Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja

Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja
Patah Hati


__ADS_3

"Indah seneng banget deh pergi ke Masjid bareng mama seperti ini." Indah merangkul lengan Bu Dania, berjalan bersama menyusuri lorong komplek.


"Iya, mama juga senang nak."


"Beberapa orang yang baru saja keluar dari rumah mereka menyapa Indah dan Bu Dania. Yah, mereka adalah tetangga komplek yang selalu berjalan bersama dengan Indah saat ke Masjid.


Kembali menyusuri lorong komplek dengan beberapa tetangga, tampak mereka mengobrol santai menuju Masjid, sebentar lagi sholat Maghrib akan tiba.


"Wah, anak mama ini banyak temannya yah, mulai dari anak-anak sampai ibu-ibu di sini." Ucap Bu Dania tersenyum melihat dari tadi ada saja yang memanggil nama anaknya walau hanya sekedar menyapa saat berpapasan.


"Iya Ma, kalau Indah sedang ke Masjid memang selalu ketemu sama tetangga-tetangga ini."


Mereka melanjutkan perjalanan singkat itu dengan obrolan ringan dan berkenalan dengan Bu Dania yang baru pertama kali berbaur dengan tetangganya. Mengingat Bu Dania yang hanya keluar rumah jika akan ke kantor atau keluar bersama Indah untuk membeli kebutuhan rumahnya.


Shalat Maghrib berlangsung seperti biasa, khidmat dan menenangkan hati saat lantunan ayat suci Al-Quran dibacakan.


Setelah selesai, Bu Dania dan Indah memilih untuk tetap berada di sana, menunggu untuk kembali menunaikan sholat isya berjamaah.


Indah merasa sangat senang hari ini bisa bersama dengan Bu Dania seharian. Bukan seperti biasanya, saat ibunya hanya akan pulang ketika menjelang malam kemudian kembali sibuk untuk memasak makan malam.


Ia menatap teduh wajah yang sedang duduk di sampingnya itu. Merasa sangat beruntung bisa menjadi putri dari seorang wanita tangguh yang sekarang telah menjadi sosok ibu dan ayahnya.


Sesaat kemudian, Indah menyandarkan kepalanya pada bahu Bu Dania yang sedang membaca Al-Qur'an.


Setelah sholat isya Indah berdiri dan melipat sajadahnya. Sesekali melihat-lihat ke sekeliling Masjid mencari sosok yang ia rindukan.


"Indah, Ayo nak!" Suara Bu Dania mengalihkan perhatiannya.


"I... iya Ma."


'Apa kak Adnan tidak datang yah?' Batin Indah bertanya.


Meski ia sholat ke Masjid bukan untuk bertemu Adnan, namun ada harapan di hati kecilnya bisa menjumpai pria itu walau hanya melihatnya dari jauh.


Indah yang melamun tak sadar jika kini Bu Dania telah mencapai dasar tangga sembari asyik mengobrol dengan ibu-ibu yang mereka jumpai tadi. Sementara ia masih menuruni anak tangga dengan tidak memperhatikan langkahnya yang bisa saja terpeleset karena pikiran yang masih berkelana pada sosok lain.


Namun tiba-tiba suara seseorang membuyarkan lamunannya.


"Jangan melamun Indah, Kamu sedang menuruni tangga, harus hati-hati." Adnan berucap dari sisi tangga lainnya tanpa menoleh kepada Indah.

__ADS_1


"Hah! Kak Adnan..." Untuk sesaat Indah terkejut, lalu berucap nama itu lirih.


Tak lama kemudian Adnan tiba di dasar tangga, lalu disusul oleh Indah yang juga berada di sisi tangga khusus wanita.


Bu Dania masih asyik mengobrol dengan wanita yang seumuran dengannya. Wanita itu memakai mukenah berwarna cokelat dengan renda yang senada di bagian ujungnya.


"Ma, ayo!" Ucap Adnan dan Indah bersamaan.


Sesaat mereka saling tatap karena tak sengaja berbicara secara bersamaan. Bu Dania dan wanita yang bersamanya juga berbalik bersamaan mendengar suara anak mereka.


'Mama? Itu ibunya kak Adnan?' Batin Indah.


Sementara Adnan yang sudah pernah bertemu dengan Bu Dania sebelumnya jelas sudah tahu kalau beliau adalah ibunya Indah.


"Sini, nak!" Panggil wanita itu kepada Adnan untuk mendekat. Sementara Indah sudah berjalan lebih dulu, berdiri di samping ibunya.


"Ini anak saya Adnan." Ucapnya


Adnan langsung meraih tangan Bu Dania untuk bersalaman dengannya.


"Iya Bu, saya sudah pernah bertemu dengan nak Adnan sebelumnya." Ucap Bu Dania.


"Waktu itu di sekolah Bu, karena Indah dan Adnan satu sekolah." Jawab Bu Dania.


"Wah, ini yah... cantik sekali yah anaknya." Puji Ibu Adnan melihat Indah yang berdiri di samping ibunya.


Indah hanya tersenyum malu mendengar pujian dari Ibu Adnan tanpa berani menoleh pada pria di depannya itu.


"Indah... ini Bu Ratih, ibunya Adnan." Sahut Bu Dania memperkenalkan.


"Indah, Tante." Ucap Indah sambil meraih tangan Bu Ratih dan menyalaminya.


Bu Ratih reflek memegang kepala Indah yang tertutup mukenah, membelainya seperti seorang Ibu.


"Adnan kok tidak pernah cerita kalau punya teman secantik indah sih." Bu Ratih menatap putranya dengan senyum mencoba menggodanya.


"Mama, Indah ini adik kelas aku di sekolah."


"Memangnya kenapa kalau adik kelas? tidak boleh berteman begitu?"

__ADS_1


Adnan yang mendengar hanya tersenyum salah tingkah. Dan lagi menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Perbincangan hangat itu mereka lanjutkan sambil berjalan pulang.


Bu Dania dan Bu Ratih berjalan di depan Adnan dan Indah. Masih asyik berbincang-bincang seputar obrolan ibu-ibu. Sementara suasana canggung tampak di belakang. Adnan dan Indah berjalan beriringan namun tetap menjaga jarak diantara mereka.


"Hhmm.... bagaimana kepadamu, apa masih merasa sakit Indah?" Tanya Adnan memecah keheningan diantara mereka.


"Alhamdulillah, sudah tidak sakit lagi kak." Indah menjawab dengan senyum teduhnya.


"Alhamdulillah." Adnan berucap pelan.


Suasana kembali hening untuk mereka. Namun tidak dengan para ibu yang ada di depan. Bu Dania dan Bu Ratih yang baru pertama kali bertemu tampak begitu akrab.


Indah merasa senang melihat ibunya berinteraksi senyaman itu dengan tetangga mereka. Karena semenjak Bu Dania menjadi orang tua tunggal dan tulang punggung keluarga, tak jarang Bu Dania menghabiskan waktunya hanya untuk sekedar bekerja dan mengurus Indah di rumah. Sampai tidak punya waktu untuk bersosialisasi dengan lingkungan di sekitarnya.


"Lihat... mamaku dan mamamu terlihat begitu akrab bahkan dipertemuan mereka yang pertama." Adnan kembali memulai percakapan.


"Iya kak." Jawab Indah singkat, merasakan hal yang sama.


Beberapa saat kemudian saat mereka hampir sampai di pertigaan yang memisahkan lorong komplek mereka. Sampai suara panggilan seseorang terdengar dari belakang.


"Adnan!!! Hey Adnan!!!"


Spontan Adnan berbalik, begitu pun dengan Indah, Bu Dania dan Bu Ratih.


tampak seorang gadis yang berada di dalam mobil dengan jendela yang terbuka melambai pada Adnan.


Begitu mobil berhenti tepat di samping mereka, gadis itu segera keluar dan berlari langsung memeluk Adnan.


Deg


Indah terkesiap melihat apa yang terjadi di depannya. Antara malu, kesal, sedih dan rasanya ingin sekali ia menghilang dari tempat itu sekarang juga.


"Adnan... I miss you aku sangat.... sangat... merindukan kamu." Ucapnya memeluk Adnan erat.


Adnan yang merasa tidak nyaman berusaha melepaskan dirinya, namun gadis itu malah memeluknya semakin erat.


"Celine tolong jangan seperti ini, lepas!" Adnan mencoba untuk melepaskan pelukan Celine.

__ADS_1


"Why? Don't you miss me?"


__ADS_2