
Jangan lupa vote, like dan sarannya yah. karena masukan kalian sangat penting buat aku.
Silakan tinggalkan jejak, supaya aku makin semangat update ceritanya.
Terima kasih sudah mampir
Happy reading 😊😘
...***...
"Masuk!" Pak Setya mempersilakan.
Terlihat pria yang berpakaian sangat rapi, dengan kemeja biru dan jas hitamnya, bersama dengan seorang wanita yang seumuran dengan Bu Dania, dengan setelan anggun dan yang tampak glamor.
"Pak Dirman, Bu Linda, silakan masuk." Pak Setya segera berdiri dari tempatnya duduk saat melihat tamu yang datang.
"Silakan duduk Pak, Bu!" Ucap Pak Setya.
Pak Dirman dan istrinya pun duduk di salah satu kursi panjang di ruangan itu. Sementara Indah, Adnan, Ayu, Dewi dan Widia, beralih berdiri di pojok ruangan.
Tak lama kemudian kembali terdengar ketukan pintu.
"Masuk." Ucap Pak Setya kembali.
Pintu terdorong, nampak 2 orang wanita dan seorang pria.
Widia, Dewi dan Indah terkejut melihat orang tua mereka juga datang.
Pak Setya juga mempersilakan semuanya untuk duduk. Bu Dania menatap Indah sedih bercampur kecewa. Sementara Indah menunduk, tak sanggup menatap ibunya.
"Bapak dan ibu sekalian tentu sudah tahu maksud kami dari pihak sekolah memanggil bapak dan ibu semua." Pak Setya memulai pembicaraan, beberapa orang tua siswa yang hadir mengangguk pelan. Ada rasa malu yang terlihat di wajah mereka, mengingat apa yang telah di lakukan oleh putri-putri mereka.
__ADS_1
"Jadi langsung saja, kami sangat menyesali atas kejadian yang telah terjadi. Selain ini adalah kesalahan dari anak-anak, kami juga merasa bersalah. Karena itu membuktikan bahwa pengawasan kami terhadap murid-murid kami masih kurang, apalagi hal ini terjadi di sekolah. Dan atas apa yang telah dilakukan oleh Ayu, Dewi dan Widia kami memutuskan untuk menghukum mereka dengan mengskor mereka selama 2 pekan dan meminta mereka untuk meminta maaf langsung kepada Indah dan orang tuanya." Ucap Pak Setya kembali.
"Dan untuk Indah." Pak Setya mengarahkan pandangan pada Bu Dania.
"Atas nama sekolah kami meminta maaf yang sebesar-besarnya atas kejadian yang telah di alami oleh putri ibu. Dan kami berjanji hal ini tidak akan terulang lagi." Bu Dania kembali melihat pada putrinya
"Saya memahami perasaan ibu, bagaimanapun yang dilakukan oleh putri saya adalah hal yang sangat buruk. Saya juga sampai tidak percaya kalau dia bisa melakukan hal seperti itu. Saya sangat meminta maaf kepada Bu Dania." Ucap Pak Dirman.
Bu Dania mengangguk pelan, dia tidak sanggup mengatakan apa-apa. Saat ini ia hanya berusaha untuk membendung air matanya.
"Dan agar hal ini tidak terulang kembali, saya dan istri saya sudah mengambil keputusan untuk memindahkan Ayu ke sekolah lain. Sebagai orang tua tentu kami juga harus memberinya hukuman." Ayu terkejut mendengar ucapan ayahnya.
"Tidak pa, Aku tidak mau pindah sekolah. Aku ingin tetap di sini."
"Diam Ayu, kamu jangan menyela jika orang tua sedang berbicara. Kamu sudah melanggar kepercayaan mama dan papa, dan menjadi anak yang manja dan sombong seperti ini. Papa dan mama malu dengan kelakuan kamu. Papa dan mama sudah memutuskannya, dan kamu tidak berhak menolaknya." Kali ini istri Pak Dirman ikut berbicara.
Ayu menunduk marah, tidak terima.
Pak Setya awalnya kurang setuju dengan Pak Dirman Namun sebagai orang tua dari Ayu, Pak Dirman sudah memikirkannya matang-matang. Pak Setya hanya bisa mengikuti keputusan yang telah di ambil orang tua Ayu.
Setelah semua percakapan antara orang tua dan guru selesai, Pak Setya memerintahkan Ayu dan teman-temannya untuk memintanya maaf kepada Indah dan ibunya.
Dewi dan Widia saling memandang, lalu mengangguk perlahan.
"Tolong maafkan aku Indah." Ucap Dewi mengulurkan tangannya, hendak menjabat tangan Indah.
"Indah menyeka air matanya, meraih tangan Dewi lalu menyunggingkan senyum.
"Aku juga minta maaf karena telah memperlakukan kamu dengan tidak baik." Ucap Widia.
"Tidak apa-apa kak Dewi, kak Widia. Aku sudah memaafkan kalian."
__ADS_1
Adnan lega melihat senyum di bibir Indah.
"Apa-apaan sih kalian? Kenapa kalian minta maaf sama cewek norak ini?" Ayu geram menunjuk Indah.
"Cukup Ayu, selama ini aku dan Dewi sudah sangat bersabar menghadapi sikap lo yang selalu ingin menang sendiri. Lo tidak ingin melihat orang lain bahagia dan selalu berbuat buruk, dan membuat kita juga melakukan hal yang sama. Aku dan Dewi capek di suruh-suruh terus, kami selalu menuruti apa yang kamu mau. Tapi lo tau gak kenapa gue ataupun Dewi tidak pernah mengatakan apa-apa? Itu semua karena kita takut sama lo Yu. Kita takut kalau lo yang suka menindas anak-anak yang Lo gak suka, lo lakuin juga sama kita. Tapi sekarang sudah cukup, aku dan Dewi tidak bisa terus mendukung lo yang menganggap kami seperti seorang pelayan." Dewi memegang tangan Widia yang mulai menangis.
"Oh, jadi sekarang kalian udah berani sama gue? Dasar teman tidak tahu terima kasih." Ayu menjambak rambut Widia yang sedang berdiri di depannya.
Suasana di ruang BK berubah menjadi gaduh. Widia yang berusaha memisahkan Ayu dan Dewi justru juga ikut dalam adegan menjambak rambut itu, karena Ayu juga menarik rambutnya. Sontak Pak Dirman dan istrinya juga orang tua dari Widia dan Dewi segera memegang anak mereka masing-masing, berusaha memisahkan. Sementara Bu Dania berdiri dari tempatnya duduk terlihat cukup panik dengan apa yang siswi-siswi itu lakukan.
"Cukup Ayu, berhenti. Kamu sudah sangat mempermalukan papa." Pak Dirman memegang tangan putrinya.
"Tapi pa mereka duluan yang mulai." Ayu menatap geram ke arah Dewi dan Widia.
"Diam!"
Ayu terdiam, menarik napas dan mulai merapikan rambutnya yang berantakan, begitu juga dengan Widia dan Dewi.
Beberapa saat kemudian, Ayu melihat ke arah Indah yang sedang berdiri di samping Adnan.
"Ini semua gara-gara lo, cewek norak." Ayu melangkah cepat hendak memukul Indah, tapi Adnan segera menghalanginya dengan segera berdiri di hadapan gadis itu.
"Minggir Adnan, lo... gue mau kasi pelajaran sama cewek norak itu. Lo senang sekarang, ha?" Ayu memberontak, berteriak kepada Indah.
"Indah mundur." Ucap Adnan yang berusaha menahan Ayu.
Sementara Bu Dania, sontak berdiri dan memeluk Indah dan membawanya menjauh dari Ayu.
"Cukup Ayu, cukup." Pak Diman kembali menarik tangan Ayu, dan kali ini memegangnya kuat.
"Kamu keterlaluan, sekarang ayo ikut papa, cepat pulang." Pak Setya membentak dan mulai menari tangan Ayu menuju pintu.
__ADS_1
"Maafkan kami Pak, kami pulang dulu." Istri Pak Dirman pamit tergesa-gesa.
Pak Setya menggelengkan kepala melihat hal yang terjadi.