Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja

Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja
Tangis Indah


__ADS_3

Jangan lupa vote, like dan sarannya yah. karena masukan kalian sangat penting buat aku.


Silakan tinggalkan jejak, supaya aku makin semangat update ceritanya.


Terima kasih sudah mampir


Happy reading 😊😘


...***...


Indah berjalan tidak sabaran menuju kantin sendirian. Pagi ini dia tidak sempat untuk sarapan di rumah, alhasil perutnya sangat keroncongan. Di tambah lagi hari ini dia merasa cukup bosan dan kesepian di sekolah, karena Sinta tidak datang.


Indah memesan satu mangkok bakso dan sebotol air mineral. Lalu menunggu di salah satu meja di kantin itu. Cukup lama menunggu, karena keadaan kantin sedang ramai. Namun beberapa lama kemudian pesanan Indah pun datang.


"Ini pesanannya dek." Ucap penjaga kantin sambil menyimpan semangkok bakso di atas meja. Terlihat kuah bakso itu mengepul, mengeluarkan aroma yang membuat perut Indah semakin lapar.


"Terima kasih Mang." Ucap Indah dengan senyuman.


Indah mulai meracik semangkok bakso yang ada didepannya. Menambahkan kecap, saus dan juga jeruk nipis. Kemudian membuka botol mineral yang ada di samping mangkoknya. Meminum air seteguk, kemudian mulai mengambil sesendok kuah bakso itu. Namun ketika akan melahapnya tiba-tiba...


PLAK...


Sebuah kerikil meluncur tepat mengenai sendok yang Indah pegang, spontan sendok tersebut terjatuh.


"Astaghfirullah." Ucap Indah spontan karena terkejut.


Kuah bakso itu terciprat mengenai jilbabnya. Sementara kerikil itu mendarat persis di mangkok Indah.


"Hahhh..." Terlihat 3 orang siswi datang menghampiri meja Indah sambil tertawa keras. Spontan seluruh siswa dan orang-orang yang berada di kantin melihat mereka.


"Uppss... maaf yah, sengaja hahhhh......" Ucap seseorang yang berada di tengah, sementara 2 orang temannya yang lain tertawa sambil bertepuk tangan, puas dengan apa yang baru saja mereka lakukan.


Indah terkejut melihat siapa yang menghampirinya, sekaligus bingung mengapa dia melakukan ini padanya. Beberapa saat Indah menatap marah, namun segera mengendalikan dirinya, berusaha untuk tetap tenang. Yah, dia adalah Ayu. Perempuan yang waktu itu juga datang ke UKS untuk melihat keadaan Adnan. Sementara di samping kanan dan kiri Ayu namanya adalah Dewi dan Widia. Mereka adalah teman baik Ayu. Di sekolah kemana pun Ayu pergi, mereka berdua pun selalu mengekor di belakangnya. Selalu mendukung perbuatan buruk Ayu.


"Kenapa? Kaget yah? Ayu menatap penuh kebencian.


"Kenapa kakak melakukan ini ke aku?" Indah bertanya dengan wajah yang tenang.


"Lo masih bertanya kenapa? Dasar gadis bod**. Lo emang lupa, apa pura-pura lupa." Ucap Ayu, meletakkan telunjuknya di bahu kanan Indah, mendorongnya sedikit.


"Apa maksud kakak? Aku tidak mengerti?" Indah bingung.


"Naif banget sih nih cewek." Ucap Dewi bertolak pinggang. Sementara Widia tersenyum licik.


"Lo ingat kan beberapa hari yang lalu, Adnan keserempet motor cuma gara-gara mau menyelamatkan lo. Dan aku gak bisa terima itu. Aku gak bisa terima karena lo, Adnan jadi terluka." Ayu semakin marah.

__ADS_1


Mata Indah mulai berkaca-kaca. Bukan hanya karena dia merasa bersalah dengan apa yang terjadi kepada Adnan, tetapi juga karena seumur hidupnya dia belum pernah dibentak seseorang sekasar yang dilakukan oleh Ayu sekarang. Indah tertunduk.


"Aku minta maaf soal itu kak, itu memang salahku. Dan aku juga merasa sangat bersalah kepada kak Adnan." Tak bisa tertahan lagi, akhirnya butiran bening itu jatuh begitu saja, Indah menangis.


"Iihh... cengeng banget sih, malah nangis lagi. Lo pikir kita bakal kasihan apa kalau lo nangis" Ucap Widia.


"Hello...." Ucap Dewi dan Widia bersamaan sambil menjentikkan jaringan ke udara. Sementara Ayu masih kembali tersenyum licik.


"Lo pikir dengan lo minta maaf, luka Adnan bisa langsung sembuh gitu?" Ayu melangkah lebih dekat ke arah Indah, membuat Indah harus mundur beberapa langkah juga, dan akhirnya Indah terpojok di tembok kantin itu.


"Maksud kakak?"


"Maksud gue...? Lo harus diberi pelajaran." Ucap Ayu melayangkan tangannya menuju pipi Indah.


Spontan Indah menutup matanya, terlambat untuk menghindar. Namun, persisi ketika tangan Ayu akan mengenai pipi Indah seseorang muncul menghentikannya, menggenggamnya dengan erat. Indah yang tidak merasakan apa-apa membuka matanya perlahan. Sekarang di depannya Adnan memegang tangan Ayu yang hampir saja menampar pipi Indah.


"Apa-apaan ini?" Adnan menghempaskan tangan Ayu, melepaskannya.


"A... Adnan." Ati terkejut dengan kedatangan Adnan.


"Apa yang sudah kami lakukan?" Adnan terlihat sangat marah.


"Aku bisa jelasin."


"Cukup Ayu, cukup. Aku sudah dengar semuanya dan aku juga sudah lihat bagaimana kamu memperlakukan adik kelas mu. Sebagai kakak kelas seharusnya kamu bisa mencontohkan sikap yang baik, bukan seperti ini."


"Ini semua bukan karena Indah. Aku sendiri yang mau menyelamatkan dia, jadi kalau aku terluka ini bukan salah dia. Tapi salah aku sendiri, kamu ngerti."


"Tapi Adnan..."


"Ayo Indah." Belum selesai Ayu berbicara, Adnan sudah meraih tangan Indah, membawanya pergi dari kantin.


"Adnan!" Teriak Ayu ingin menghentikannya Adnan. Tapi Adnan tidak mempedulikannya, dan terus berjalan sambil memegang tangan Indah, keluar dari kantin. Sementara Ayu menatap geram melihat tangan Indah yang dipegang oleh Adnan.


" Apa yang kalian lihat? Apa aku ini sedang syuting? Hah?" Ayu berteriak kepada seluruh siswa dan orang-orang yang sedari menonton apa yang ia lakukan. Sialnya, dia yang awalnya ingin memperlakukan Indah malah membuatnya mempermalukan dirinya sendiri. Spontan semua orang mengalihkan pandangannya dari Ayu, dan kembali sibuk dengan urusan masing-masing.


"Ayu, lo gak apa-apa kan?" Tanya Widia memegang bahu kanan Ayu.


"Aarrgghh..." Ayu berteriak membuat Widia dan Dewi terkejut.


"Awas lo Indah, gue gak akan lepasin lo." Ayu berkata pelan penuh kemarahan.


...***...


Indah melepaskan genggaman tangan Adnan saat mereka berdua telah keluar dari kantin, lalu menyeka air matanya. Mereka sekarang sedang berdiri dengan posisi berhadapan, namun tetap dengan jarak.

__ADS_1


"Maaf, aku tidak bermaksud untuk memegang tanganmu." Ucap Adnan


Indah hanya mengangguk pelan.


"Ini..." Adnan mengeluarkan sebuah sapu tangan putih dari kantong celananya lalu memberikannya kepada Indah.


"Hapus air matamu dengan ini." Sambungnya.


"Tidak usah kak." Indah menolak.


"Aku mohon, ambillah."


Mendengar ucapan Adnan, Indah merasa tidak enak jika ia menolak. Perlahan Indah meraih sapu tangan itu dari Adnan, kemudian kembali menghapus air matanya dengan sapu tangan itu.


"Terima kasih." Ucap Indah. Adnan tidak menjawab ucapan terima kasih Indah.


"Kamu tidak apa-apa kan?" Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Adnan. Sebenarnya dia sangat khawatir melihat Indah.


"Aku baik-baik saja."


Adnan menarik nafas lega.


"Sekarang berhentilah menangis, dan masuklah ke kelas mu! Sebentar lagi bel akan berbunyi." Adnan berkata lembut.


Indah menatap sebentar laki-laki yang ada di hadapannya itu. Yang selalu ada di saat dia sedang dalam kesulitan. Kemudian Indah mengangguk pelan, mengikuti perintah Adnan. Dia juga tidak tahu kenapa dia langsung menurut saja saat Adnan menyuruhnya. Seakan mendapat perintah dari seseorang yang sangat dekat dengannya. Mungkin karena Adnan sudah banyak membantunya. Namun baru 2 langkah Indah berjalan pergi Adnan menghentikannya kembali.


"Indah, tunggu!"


Indah berbalik, melihat kearahnya.


"Tolong maafkan aku atas apa yang terjadi." Raut wajah laki-laki itu terlihat sedih.


"Tidak apa-apa kak, aku mengerti mengapa Kak Ayu bersikap seperti itu. karena dia sangat menghawatirkan orang yang dia sayang." Indah berkata datar.


Deg...


Adnan tersentak dengan apa yang dikatakan Indah.


Adnan mulai gelisah, sadar akan kesalahan pahaman Indah mengenai dirinya dan Ayu.


"Apa maksud kamu? Dengar... aku dan Ayu itu..."


"Ohiya, aku hampir lupa." Indah memotong ucapan Adnan, dengan mengeluarkan sepucuk surat dari balik hijabnya. Yah, setiap hari dia membawa surat itu, meletakkannya di kantong seragamnya. Dan dia merasa ini adalah waktu yang tepat untuk memberikannya, setidaknya Ayu belum keluar dari kantin.


"Ini, bacalah. Dan jika sudah selesai kakak langsung buang yah." Ucap Indah lagi, takut jika ada yang membaca surat itu selain Adnan.

__ADS_1


"Ini apa?" Adnan bingung, namun Indah tidak menjawab pertanyaannya, ia berjalan perlahan menuju kelasnya, sementara Adnan masih berdiri di sana, memperhatikan Indah dari jauh.


__ADS_2