Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja

Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja
"Maafkan Tante, Farid"


__ADS_3

Sesampainya di ruang rawat Dania…


Farid terenyuh melihat Dania yang kini tampak pucat terbaring di brangkar itu. Bagaimanapun ia sudah merasa sangat dekat dengan Dania. Meski kini hatinya sedang berperang antara benci dan rasa sayangnya pada wanita yang tidak lain adalah ibu tirinya itu.


Farid duduk di kursi yang ada di sana, masih memandang Dania.


“Dari tadi mama terus mengigau memanggil nama kakak, dokter bilang Indah harus secepatnya membawa kakak kemari, sepertinya mama sangat membutuhkan kak Farid.” Ucap Indah yang berdiri di samping Farid.


Farid tersenyum menatap Indah, terlihat gadis itu sangat kelelahan sekarang.


“Kamu sebaiknya istirahat dulu, biar kakak yang menjaga tante.” Menatap Indah penuh kasih.


“Tapi kak…”


“Tidak papa, tidurlah di sana.” Pandangan Farid beralih pada satu sofa panjang yang ada di ruangan terebut.


“Nanti akan kakak bangunkan kalau sudah masuk waktu sholat isya, atau kalau tante Dania sudah sadar.” Farid membujuk.


Indah berpikir sejenak sebelum akhirnya mengangguk. Ia memang sangat lelah sekarang, istirahat sebentar mungkin akan mengembalikan tenaganya agar ia juga bisa menjaga Dania dengan baik.


Tak lama, baru saja 10 menit membaringkan tubuhnya di sofa itu, Indah langsung terlelap. Farid memandangnya dari jauh, tersenyum lucu melihat adiknya.


“Emm… Fa… Farid…” Igau Dania.


Pandangan Farid kembali Dania.


“Farid… Farid.” Terus memanggil.


“Iya tante, aku di sini.” Farid mendekat.


“Tante…”


Perlahan Dania membuka matanya, pandangannya masih tampak buram, sampai akhirnya ia dapat melihat wajah pemuda yang kini berdiri di sampingnya.


“Tante sudah sadar, tante mau minum?” Bertanya.


Dania mengangguk perlahan. Farid mengambilkan segelas air yang ada di atas meja di samping brangkarnya, memberikannya pada Dania.


“Ini tante, maaf…” Membantu Dania untuk duduk.


Dania meminum air itu dari tangan Farid.


“Terima kasih nak.” Ucapnya pelan.


Farid mengangguk dengan ekspresi datarnya. Setelah memberikan air, pandangannya terus menunduk.


“Apa kamu marah sama tante Farid?” Ucapnya pada pemuda itu.


Farid tidak menjawab.

__ADS_1


“Farid, maafkan tante atas apa yang telah terjadi. Ini semua memang salah tante, maaf sudah membuat kamu dan ibumu menderita nak. Tapi ketahuilah, tante benar-benar tidak tahu apa-apa, suami tante… maksud tante papa kamu tidak mengatakan kalau dia sudah memiliki istri nak. Dia mengatakan kalau dia masih sendiri, kalau tante tahu jika dia sudah memiliki keluarga, tidak mungkin tante akan jatuh cinta dan menikah dengannya. Apa kamu akan menghukum tante karena ketidaktahuan tante ini nak? Hm?” Menatap Farid.


Farid akhirnya mengangkat kepalanya.


“Tante tahu sekarang kamu mungkin membenci tante, sengaja ataupun tidak kenyataannya tante sudah menghancurkan keluarga kalian, maafkan tante nak.” Dania meneteskan air matanya.


Sejujurnya apa yang dikatakan Dania memang benar. Farid kini tahu Dania tidak mengetahui apa-apa tentang dia dan ibunya, wanita itu sejujurnya tidaklah bersalah. Namun apa mau di kata, perasaannya yang hancur masih mengkhianati fakta yang ia tahu hari ini. meski sudah mencoba untuk memaafkan Dania, nyatanya di hati kecilnya masih ada api kemarahan di sana untuk wanita tersebut.


Mencoba untuk memaafkan dan terlihat baik-baik saja, setidaknya kondisi Dania sekarang harus membaik, jika ia ingin melihat adiknya bahagia. Ia sudah tahu bagaimana rasanya ditinggalkan oleh orang-orang terdekatnya, ia tidak ingin Indah merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan kini, hidup tanpa ibu dan ayah di sampingnya.


“Untuk saat ini sebaiknya tante tidak memikirkan hal itu dulu, fokuslah pada kesembuhan tante.” Akhirnya itulah kata yang dapat keluar dari mulutnya.


“Tapi…”


“Pikirkanlah Indah tan, kasihan dia kalau tante terus berada di tempat ini.” Farid dan Dania melihat ke arah Indah yang sudah terlelap di sofa itu.


“Istirahatlah tan, aku akan mengurus beberapa hal dulu, di bagian administrasi.” Farid beranjak, ia berjalan keluar dari ruangan itu, Dania melihat punggung pemuda itu hingga menghilang di balik pintu.


“Maafkan tante Farid.” Dania tertunduk.



“Semuanya sudah siap tuan?” Tanya Daniel yang baru saja sampai di apartemen Adnan, cowok itu tengah mengikat tali sepatunya.


“Iya, oh ayolah Daniel kita tidak sedang berada di kantor sekarang, aku sudah bilang kan untuk tidak bersikap formal jika kita sedang berdua.” Tegur Adnan.


“Oh iya maaf, aku hanya kebiasaan di kantor.” Daniel menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Wah… kamu semangat sekali ingin pulang ke Indonesia, apa sudah ada yang menunggumu di sana?” Daniel menggoda.


Adnan tersenyum malu-malu.


“Mungkin iya mungkin juga tidak, aku hanya ingin mencari seseorang yang telah lama ku pergi dariku.” Ucap Adnan pelan.


“Apakah seorang wanita?”


Adnan tidak menjawab, namun dari senyumnya hal itu sudah menjelaskan semuanya.


“Lalu bagaimana dengan Celine?”


Adnan menatap Daniel datar.


Oh, sepertinya pria itu sudah salah menyebutkan nama, ditatap seperti itu membuat Daniel salah tingkah.


“Maaf kalau aku salah bicara.” Merasa tak enak.


“Harus berapa kali ku katakan padamu aku sama sekali tidak memiliki hubungan apapun dengannya.”


“Tapi semua orang di kantor sudah tahu kalau dia adalah calon istri kamu.”

__ADS_1


“Terserah orang lain mau mengatakan apa, terserah wanita itu mau mengatakan aku ini calon suaminya, namun aku sama sekali tidak punya hubungan apapun dengannya. Dia hanya wanita angkuh yang orang itu jodohkan denganku, aku tidak pernah menerima perjodohan ini.” Ucapnya tegas.


Kalau sudah seperti ini, Daniel akan mencari amannya saja. Ia akan berhenti membahas hal itu lagi, daripada mood bosnya itu semakin rusak.


‘Oh, Daniel lain kali lihatlah situasinya dulu, kamu sudah membuat senyum bos mu yang jarang terlihat itu jadi memudar, dasar bodoh.’


“Emm… Ehem, sebaiknya kita… kita berangkat sekarang, setengah jam lagi pesawat kita akan berangkat.” Daniel mengalihkan.


Adnan menarik nafasnya, ia sudah bersikap berlebihan. Mengatur moodnya kembali.


Pria itu akhirnya hanya mengangguk.



Hampir sepekan Dania di rawat di rumah sakit, dan hari ini ia diperbolehkan untuk pulang ke rumah. Indah dengan semangat membereskan barang-barang ibunya yang ia bawa dari rumah, sedang Farid sedang mengatur semua syarat untuk kepulangan Dania.


“Kak Farid mana yah ma, lama sekali.” Indah menunggu tak sabar.


Dania yang masih duduk di brangkar itu tersenyum, meski keadaannya belum sepenuhnya pulih, ia masih harus istirahat total di rumah.


“Sabar sayang, sebentar lagi pasti datang.”


Beberapa saat kemudian, Farid muncul dari balik pintu, Indah yang melihatnya langsung beranjak dari duduknya.


“Kak kita sudah boleh pulang kan?” Antusias.


Farid tersenyum melihat tingkah gadis itu.


“Iya, kita sudah bisa bawa tante pulang sekarang, aku juga sudah memesan taksi di bawah.”


Indah tersenyum senang, ia sangat bahagia akhirnya ibunya bisa pulang kembali ke rumah, ia berjanji akan menjaga dengan baik ibunya itu.


“Mari tante.” Ajak Farid.


“Kamu juga pulang ke rumah kan nak?” Tanya Dania, tatapannya pada Farid seakan memohon agar pemuda itu tidak meninggalkan mereka.


Farid terdiam.


Indah mendekat ke brangkar, memegang tangan Dania dengan lembut.


“Tentu saja ma, memangnya kak Farid akan pulang ke mana lagi? Rumah kita kan rumah kak Farid juga.” Ucap Indah tenang, menatap dengan serius ibunya itu.


“Iya kan kak?”


Di Tanya seperti itu, Farid tidak memiliki pilihan lain selain kata yah. Mana tega ia meninggalkan mereka berdua, Dania masih sakit dan Indah, dia harus sekolah ia akan bergantian menjaga Dania.


‘Mungkin akan lebih baik aku tinggal bersama mereka sampai tante Dania sembuh.’ Gumamnya.


“Kak?” Indah menyadarkan Farid dari lamunannya.

__ADS_1


“I… iya, kita akan pulang bersama.” Tersenyum kecil.


Dania lega mendengar hal tersebut.


__ADS_2