Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja

Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja
Sikapnya yang Dingin


__ADS_3

Jangan lupa vote, like dan sarannya yah. karena masukan kalian sangat penting buat aku.


Silakan tinggalkan jejak, supaya aku makin semangat update ceritanya.


Terima kasih sudah mampir


Happy reading 😊😘


...***...


Malam ini Indah Masih asyik dengan hobinya. Membaca buku, tepatnya novel. Sejak ia pulang dari Masjid, ia hanya makan malam dan langsung masuk ke kamar. Demi melanjutkan bacaannya. Nanggung katanya, sudah hampir menyelesaikan 1 buku lagi.


Indah mengambil posisi yang nyaman di tempat tidur. Duduk bersandar dan meletakkan sebuah bantal di kedua pahanya, lalu menaruh buku di atas bantal itu. Jemari lembutnya berkali-kali membalikkan lembar demi lembar novel itu. Raut wajahnya pun berkali-kali berubah, mengikuti alur cerita yang ia baca. Kadang ia terlihat senang dengan senyum simpul di bibirnya. Kadang pula menampakkan raut wajah yang kesal. Dan akhirnya beberapa jam kemudian, Indah telah menyelesaikan bacaannya. Kemudian menyimpan novel itu di sampingnya. Wajahnya tampak ceria, sepertinya cerita di novel itu berakhir dengan bahagia. Sesekali ia tersenyum kecil, jika mengingat bagian lucu dalam cerita tadi.


Indah melirik jam kecil di samping tempat tidurnya. Waktu menunjukkan pukul 10:20, dia tidak menyadarinya, seakan waktu berjalan dengan cepat ketika ia membaca buku. Di bukanya jilbabnya, kemudian menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Setelah itu, bersiap-siap untuk tidur. merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Saat akan memejamkan mata, Bayangan seorang laki-laki muncul dibenaknya. Indah kembali membuka mata, memikirkan sesuatu.


"Adnan, ternyata dia kakak kelasku di sekolah, aku tidak pernah menduga itu." Ucapnya lirih kepada diri sendiri.


Hari ini Indah kembali bertemu dengan Adnan di Masjid. Maksudnya bukan bertemu, hanya berpapasan karena mendatangi tempat yang sama. Awalnya Indah berharap lebih sejak peristiwa adik Adnan yang kehilangan sepatunya itu. Dia menyangka setelah itu, Adnan akan lebih ramah padanya. Namun kenyataan berbanding terbalik dengan apa yang Ia harapkan. Hari ini saat berpapasan dengan Adnan di tangga Masjid. Adnan tidak mengucapkan apa-apa. Tidak sekedar menegur atau memberi sebuah senyum, atau bahkan mengalihkan pandangannya kepada Indah. Adnan bersikap seakan mereka tidak pernah bertemu dan bertegur sapa sebelumnya. Sikapnya yang dingin membuat Indah cukup sedih.


"Mengapa aku merasa sedih begini, memangnya kenapa jika dia bersikap dingin padaku? Tidak ada yang salah dengan itu, bukan? Bahkan kami tidaklah saling mengenal satu sama lain. Hanya tak sengaja mengetahui nama masing-masing. "Aku hanya seseorang yang tak sengaja melihatmu di hari itu. Kemudian mengagumimu dan selalu memperhatikanmu. Terkadang perasaan yang ada membuat hati sesak sendiri. Meski bukan siapa-siapa, namun hati selalu menuntut lebih."


...***...


Hari ini siswa-siswi akan naik ke depan kelas 1 per 1 untuk membacakan hasil puisi yang telah mereka buat. Banyak sekali tema puisi yang mereka bawakan. Ada yang membawakan puisi tentang Ibu, ayah, keluarga, pemandangan, persahabatan, dan ada pula yang membawakan puisi tentang cinta, yang membuat satu kelas menyoraki dan mengejek temannya itu, hehe.


Indah tampil dengan membawakan puisi yang berjudul ayah. Indah membaca puisi itu dengan penuh penghayatan, selain itu Indah memang sangat merindukan ayahnya, baginya puisi ini ia persembahkan untuk ayahnya yang sudah tenang di alam sana. Puisi tersebut sukses membuat guru dan teman-temannya tersentuh.


Seperti biasa setelah pelajaran berlangsung bel tanda istirahat berbunyi. Para guru mengakhiri pembelajaran mereka dan siswa-siswi berhamburan tidak sabaran keluar kelas. Kali ini Indah tidak langsung ke kantin. Ia memilih untuk ke perpustakaan karena akan mengembalikan buku Bahasa Indonesia yang ia pinjam beberapa hari yang lalu. Jika tidak dikembalikan sekarang, dia bisa terkena denda.


Sebenarnya Indah cukup senang jika memilih menghabiskan waktu istirahatnya di perpustakaan. Apalagi ada banyak novel dan buku-buku puisi di sana, yang membuat Indah penasaran untuk membacanya. Namun sahabatnya Sinta selalu mengajaknya hanya ke kantin. Dan Indah tidak sampai enak hati jika harus menolak ajakan sahabatnya itu. Namun hari ini dia memiliki alasan untuk itu, ia harus mengembalikan buku yang ia pinjam tepat waktu. Alhasil, Sinta yang menganggap membaca buku membosankan memilih untuk ke kantin sendiri, dan Indah akan menghabiskan waktu istirahatnya hari ini di perpustakaan, dan ia juga berencana akan meminjam sebuah novel di sana.


Sesampainya di perpustakaan, Indah langsung mengembalikan buku Bahasa Indonesia yang sedari tadi ia tenteng ditangannya. mencari namanya pada daftar pinjam, dan segera meletakkan buku itu kembali ke tempatnya. Kemudian menuju tempat penyimpanan novel, ia sangat bersemangat kali ini. Rak itu cukup tinggi dengan banyaknya novel berjejer rapi di sana, dan di rak paling atas terdapat buku ensiklopedia. Indah melihat 1 per 1 judul novel itu, hingga ia tertarik pada salah satu novel yang ada di bagian rak yang cukup tinggi.


Beberapa kali Indah mencoba meraihnya, kakinya pun sampai berjinjit, demi mencapai buku yang ia inginkan, hingga membuat rak buku itu juga ikut bergoyang karena dijadikan tumpuan oleh-nya. Dan ketika Indah mendapatkan buku itu, sebuah ensiklopedia yang cukup besar terjatuh hingga hampir mengenai kepala Indah.


"Aaghh..." Teriak Indah cukup keras, dengan mata terpejam.


Namun, tiba-tiba tangan seorang laki-laki muncul di sana, dengan sigap menangkap buku itu, entah dia datang dari mana. Indah yang tadinya sudah pasrah akan tertimpa buku tebal itu merasa heran, mengapa ia tidak merasakan apa-apa. Ia membuka matanya perlahan, dan terlihat sosok laki-laki yang selalu ia harapkan kehadirannya, masih dengan posisi tangannya berada di atas kepala Indah, menangkap buku itu. Raut wajahnya terlihat sangat khawatir.


"Kak Adnan." Indah berucap pelan.


Adnan tidak menjawab dan segera meletakkan ensiklopedia itu kembali ke tempatnya. Badannya yang cukup tinggi membuatnya sangat mudah meraih rak di bagian atas. Siswa-siswi dan penjaga perpustakaan yang sedari tadi melihat ke arah mereka, karena terkejut dengan teriakan Indah segera mengalihkan pandangan mereka kembali.

__ADS_1


"Terima kasih." Ucap Indah.


Adnan tidak mengatakan apa-apa. Setelah menyimpan buku itu, ia segera melangkah pergi dari Indah, meninggalkan perpustakaan.


"Ada apa dengannya? Aku kan hanya berterima kasih. Kenapa sikapnya dingin sekali?" Gerutu Indah pelan.


Indah berjalan perlahan menuju salah satu kursi di dekat jendela. Persis di tempat laki-laki yang beberapa hari lalu ia lihat sedang duduk di kursi itu juga. Ia menatap keluar jendela sebentar. Di luar sana terlihat ada banyak motor-motor terparkir milik siswa dan para guru. Ada pula sebuah pohon rindang di sana, persis di samping gerbang masuk sekolah. Terlihat beberapa siswa sedang berteduh di bawahnya. Mengobrol sambil sesekali tertawa bersama. Ya, sekolah ini terlihat begitu asri dengan banyaknya pohon-pohon yang rindang menghiasi. Membuat udara pun terasa sangat sejuk. Indah mengalihkan pandangannya ke sisi gerbang sekolah. Terlihat Pak Mamat sedang duduk di posnya. Pak Mamat adalah satpam di sekolah itu. Indah menyunggingkan senyum sejenak. Kemudian kembali menatap pada buku yang ada ditangannya.


Saat akan membuka lembaran pertama buku itu, Indah teringat sesuatu. Beberapa hari yang lalu, ia melihat seseorang duduk di tempat ini juga. Dan Indah merasa mengenalnya, walaupun Indah tidak melihat wajahnya. Dan hari ini, dia bertemu dengan Adnan. Bahkan bukan hanya bertemu, Adnan juga sudah menolongnya. Dan Indah yakin, lelaki yang ia lihat beberapa hari yang lalu itu adalah Adnan.


"Mengapa kamu bersikap sangat dingin padaku? Apakah hadirku mengganggumu?" Indah terlihat sangat sedih.


...***...


Indah kembali ke kelas ketika bel berbunyi, dengan sebuah novel ditangannya.


"Ada apa? Kenapa kamu terlihat sangat sedih?" Tanya Sinta saat melihat Indah masuk ke kelas dengan raut wajah murung.


"Tidak ada apa-apa." Jawab Indah berbohong.


"Kalau ada yang mengganggumu bilang saja sama aku, nanti aku yang bales." Sinta menaikan lengan bajunya lebih tinggi. ( Dasar Sinta, dia selalu berpikir berkelahi adalah solusi dari setiap masalah).


"Tidak Sinta, tidak ada yang menggangguku kok. Kamu ini, lagian berkelahi itu tidak baik."


"Tidak apa-apa Sinta, nanti aja yah aku ceritanya."


"Ya udah, tapi jangan sedih lagi. Kamu terlihat jelek saat memasang wajah seperti itu hahh." Sinta mengejek.


"Oh...yah..." Indah membulatkan matanya dan kali ini memasang wajah cemberut.


Saat akan membalas ejekan Sinta Bu Rahma masuk, dan pelajaran pun kembali berlangsung.


...***...


Indah dan Sinta berjalan bersama saat pulang sekolah. Panas matahari yang cukup terik, tak menyurutkan semangat mereka untuk berjalan bersama. Mereka sedang asyik membincangkan sesuatu, terutama Sinta yang sedari tadi begitu bersemangat bercerita sambil tertawa.


"Ingat gak cara si Radit baca puisi. Hahh.... lucu banget. Apalagi dia nulisnya puisi cinta, aku benar-benar gak bisa nahan tawa aku tadi." Sinta begitu serius menceritakan sewaktu Radit tampil ke depan kelas membacakan puisinya sambil terus saja tertawa. Indah hanya tersenyum simpul.


" Apalagi si Adit yang puisinya cuma separuh, cuma 4 baris, adduhh..... lucu banget. Bu Musda mukanya sampai kesal gitu lihat kelakuan dia. Hahh..... Adit dan Radit memang cocok banget yah." Sambung Sinta.


" Cocok apanya?" Indah bingung.


" Iya, mereka duduk bareng, namanya juga hampir sama, apalagi jahilnya, hahh..." Lagi-lagi Sinta tertawa cukup keras, membuat orang-orang yang mereka lewati di jalan spontan berbalik ke arah mereka berdua.

__ADS_1


"Kamu ada-ada aja deh hehe.... emang sih tadi mereka lucu, tapi.... kamu gak boleh kek gitu, tidak baik Sin kesannya kamu kayak mengejek mereka." Indah menasehati.


"Ah, kamu gak asik, semuanya serba gak boleh. Aku bosen dengernya tau."


"Hehe... kan emang gak boleh." Indah cengengesan mendengar ucapan sahabatnya itu.


Meskipun sahabatnya ini kadang gak kalah jail dari Radit dan Adit, tapi Indah yakin Sinta adalah anak yang sangat baik. Hanya perlu teman yang selalu mengajaknya berbuat baik, saat dia sendiri mulai salah arah.


Saat mereka berdua akan sampai di pertigaan komplek, seseorang dengan mengendarai sepeda motor melintas di samping mereka. Indah yang sangat mengenal sosok itu terus melihatnya hingga menghilang dari pandangannya.


"Sin... Sinta."


"Iya... bentar, bentar." Sinta sibuk mengikat tali sepatunya yang terlepas.


"Iihh,,, cepetan." Ucap Indah tidak sabaran.


"Kenapa sih Indah."


"Itu... itu, tadi kak Adnan kan?" Tanya Indah sambil menunjuk ke arah jalan yang dilalui Adnan tadi.


"Yang mana?" Jawab Sinta Bingung, mencari-cari sosok yang ditunjuk Indah


"Itu, yang barusan lewat sini, masa kamu gak liat sih."


"Siapa? aku gak liat. Kan tadi aku Iket tali sepatuku Indah."


"Yah.... kirain kamu liat." Indah sedikit cemberut. Sementara Sinta merasa bingung dengan sikap sahabatnya itu. Jika menyangkut tentang Adnan, Indah selalu bersemangat untuk membahasnya.


"Kamu suka yah sama kak Adnan?" Tanya Sinta blak-blakan.


Deg....


Indah terkejut mendengar pertanyaan sahabatnya itu. seketika Indah menjadi salah tingkah.


"Dijawab dong Ndah." Ucap Sinta menepuk pundak Indah.


"Iihh.... kamu apaan sih, enggak kok." Indah menyembunyikan wajahnya dengan menatap ke arah lain.


"Hayoo.... jangan bohong, kamu suka kan sama kak Adnan."


"Eng... enggak Sin. Udah ah, aku gak mau bahas itu lagi." Indah melangkah cepat meninggalkan Sinta.


"Lah, kok ngambek." Sinta mengejar Indah.

__ADS_1


__ADS_2