
Setelah bertanya pada seorang suster yang ia temui, Adnan mengikuti arahan suster tersebut untuk sampai ke ruangan David. Sampai akhirnya pria itu kini berdiri di depan pintu dokter tersebut.
Menarik nafas, ia kembali teringat akan ocehan David semasa SMA.
...
"Nan, apa alasan kamu mengambil jurusan IPA?" Tanya David, ia dan Adnan kini tengah berada di taman sekolah, Adnan dengan buku yang sibuk ia baca, dan David yang asyik memperhatikan sekeliling.
"Karena aku menginginkannya." Jawab Adnan pendek.
"Karena aku menginginkannya." David mengejek, mengulangi perkataan Adnan.
"Tidak asik sekali bicara denganmu, ck." Sedikit sebal.
Adnan tetap acuh, tak ingin mengomentari.
"Kamu tahu kalau aku masuk IPA itu Karena suatu hari nanti, aku ingin sekali menjadi seorang dokter, pasti akan sangat keren kan, dokter David yang tampan." Menghayal, membayangkan dirinya memakai jas putih itu.
"Yah meskipun memang mengambil jurusan di masa SMA itu kadang bukanlah penentu, aku masih ingat ada anak kenalan mamaku dulunya mengambil jurusan IPA di SMA, namun melanjutkan perkuliahan di jurusan teknik mesin, itu sangat konyol bukan." Tertawa kecil.
Tak ada tanggapan dari Adnan.
"Tapi aku yakin, ini adalah langkah yang tepat untuk ku meraih gelar tersebut, dokter David Purnama, ck ck ck, itu sangat cocok untuk namaku."
"Siapa?" Adnan bertanya namun pandangannya masih menatap buku yang ia pegang.
"Siapa apanya? Yah mau jadi dokter? Yah aku nan, kamu gak dengerin aku cerita tadi?" Jengkel.
"Siapa yang tanya?" Beranjak dari duduknya.
David melototkan matanya kesal.
"Kamu memang menyebalkan Nan, pergi sana!" Melempar Adnan dengan batu kecil yang ada di dekatnya.
"Kenapa juga aku mesti cerita panjang lebar ke dia, kamu kan udah tahu Vid dia orangnya gimana, huh." Menggerutu sendiri.
Adnan tertawa kecil, puas sudah membuat David marah.
...
Tok tok
Mengetuk pintu
__ADS_1
"Masuk." Seseorang dari balik pintu menjawab.
Adnan memutar gagang pintu itu, dan....
"Hai Nan, lama tidak bertemu." Sapa David yang memang sudah menunggunya.
Adnan terdiam menatap David yang kini berada di depannya. Ternyata apa yang ia pikirkan memang benar adanya, baru saja ia mengenang masa-masa SMA bersama lelaki itu, kini ia benar-benar ada di depannya.
Adnan tersenyum, kedua sahabat lama itu lalu saling bersalaman dan memeluk satu sama lain.
...
Drrt... Drrtt..
Dering ponsel Sinta kembali terdengar untuk yang 7 kalinya. Namun gadis itu nampaknya masih enggan mengangkat. Ponsel yang berada di sampingnya itu di biarkan begitu saja, ia masih ingin terlelap, pekerjaan di kantor begitu banyak hingga membuatnya sangat sibuk, baru pulang pukul 23:10.
Sesampainya di rumah tadi, ia langsung menuju ke kamar, rumahnya sudah tampak sepi, hanya beberapa asisten rumah tangga yang tak sengaja bertemu dengannya tadi, mereka masih mengerjakan pekerjaannya, sebelum akhirnya juga masuk ke kamar beristirahat. Ayah dan ibunya? Mereka juga mungkin sudah tertidur di kamar, ia yakin ayahnya sudah pulang dari kantor lebih dulu darinya, melihat mobil yang terparkir di bagasi depan.
Sinta langsung menuju kamar, menyimpan tas dan melepas sepatu yang ia gunakan, sebelum akhirnya merebahkan tubuhnya di tempat tidur, tak kuat rasanya untuk mandi dulu atau sekedar membersihkan tubuhnya.
Hingga dering ponsel yang ke-9 kalinya, Sinta sudah tak tahan. Niat hati ingin mengabaikannya saja, justru ia semakin di buat darah tinggi. Dengan kasar mengambil ponsel itu, mengangkat telepon tanpa melihat nama siapa yang tertera di sana, dengan setengah kesadaran, gadis itu mulai mengamuk.
"Halo ini siapa? Kamu tidak tahu ini sudah jam berapa?" Mengucek matanya.
"Saya baru pulang kerja dan sangat lelah, apa tidak ada nomor lain di ponselmu yang bisa kamu hubungi terus-menerus, hah!?"
"Maafkan aku Sin, aku hanya ingin memberitahumu sesuatu. Jangan marah-marah gitu malam-malam, atau hantu-hantu di rumahmu akan merasa terganggu, hahhh." Adit tertawa, membayangkan wajah Sinta yang sedang sangat marah membuatnya merasa lucu.
"Adit, kamu?" Mengecek nama yang tertera di ponselnya.
"Iya aku, kamu kira siapa?” Bertanya santai.
"Aku baru saja tertidur, kamu sudah menggangguku. Simpan saja kejahilan kamu itu untuk besok, jangan menggangguku dulu, bye!" Saat akan menutup teleponnya, gerakan Sinta terhenti mendengar Adit memohon.
"Eehh, tunggu dulu Sin, jangan di tutup dulu, dengerin aku, Kamu pasti akan menyesal saat menutup teleponku, aku membawa berita baik untukmu." Berkata cepat.
"Bodoh amat." Ingin kembali menutup.
"Ini soal David, kamu yakin tidak ingin tahu?"
__ADS_1
Mendengar nama kakaknya Sinta menghentikan gerakannya. Gadis itu beranjak dari tidurnya, duduk bersandar pada headboar tempat tidur. Mungkin ini adalah kabar yang akan membuatnya senang, atau sebaliknya? Ah, entahlah. Tapi Adit tadi mengatakan itu adalah kabar yang baik untuknya, semoga saja apa yang ia harapkan yang akan di katakan oleh pria tersebut, pikir gadis itu.
"Kenapa dengan kak David? Dia kembali menolak untuk pulang?" Penasaran.
"Mau tahu yah....." Menggoda.
"Iya Adit, kamu cepat bicara."
"Mau tahu yahh.... Mau tahu aja, atau mau tahu banget?" Semakin membuat Sinta kesal.
"Adit, cepat bicara gak! Atau aku akan meremukkan ginjal mu itu lalai kita bertemu." Marah.
"Iya iya, aku kan cuma bercanda, serius sekali sih."
"Kakak adek sama aja, kalau marah selalu mengancam, maklum yah... Masih satu pabrik, hihi..." Berbisik, namun Sinta bisa mendengarnya.
"Sekali lagi kamu ngomong kayak gitu, aku benar-benar akan memukulmu Raditya Purnama." Penuh penekanan.
"Hehe, iya iya... Aku cuma bercanda kok."
"Huh." Sinta semakin kesal.
"Aku sudah bicara sama David tadi, dia bilang akan pulang ." Berbicara serius sekarang.
Senyum mengembang di bibir Sinta, ia sangat senang mendengar kabar ini.
"Kamu serius kan? Gak lagi prank aku." Memastikan.
"Iya, ibu Alifia Sinta Nadjah." Menekankan, ia tahu saat ini gadis itu pasti sangat senang.
"Baiklah, aku akan memberitahu mama dan papa besok, mama pasti akan sangat senang."
Adit tersenyum mendengar suara Sinta yang bersemangat.
"Terima kasih yah Dit, kalau gitu udah dulu yah... Bye." Memutus telepon.
"E... Eh tung..."
Telepon terputus.
"Ck, belum juga sempet ngobrol tentang kita." Mengeluh.
Adit menghembuskan nafas panjang, apakah akan ada kata tentang kita dalam kisah hidup mereka? Sementara ia pun tidak memiliki keberanian untuk menyatakan perasaannya pada gadis itu.
__ADS_1
Memendam rasa cinta, kadang begitu menyakitkan. Berpura-pura terlihat biasa saja saat berada di dekat sang pujaan hati sementara jantung sudah dag dig dug pun sama beratnya. Ah, perasaan yang namanya cinta itu memang begitu rumit.