
"Tapi… kamu tahu Indah bukanlah sebuah barang yang patut kita perebutkan. Perasaan cinta itu suci, dan aku percaya cinta akan membawa 2 hati untuk bersatu. Entah itu hatiku, hatimu, atau malah hati orang lain yang akan bersama Indah. Namun aku percaya satu hal tulang rusuk milikku tidak akan tertukar, jika memang Indah adalah jodohku maka ia akan selalu menjadi milikku dan kembali padaku." Ucap Adnan dengan tampang datarnya, ia lalu beranjak dari tempatnya duduk menyimpan buku yang tadi ia ambil dan melenggang keluar perpustakaan.
Sepulang sekolah Indah dan Sinta di jemput oleh Pak Budi. Sebelum pulang ke rumah Sinta, Indah mampir ke rumahnya untuk mengambil beberapa lembar pakaian yang cukup untuk dipakai 2 hari, seragam sekolah, buku-buku, dan beberapa hal yang lainnya. Setelah selesai, mereka langsung ke rumah Sinta.
Sesampainya di rumah Sinta...
“Sinta pulang Bu, ibu di mana?” Teriak Sinta saat baru sampai di depan pintu.
“Assalamu’alaikum.” Indah mengucapkan salam.
"Bu!"
"Ibu." Sinta terus berteriak memanggil Siska.
Indah memukul lengan gadis itu.
"Kalau datang itu ucapin salam, bukan teriak-teriak kayak gitu." Indah menasehati.
"Ck, bodoh amat"
"Bu!" Sinta kembali berteriak.
Sementara Indah hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Siska yang sedang berada di dapur, menjawab panggilan anaknya.
“Ibu di dapur sayang, ayo ke mari!”
Sinta lalu berjalan ke arah dapur dengan menggandeng tangan Indah yang tampak malu-malu berada di rumah sahabatnya itu. Yah, itu kebiasaannya.
Sesampainya di dapur, Sinta melihat ibunya sedang memasak makanan kesukaannya, kepiting saus tiram. Sinta sangat menyukai itu.
“Wah, makanan kesukaanku.” Sinta berbinar.
“Iya sayang, ibu sengaja masakin buat kamu. Maaf yah, mama baru masak lagi sekarang.” Ucap Siska.
“Iya bu, gak papa kok.” Sinta tersenyum.
Pandangan Siska beralih pada Indah yang sedang berdiri di belakang putrinya.
“Eh, ada Indah yah, Kenapa kamu tidak bilang Sin?”
Indah tersenyum.
"Apa kabar Tante?” Sapa Indah mencium tangan Siska.
“Nah begini Sin, kalau baru datang itu harusnya cium tangan dulu.” Siska menyindir putrinya itu, yang setiap datang hanya akan berteriak sampai ia melihat keberadaan ibunya.
“Ck, mama kayak gak tahu aku aja deh.” Sinta
berdecak.
“Kabar Tante baik Nak, Tante senang deh kamu datang lagi ke sini, udah lama loh kamu gak pernah main lagi ke rumah.”
“Hehe, iya tante.” Indah tersenyum canggung.
__ADS_1
“Oh iya ma, sekalian aku mau minta izin.”
“Mau minta izin apa?” Siska bertanya.
“Boleh gak Indah nginep di sini 2 hari, soalnya tante Dania ada perjalanan bisnis ke kota M. awalnya sih Indah bakalan tinggal di rumahnya sendiri, tapi aku khawatir, Tante Dania juga. Jadi aku bilang kalau Indah nginep di rumahku saja, Boleh gak Bu?” Tanya Sinta penuh harap.
Siska tersenyum.
“Tentu saja boleh, nginep di sini seminggu pun tidak masalah untuk ibu. Rumah ini jadi semakin ramai nanti.”
“Terima kasih Tante, maaf Indah merepotkan.”
“Tidak sama sekali sayang.”
“Terima kasih yah Bu.” Ucap Sinta.
“Ya sudah, sekarang ajak Indah ke kamar kamu buat ganti baju, dan kalian kembali lagi ke sini. Kita makan siang sama-sama.”
“Baik, Bu.”
Sinta pun mengajak Indah untuk naik ke lantai dua, menuju kamarnya yang bersebelahan dengan kamar David.
Sesampainya di kamar...
Sinta yang baru saja membuka kamarnya tersenyum kaku pada Indah, sedangkan Indah menggelengkan kepala.
“Maaf yah, berantakan hehe.”Nyengir kuda.
Mereka berdua masuk dan menyimpan tas di sofa mini. Indah duduk di sana, merasa cukup lelah.
“Begitu bagaimana?” Sinta mengerutkan keningnya.
“Yah, kamu pemalas, sampai kamar kamu aja selalu berantakan.” Jawab Indah polos.
“Ck, jangan mulai deh. Mau kamu tidur di kamar mandi.” Ancam Sinta menunjuk kamar mandi di kamarnya.
“Hehe, bercanda Sin. Kamu nih emosian banget sih. Lagian memangnya kamu tega nyuruh aku tidur di kamar mandi?” Indah menatap Sinta dengan mata puppy eyes nya.
“Ck, kalau aku sih tega-tega aja.” Sinta ingin tertawa tapi ditahannya.
“Ck, kamu adalah ibu tiri yang jahat.” Indah mensedekapkan kedua tangannya di dada.
“Enak aja aku dikatain ibu-ibu.” Sinta melempar bantal sofa ke wajah Indah.
Indah terkekeh, jadilah mereka tertawa dalam perang bantal siang itu.
David yang juga sedang berada di kamarnya sayup-sayup mendengar suara tawa Indah. Ia yang sedang berbaring itu akhirnya membuka matanya.
“Segitunya kamu memikirkan gadis itu David, sampai suaranya terngiang-ngiang di telingamu. Indah-Indah, kamu membuatku jatuh cinta semakin dalam.” Cowok itu tersenyum membayangkan wajah cantik Indah. Gigi kelinci, lesung pipi, dan pipinya yang tembem itu, membuat ia selalu gemas pada gadis tersebut.
“Udah-udah, aku nyerah.” Sinta mengangkat tangannya.
Ternyata sulit juga menghadapi gadis polos ini, ia begitu lincah dalam hal melemparkan barang-barang ke arahnya, Mulai dari bantal, baju yang tadi berserakan di lantai, topinya, sampai buku yang ada di sana pun Indah lemparkan kepada Sinta. Gak ada akhlak banget, Sinta mau menangis tapi juga merasa lucu.
__ADS_1
Lebih baik ia menghentikan permainan tersebut, sebelum Indah melemparkan Vas bunga yang ada di sudut kamarnya itu.
'Bisa masuk RS aku.' Batin Sinta.
“Yes, aku menang.” Indah mengepalkan tangannya dan menggoyangkannya ke udara.
“Wah, kamu cemen. Masa kalah sih sama aku, huuuuu.” Gadis itu malah mengejeknya lagi.
“Yah, terserah kamu deh. Aku tuh bukannya kalah, tapi laper. Jadi kita makan dulu yuk.” Sinta mencari alasan.
“Oh, iya. Aku juga lapar.”
“Ya udah kita ganti baju dulu terus ke bawah, nanti aku suruh bibi buat rapihkan kamar aku.”
Indah mengangguk mengiyakan.
Di meja makan…
“Eh, kalian udah turun. Ayo sini, makanannya udah siap.”
“Iya Tante.” Indah mengangguk sopan.
Mereka bertiga pun duduk di meja makan.
“David mana Sin?” Tanya Siska.
“Mungkin masih di kamar Bu.” Jawab Sinta mulai menyendokkan nasi ke piringnya.
“Bi, tolong panggil David yah untuk makan siang.” Perintah Siska pada salah satu asisten rumah tangganya.
“Baik, nyonya.”
“Ayo Indah, makan aja duluan nak, tidak usah menunggu David.” Ucap Siska yang melihat Indah tidak belum menyentuh makanan yang ada di depannya.
“Iya Tante.” Indah pun mulai menikmati makanannya, begitu juga Sinta dan Siska.
Beberapa saat kemudian, David turun dengan wajah yang masih terlihat sedikit basah. Kelihatannya ia baru saja bangun tidur dan mencuci mukanya.
Dari jauh David bisa melihat Indah yang tengah duduk di meja makan itu.
“Oh ayolah David, sadar.” Ia mengira bahwa itu hanyalah khayalannya saja, ia menepuk pipinya sendiri.
“Itu dia anaknya, David makan siang dulu Nak.”
“Iya, Ma.”
David duduk di kursi yang berhadapan dengan Indah. Indah tersenyum melihat padanya, sementara David menggelengkan kepala dan mengucek matanya.
“Kak David kenapa, matanya sakit yah?” Tanya Indah.
“Indah! Ini beneran kamu?” Tanyanya spontan.
Indah bingung.
“Iya itu Indah, memangnya kamu kira siapa?” Siska terkekeh melihat ekspresi David. Ia tahu kalau putranya itu menyukai gadis lucu di depannya ini.
__ADS_1