ini sikap Sinta berbeda dari biasanya. Sinta yang biasanya selalu tampak ceria, kini lebih sering murung dan melamun. Bahkan saat dia berbicara dengannya, Sinta tidak terlalu meresponnya. Hal inilah juga yang membuat Indah merahasiakan semua perlakuan yang di dapatkannya dari Ayu. Sehari setelah kejadian Ayu mempermalukan dirinya, Indah sempat ingin cerita kepada Sinta. Bukan karena agar Sinta bisa melindunginya seperti yang Sinta sering lakukan saat Indah dijahili oleh teman laki-lakinya. Namun ia hanya ingin mengekspresikan betapa sedihnya dia atas apa yang telah dilakukan Ayu kepadanya. Namun, saat melihat raut sedih dari wajah sahabatnya itu, ia mengurungkan niatnya. Ia tidak ingin jika masalahnya semakin membebani Sinta.


__ADS_2