
Indah membuka matanya perlahan, kepala dan lehernya terasa sakit. Gadis itu mengeluh memegangi lehernya. Mungkin karena dia tertidur dalam posisi duduk di meja makan itu.
“auugghh…. “
Mengumpulkan kesadarannya, Indah mengucek matanya yang masih melihat samar semuanya. Saat telah sadar, gadis itu melirik jam dinding di sana. Pukul 14:15, ia sudah tertidur selama itu….
Kembali melihat sekeliling, dan berakhir pada makanan di meja. Makanan itu belum tersentuh, itu artinya ibunya belum pulang.
“Kenapa mama belum pulang, ini sudah pukul berapa? Mama bilang kan akan pulang pagi…..” Gadis itu berucap sendu.
Rasa khawatir kembali menghantuinya, bagaimana jika mamanya dalam masalah.
“Ayolah Indah jangan berpikiran buruk terus.”
Indah mengambil ponsel dan menghubungi kembali ibunya itu, tapi tetap saja hanya suara operator yang terdengar.
“Masih belum aktif juga.” Indah menggigit jarinya, semakin khawatir saja.
Ia menghembuskan nafas kasar, lalu menutup makanan di meja dan segera ke kamarnya untuk sholat dhuhur walau terlambat karena ketiduran.
…
“Ya Allah, hanya kepada engkaulah hamba memohon dan meminta, di manapun mama berada tolong jagalah mama, semoga mama cepat pulang ya Allah. Tenangkan lah hati hamba untuk menunggu mama, aamiin.”
Indah membuka mukenah nya, melipat lalu meletakkannya dengan rapi, gadis itu kembali mengambil ponsel menekan nomor Dania, berharap kali ini bisa tersambung, ia ingin sekali mendengar suara ibunya.
Namun tetap saja, ponsel ibunya masih belum aktif, Indah menekan nomor lain, terhubung….
“Halo, assalamualaikum, Sin”
“wa’alaikum salam, iya Ndah.”
“Sin kamu boleh ke rumah ku gak?”
“Kamu kenapa? Kayak orang ketakutan gitu, kamu baik-baik aja kan?” Sinta khawatir.
“Nanti aku certain di sini, kamu ke sini yah….”
“Iya… iya aku ke sana sekarang, kamu tunggu yah.” Sinta menenangkan.
Telepon terputus….
Beberapa menit kemudian…
Tanpa mengucapkan salam Sinta langsung saja nyelonong masuk ke rumah Indah, berteriak memanggil nama gadis itu.
“Indah! Indah kamu di mana?” Teriaknya di ruang tamu.
Mendengar suara Sinta, Indah segera menghampirinya.
“Sin…..” Indah menghambur ke pelukan Sinta.
__ADS_1
Sinta yang tidak mengerti di buat bingung dengan tingkah sahabatnya itu. Membiarkan Indah terlebih dahulu menenangkan dirinya untuk beberapa saat. Setelah itu barulah ia melerai pelukan gadis manis itu perlahan, dan mulai bertanya.
“Indah ada apa? Kamu membuatku khawatir saja.” Tanyanya.
“Mamaku Sin, dia belum pulang sampai sekarang.”
Sinta mengerutkan keningnya.
“Memangnya tante Dania memang bilang mau pulang hari ini?”
Indah menganggukkan kepala.
“Mama bilang akan pulang pagi ini, tapi sampai sekarang belum datang-datang juga. Aku khawatir Sin.” Gadis itu mulai menangis lagi, sesenggukan.
Sinta menarik tangan Indah dan mendudukkannya di sofa begitu juga dengan dirinya.
“Kamu udah telepon tante?”
Lagi, Indah mengangguk.
“Aku sudah telepon mama berulang kali tapi tetap saja cuma suara wanita itu yang terdengar, menyebalkan sekali aku tidak suka mendengarnya.”Indah kesal.
Sinta mengerutkan dahinya, tidak mengerti.
“Suara wanita? Maksud kamu siapa? Tante Dania?”
“Ya bukanlah Sin, masa aku bilang kayak gitu sama mamaku sendiri.” Indah merajuk.
Mengatur nafasnya, mencoba untuk menahan kekesalannya saat ini.
“Huufftt… bicaralah yang jelas Indah, aku tidak mengerti siapa yang kamu maksud.” Sinta berbicara dengan lemah lembut, katanya.
“Istt… kamu nih gak ngerti banget sih, itu loh wanita yang selalu bilang nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, nomor yang anda tuju sedang tidak aktif. Dia ngomong gitu terus menyebalkan sekali, huh.” Indah melipat tangannya di dada.
Mendengar itu amarah Sinta sudah tidak bisa ia tahan lagi, perempuan yang Indah bilang setengah laki-laki itu pun menggetok kepala Indah dengan kesalnya.
“Kau ini membuat orang kesal saja, kenapa tidak bilang dari awal kalau itu suara operator, malah main teka-teki.” Marah Sinta.
Indah terdiam, di kelopak matanya kini sudah tergenang air mata, siap untuk menangis. Menatap Sinta dengan wajah yang uuhh… sungguh memelas.
“Kamu kok gitu sih, aku kan lagi sedih, kamu malah membuatku semakin sedih. Jahat sekali, hiks… hiks….” Indah mulai menangis.
Sinta gelagapan, bukan maksudnya membuat Indah menangis, ia hanya kesal karena ucapan gadis itu, aduhh… sekarang ia malah merasa bersalah.
“Ya udah… ya udah maafin aku yah, aku tadi cuma kesal sama kamu.” Sinta membujuk.
Indah memegang kepalanya yang tadi di getok sama Sinta.
“Ini sakit tahu… Waahhhhh hiks hiks.”Tangisan Indah semakin keras.
“Aduhhh…… Indah jangan keras-keras nangisnya, nanti tetangga pada datang loh.” Sinta kembali membujuk.
__ADS_1
“Ka… kamu jahat.” Isak Indah.
“Iya iya, maaf, aku salah huussttt… Kamu diam dong.” Sinta menghibur.
‘Duh, gawat nih, bisa di kira maling aku sama tetangga nih anak, melirik ke pintu depan seorang tetangga sudah melihat-lihat rumah Indah, Sinta ayolah berpikir apa yang harus kamu lakukan agar dia diam. ’ Sinta membatin.
“Waahhh hiks hiks…” Indah masih terus menangis.
Setelah berpikir sejenak, cewek tomboi itu akhirnya terpikirkan sesuatu untuk mengalihkan perhatian Indah.
“Indah, kita telepon Tante Dania lagi yah… siapa tahu aja sudah nyambung.” Ucapnya cepat.
Mendengar nama ibunya, Indah mendadak menghentikan tangisnya.
“Oh iya yah… aku sampai lupa sama mama.” Ucap gadis itu dengan santainya.
Melihat itu mulut Sinta menganga, dengan mudahnya Indah menghentikan tangisnya yang sudah sekeras orang pakai toa itu.
‘Uuugghh… kalau bukan sahabat aku, sudah aku tendang dan lempar dia ke tempat sampah, kan malu diliatin tetangga, di kiranya aku lagi jahatin dia.’ Batin Sinta marah.
Sinta melirik Indah dengan wajah kesalnya. Indah yang melihat itu pun bertanya.
“Kamu kenapa mukanya gitu?” Tanya Indah polos.
“Huuufftt… gak papa.” Sinta menahan emosinya.
‘Sabar Sin, sabar, jangan sampai kamu buat dia menangis lagi. Bisa-bisa tetangga beneran datang ke sini, sabar...’
“Ohh… aku kira kenapa, ya udah aku telepon mama lagi yah.”
Sinta menganggukkan kepalanya.
Indah kembali menghubungi nomor ibunya, tapi tetap saja, masih tidak tersambung.
“Masih suara wanita itu Sin.” Ucap Indah pilu.
'Suara operator Indah, uugghh.... tapi kasihan juga nih anak.'
Sinta juga mulai khawatir, tapi ia mencoba menghibur sahabatnya itu.
“Ya udah kamu gak usah pikir macam-macam dulu. Mungkin saja jaringan di tempat tante sedang bermasalah, atau ponsel tante lobet, jadinya gak aktif. Lebih baik kita berdo’a semoga tante Dania di lindungi sama Allah.”
Indah yang mendengar itu, menatap Sinta mematung dengan wajah imutnya.
“Kenapa kamu diam?” Sinta heran.
“Wah… alhamdulillah aku seneng banget, ternyata kamu juga bisa berpikiran bijak seperti ini Sin, bagus.” Indah mengacungkan jempolnya.
Sinta rasanya ingin menangis saja, Indah ini kadang konek kadang juga enggak. Tadi dia sedih sekarang malah memujinya.
‘Aduuhh… punya teman kok aneh banget.’ Sinta mengeluh dalam hati.
__ADS_1