
Dengan tergesa-gesa Adnan keluar dari rumah itu, menemui kepala penjaga yang Indah ajak bicara tadi.
“Kapan mereka pergi?” Terdengar amarah dalam intonasi suaranya.
“Sekitar 3 jam yang lalu Tuan, tadi…”
“Mengapa kalian tidak memberitahuku soal ini!” Membentak.
“Maafkan saya tuan Muda, saya pikir tuan sedang berada di sekolah dan saya tidak ingin mengganggu tuan.” Menundukkan kepala.
Adnan memijit pelipisnya menahan amarah.
“Ke mana mereka pergi? Ayo jawab!”
“Sa… saya tidak tahu tuan.”
“Lalu untuk apa aku menugaskan kalian untuk berjaga di sini kalau kalian tidak tahu apa-apa, hah! Kalian! Arrgghh.” penuh penekanan.
“Sekali lagi saya minta maaf tuan muda, nona Indah dan ibunya tidak ingin memberitahu kami ke mana mereka akan pergi, jadi kami tidak ….”
“Bodoh sekali, kalian kan bisa mengikuti mereka! Apa harus ku beri tahu juga!” Semakin marah.
“Kami memang bersalah tuan muda.” Membungkukkan badan, takut-takut. Baru kali ini ia melihat tuan muda mereka yang tak pernah marah, sekarang malah membentak mereka. Penjaga yang lain ikut membungkukkan badan melihat pemimpin mereka juga melakukan hal itu.
Berusaha menahan amarahnya, Adnan memutuskan untuk meninggalkan tempat itu. Namun saat ia akan beranjak kepala penjaga itu menghentikannya.
“Tunggu tuan muda.” Mengeluarkan sepucuk surat dari kantong jas hitamnya.
“Ini adalah titipan dari nona Indah, dia menyuruh saya untuk memberikannya kepada tuan.”
Adnan mengepalkan tangannya kuat-kuat. Apakah itu sebuah surat perpisahan? Apakah ia mampu untuk membacanya? Apakah ia kuat untuk membaca setiap kalimat yang ada di sana?
Ia masih terdiam memandangi kertas putih itu.
“Tuan…” bingung.
“Apakah anda tidak ingin meng…”
Sebelum kalimat itu selesai kepala penjaga itu ucapkan, Adnan dengan cepat merebut surat itu dan berlalu dari tempat tersebut, tanpa berucap sedikitpun lagi.
…
Sepanjang perjalanan Indah hanya menatap keluar jendela mobil. Meski ia tidak membuka kaca pembatas itu. Gadis itu tidak mengucapkan kata selain iya dan tidak jika Dania mengajaknya bicara. Melihat banyaknya kendaraan dan gedung-gedung di sepanjang jalan, namun tatapannya kosong.
Meski telah pergi dari tempat tersebut, hatinya masih tertinggal di sana. Yah… separuh hatinya telah teringgal di kota itu.
__ADS_1
‘Aku berharap bisa bertemu dengan kalian lagi suatu hari nanti. Sinta, kak David aku menyayangi kalian, kak Adnan… mungkin terlalu dini untuk mendefenisikan rasa ini adalah cinta. Aku tidak tahu apakah rasa yang ada di hatiku untukmu hanyalah sebatas rasa kagum atau cinta monyet yang akan hilang begitu saja nanti, seiring berjalannya waktu. Namun, sungguh… perasaanku tulus, dari pertama aku melihat kak Adnan sampai hari ini, perasaan masih tetap sama, Indah dan menenangkan.’
…
Tak berniat untuk kembali ke sekolah, Adnan lebih memilih untuk ke tempat di mana ia dan Indah dulu duduk berdampingan, yah… pantai itu. Cowok itu masih tampak diam, masih terus memandangi sepucuk surat yang ada ditangannya.
“Mengapa kamu melakukan ini Indah? Mengapa kamu pergi? Andai kamu tahu bagaimana perasaanku saat ini?” mengepalkan satu tangannya.
Adnan tertunduk, hatinya yang hancur membuat setetes bening embun itu kembali berlabuh dipipinya.
Kembali menghapus jejak air matanya, Adnan akhirnya memberanikan diri untuk membuka lembaran surat itu. Perlahan setiap lipatan itu akhirnya terbuka.
Untuk kak Adnan
Assalamu’alaikum kak, lewat surat ini aku ingin menyampaikan maaf sekaligus terima kasihku kepada kak Adnan. Beberapa bulan mengenal kak Adnan adalah hal yang yang indah dan menyenangkan untukku. Bagiku kak Adnan adalah malaikat penolong yang dikirimkan Tuhan untukku, kak Adnan selalu ada di saat aku sedang mengalami kesulitan, bahkan kak Adnan tidak segan untuk membahayakan diri kak Adnan sendiri untukku. Terima kasih untuk semuanya kak, aku sangat bahagia bisa mengenal kak Adnan.
Maafkan aku karena aku pergi tanpa berpamitan terlebih dahulu sama kakak. Aku juga tidak menginginkan hal ini, tapi keadaan memaksa aku dan mama untuk melakukannya kak, aku harap kak Adnan tidak marah dan membenciku karena hal ini.
Aku berharap suatu hari nanti kita bisa bertemu lagi kak, ada banyak hal yang ingin kusampaikan, tapi… mungkin ini belum saatnya, aku hanya berharap Allah akan mempertemukan kita kembali dan memberikan jalan yang terbaik untukku dan kakak jika kak Adnan juga memiliki perasaan yang sama dengan apa yang aku rasakan saat ini.
^^^Dari Indah^^^
“Indah…” Kata itu terucap lirih.
Sekali lagi Adnan membaca surat itu, dua kali, tiga kali. Sampai untuk yang kelima kalinya cowok itu terus mengulangnya.
“Kamu juga mencintaiku? Indah…” Melipat surat itu kembali, beranjak dari duduknya, menatap hamparan air laut yang tenang di depannya.
“Aku janji akan menemukanmu dimana pun kamu berada, aku pasti akan menemukanmu.” Ucapnya yakin, mengarahkan pandangannya ke langit, berharap kepada Tuhan semoga ia dapat menemukan gadis itu suatu hari nanti.
…
Sinta terus berjalan dengan terburu-buru, Adit yang sedari tadi hanya mengikutinya akhirnya menghentikan gadis itu.
“Sin! Berhenti sebentar.” Adit menghentikan.
Sinta berbalik.
“Ada apa lagi sih Dit? Aku harus cepat-cepat ke rumah Indah.” Kesal.
“Emang kamu yakin bisa cepat kalau jalan kaki kek gini? Capek tahu.” Adit bertolak pinggang. Andai saja motornya tidak berada di parkiran sekolah, mereka bisa menggunakan kendaraan itu kan.
“Kita kan bisa naik taksi.” Sambungnya.
‘Eh, ia juga yah… karena begitu memikirkan gadis polos itu, aku jadi kayak orang kebingungan begini.’ Batin Sinta.
__ADS_1
Ia dan Adit akhirnya menepi menunggu, tidak lama, kurang dari dua menit mereka sudah berhasil mendapatkan mobil biru itu.
Sesampainya di rumah Indah…
Adit dan Sinta berdiri di depan pagar rumah itu, namun ada yang berbeda di sana.
“Kok sepi yah? Penjaga yang kak Adnan tempatkan di sini pada kemana? Apa iya mereka semua sudah balik?” Berbicara sendiri.
“Penjaga? Maksud kamu? Emang kenapa rumah Indah harus di jaga?” Adit bertanya penasaran.
Sinta tak menghirauan ocehan cowok itu, membuka pagar besi.
Ciiitttt…..
Terdengar dari suara engsel besi pagar yang sudah tampak berkarat.
“Assalamu’alaikum Indah! Tante Dania!” Panggil Sinta, mengetuk pintu.”
Adit menunggu di belakangnya.
“Kok sepi yah? Apa mereka benar-benar di rumah? Sepertinya rumah ini kosong Sin!” Adit berspekulasi, menatap sekeliling.
“Ck, kamu diam deh. Indah sama tante pasti ada di rumah kok.” Kembali mengetuk pintu.
“Kamu yakin?” Adit yang cerewet kembali berkomentar.
Sinta pun kini ragu dengan anggapannya sendiri.
Memegang knop pintu itu, memutarnya perlahan, tidak di kunci.
“Dit, pintunya tidak terkunci.” Seru Sinta.
Tanpa menunggu persetujuan dari Adit, ia langsung masuk ke dalam, Adit yang melihatnya hanya menggelengkan kepala.
“Kita masuk tanpa izin, apa sikap seperti ini sopan Sin?” Mengoceh namun masih mengikuti Sin.
“Indah! Tante Dania!” Tak ada jawaban.
“Mereka tidak ada di rumah Sinta.”
Sinta yang sudah merasa khawatir segera membuka kamar milik Indah, gadis itu begitu terkejut melihat kenyataan di depannya.
Kamar itu sudah kosong, tak ada seorang pun di rumah tersebut, dan barang-barang di sana juga...
“Indah… kamu kemana?”
__ADS_1
Dengan raut wajah yang bingung dan khawatir, Sinta segera keluar dari rumah tersebut. Adit yang merasa bingung dengan situasi ini pun hanya bisa terus mengikuti Sinta, ia juga khawatir melihat gadis yang ia sukai itu tampak begitu sedih sekarang.