
Indah kembali pulang ke rumah, sesampainya di sana ia segera menuju kamar, mengambil uang saku dan juga tasnya. Ia akan membeli buah tangan di jalan yang akan ia bawa untuk menjenguk Bu Siska.
Sementara Bu Dania belum pulang dari kantor, Indah memutuskan untuk mengirimkan pesan kepada ibunya untuk meminta izin ke Rumah Sakit. Setelah semua selesai, ia segera memesan ojek online.
Rumah Sakit
Begitu sampai di Rumah Sakit Indah langsung mencari ruangan yang telah di beritahu oleh David, Indah bertanya pada satpam yang menjaga di sana.
Setelah ia menemukannya, Indah mengetuk pintu dan membukanya perlahan. Terlihat Sinta sedang menyuapi Bu Siska yang sedang makan dalam posisi duduk. Tak ada orang lain di sana kecuali mereka berdua. Sinta terkejut dengan kedatangan Indah.
"Indah..." Ucap Sinta kaku.
"Assalamualaikum." Sapa Indah dengan senyuman.
"Waalaikumsalam." Jawab Bu Siska dan Sinta bersamaan.
Indah melangkah masuk, kemudian meletakkan buah-buahan yang ia bawa di atas sebuah meja di samping tempat tidur Bu Siska.
"Indah membawakan buah ini untuk Tante, semoga Tante cepat sembuh."
"Kenapa repot-repot nak, kamu sudah mau datang menjenguk dan mendoakan Tante saja itu sudah cukup."
"Indah sama sekali tidak merasa repot Tante." Ucap Indah kembali tersenyum.
"Ibu, ini yang terakhir." Ucap Sinta sembari memberikan suapan nasi.
Bu Siska makan dengan lahap, terlihat perlahan nafsu makannya telah kembali.
Sinta lalu meletakkan piring yang sudah kosong itu di meja, karena hanya ada satu kursi di ruangan itu, Sinta beranjak dari tempatnya duduk dan memberikannya kepada Indah.
"Duduklah Indah!" Ucap Sinta.
"Tidak perlu, aku berdiri saja."
"Kenapa kamu akan berdiri nak? Sinta akan duduk di samping Tante, kamu duduklah di kursi itu.
"Baik Tante."
__ADS_1
"Bagaimana keadaan Tante?" Tanya Indah setelah duduk.
"Alhamdulillah, Tante sudah merasa lebih baik sekarang. Lihat, makanan Tante habis. Biasanya Tante tidak pernah menghabiskannya, dan hanya makan 3 sampai 4 suapan saja, tapi hari ini nafsu makan Tante sudah kembali."
"Alhamdulillah, Indah ikut senang mendengarnya. Semoga Tante cepat sembuh, dan segera pulang kembali ke rumah."
"Iya nak, Tante juga merasa sudah bosan berada di rumah sakit. Tante ingin segera menghirup udara segar di luar sana." Bu Siska tersenyum.
Mereka berbincang cukup lama, percakapan itu didominasi oleh Indah dan Bu Siska, sementara Sinta lebih banyak diam.
"Mengapa kamu jadi pendiam begitu nak? Apa kamu sakit?" Bu Siska menyadari perubahan sikap Sinta.
"Tidak Bu, tidak apa-apa."
"Wajahmu terlihat lelah sayang, kamu pasti capek. Kamu selalu ada di sini untuk merawat mama." Bu Siska membelai rambut Sinta yang duduk di sampingnya.
"Kenapa Ibu berkata seperti itu? Aku tidak pernah merasa lelah kalau itu untuk merawat Ibu. Ini juga sudah menjadi tugas Sinta sebagai anak kan Bu."
Bu Siska terharu dengan perkataan putrinya, kemudian memeluknya erat.
"Makasih yah sayang." Ucap Bu Siska mencium kening Sinta.
"Sinta boleh kita bicara sebentar di luar? Kalau kamu tidak keberatan."
Sinta mengangguk, mengiyakan.
Indah dan Sinta duduk di salah satu bangku panjang di taman rumah sakit itu. Untuk beberapa saat mereka berdua hanya terdiam, Sinta tak memiliki keberanian untuk menatap mata Indah, hatinya penuh dengan perasaan bersalah.
"Mengapa kami bisa tahu kalau aku ada di sini Indah?" Sinta bertanya tanpa menoleh pada Indah.
"Aku tadi ke rumahmu, lalu kak David bilang kamu ada di sini sedang menjaga Tante Siska.
"Hhhmmm..." Sinta bergumam.
Suasana kembali hening, Indah terlihat canggung dengan suasana ini, ia hanya terus mengayunkan kakinya maju dan mundur.
"Mengapa kamu datang ke sini setelah tahu apa yang sudah aku lakukan padamu?" Sinta tertunduk.
__ADS_1
"Mengapa, mengapa, kamu terus saja mengatakan hal itu. Apa aku tidak boleh menjenguk ibu sahabatku?"
"Apa kamu sungguh masih menganggap aku sahabat kamu?" Sinta menatap Indah lekat.
"Tentu saja Sinta."
"Tapi aku... aku sudah..."
"Lupakan semua yang telah terjadi, yang sudah berlalu biarlah berlalu." Indah tersenyum.
Sinta tak bisa lagi membendung air matanya, dan memeluk sahabatnya itu.
Beberapa menit suasana menjadi emosional untuk mereka. Sinta sangat bahagia memiliki sahabat seperti Indah, baru kali ini ia merasakan sebuah pertemanan yang tulus. Indah menyeka air matanya, melepas pelukannya dari Sinta.
"Terima kasih karena sudah memaafkan aku Indah." Sinta juga menyeka air mata di pipinya.
"Tapi walaupun begitu aku ingin memberitahu mu alasanku melakukan semua itu."
"Sudahlah Sinta, walaupun kamu tidak menjelaskannya aku tetap percaya kok sama kamu."
"Tidak Indah, izinkan aku untuk menjelaskannya. Hari ini kamu telah mengajarkan aku arti sebuah persahabatan. Aku tahu kamu tidak meragukan aku, tapi aku ingin keraguan itu tidak akan muncul selamanya."
Melihat Sinta yang memohon, Indah tersenyum mengangguk, mengiyakan.
"Kamu ingat kan waktu kak Adnan masuk UKS hari itu, saat dia mencoba menyelamatkan kamu?"
"Iya." Jawab Indah singkat.
Sinta menarik nafas panjang, melihat jauh ke depan.
"Sejak kejadian itu, kak Ayu mencari tahu kenapa kak Adnan bisa sampai terserempet motor. Dan ada salah satu siswa yang memberitahunya jika itu karena ia menyelamatkan kamu. Kamu tahu kan kak ayu sangat memiliki pengaruh di sekolah. Informasi seperti itu akan sangat mudah dia dapatkan. Dan hari itu, Kak Widia dan Dewi datang menemui ku di kelas. Mereka memintaku secara paksa untuk ikut dengan mereka karena kak Ayu yang memerintahkannya. Yah, dia mengatakan seperti itu"
"Hari itu aku ada di mana Sinta? Karena aku tidak pernah melihat kak Widia dan Dewi datang ke kelas." Indah memotong.
"Yah, waktu itu kamu memang sedang tidak ada di kelas Indah, dan memang itulah yang diinginkan kak Ayu. Dia tidak ingin kamu mengetahui hal ini. Hari itu kamu ada di perpustakaan, kamu bilang padaku kalau akan meminjam sebuah novel."
Indah bergumam, ia mencoba mengingat-ingat.
__ADS_1
"Lalu..."
"Lalu mereka membawaku ke toilet siswi, dan di sana sudah ada kak Ayu. Indah di sekolah kita selalu bareng, dan waktu itu kak Ayu juga sempat melihatmu di UKS kan! Dia membawaku ke sana untuk mencari tahu siapa namamu. Sekaligus memperjelas kalau kamu memang orang yang diselamatkan kak Adnan. Kak Ayu sudah menyukai kak Adnan sejak lama, dan dia tidak rela kalau orang yang ia sayangi terluka. Awalnya dia marah sama kamu karena dia berpikir kak Adnan terluka itu semua gara-gara kamu. Tapi, melihat kalau kak Adnan begitu memperhatikan kamu, melindungi kamu, dia menjadi sangat cemburu. Kemarahannya semakin tidak terkendali. Yah, kesalahanku yang pertama adalah akulah orang yang memberikan banyak informasi tentang kamu ke kak Ayu." Sinta terhenti sejenak.