Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja

Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja
Perhatian Kecil Yang Sweet


__ADS_3

"Kak Adnan!"


Raut wajah lemah, letih, lesu,takut Indah mendadak hilang. Seakan mentari baru saja terbit di wajah cantik itu, begitu ceria dan bersemangat.


Indah tersenyum lebar, sebelum akhirnya menunduk malu-malu.


"Kamu gak apa-apa kan Indah?" Tanya Adnan khawatir karena melihat Indah tadi meringis memegang hidungnya.


"Eh, tidak apa-apa kok kak, maaf tadi aku gak sengaja nabrak kakak."


"Iya gak apa-apa." Adnan tersenyum hangat.


"Itu yang di belakang, kenapa malah ngobrol?!" Teriak guru yang bertugas itu, menghentikan ucapan Adnan.


Adna lalu memutar kembali tubuhnya menghadap ke depan.


"Maaf, Pak." Ucap Adnan dan Indah bersamaan saat guru berkumis tebal itu, Pak Darto namanya, sekarang berdiri di hadapan mereka berdua.


Pak Darto memelototkan matanya pada Adnan dan Indah. Ditatap seperti itu Adnan dan Indah menunduk, merasa bersalah.


"Sekarang semuanya lari keliling lapangan 5x putaran, setelah itu kalian harus memungut daun-daun kering yang ada di bawah pohon mangga itu." Pak Darto menunjuk banyaknya dedaunan kering yang berserakan di bawah beberapa pohon mangga yang rimbun di area parkir siswa. (Enak nih, ngerujak hehe)


"Setelah selesai, baru kalian bisa ke kelas, mengerti?!"


"Mengerti Pak." Jawab semua siswa serempak.


Kira-kira siswa yang datang terlambat pagi itu berjumlah 12 orang.


"Ya sudah, lakukan sekarang." Seluruh siswa langsung saja menyimpan tasnya dan segera berlari menuju lapangan. Kabar baiknya adalah lapangannya tidak terlalu besar, hanya seluas lapangan volley. Coba kalau sebar lapangan bola, bisa keriting tuh kaki.


Saat Adnan dan Indah akan berlari ke lapangan bersama siswa lain, Pak Darto menghentikannya.


"Ee... ee.. kalian berdua mau ke mana?"


"Lari keliling lapangan Pak, kan bapak yang suruh." Jawab Indah polos.


Bibir Adnan berkedut melihat wajah Indah yang sangat polos itu.


"Kalian berdua tidak usah repot-repot berlari, bapak sudah menyiapkan hukuman istimewa untuk kalian."


Indah mengerutkan dahinya, sementara Adnan masih berdiri dengan tegak.


"Ayo ikut!" Perintah Pak Darto.


Indah dan Adnan pun mengikuti langkah Pak Darto dengan masing-masing pertanyaan yang muncul di kepala mereka.


'Hukuman spesial apa? Jangan sampai lebih berat daripada berlari mengelilingi lapangan.' Batin Indah was-was. Iya takut akan di suruh untuk membersihkan toilet sekolah.


'Semoga bukan hukuman yang berat, kasihan Indah.' Ucap Adnan dalam hati, lalu melirik gadis yang sekarang berjalan beriringan dengannya.


Mereka sampai di depan perpustakaan.

__ADS_1


"Kalian tunggu dulu di sini." Ucap Pak Darto kemudian melenggang masuk ke perpustakaan sendiri.


"Iya, Pak." Adnan dan Indah menunggu di depan pintu. Gadis itu memainkan ujung jilbabnya sedangkan Adnan dengan setia mencuri pandang melihat tingkah menggemaskan Indah.


Tak lama kemudian Pak Darto keluar dari sana.


Indah dan Adnan lantas menghadap ke arah guru itu, berdiri dengan tegak.


"Sekarang kalian masuk ke dalam. Tugas kalian adalah merapikan buku-buku di dalam sampai benar-benar rapi. Setelah itu sapu ruangan ini dan kalian pel sampai bersih, setelah selesai baru kalian bisa ke kelas, mengerti?!"


"Iya Pak." Adnan dan Indah menjawab serempak.


"Ya sudah, sana masuk."


Dengan cepat Indah masuk ke perpustakaan, Adnan mengikuti.


"Huufftt.. aku kira kita akan di hukum seperti apa kak, sejak tadi aku sangat cemas memikirkannya." Indah mengelus dadanya, lega.


"Memangnya kamu mikirnya tadi bakal dapat hukuman apa?" Adnan tidak bisa tidak tersenyum saat berbicara dengan Indah.


Indah sungguh membuatnya merasa sangat bahagia, bahkan dengan hanya mengobrol ringan seperti sekarang. Adnan yang memang juga sangat jarang datang terlambat awalnya merasa agak cemas, namun saat melihat Indah di belakangnya, hukuman pun rasanya seperti hadiah untuknya, membuatnya merasa sangat sangat bahagia.


"Aku pikir Pak Darto bakal suruh kita bersihin semua toilet di kelas ini kak." Indah berkata malu-malu saat mendapati Adnan yang terus tersenyum kepadanya.


"Kam..."


"Kalian mulailah tugas yang diberikan Pak Darto." Seorang wanita yang berusia sekitar 30 tahunan itu memotong ucapan Adnan. Yah, Penjaga perpustakaan di sana.


"Iya kak."


"Sudahlah jangan terus berbisik seperti itu, atau kalian akan semakin lama di sini, dan ketinggalan pelajaran."


"Baik Bu." Kembali menjawab serempak, udah kayak pemandu sorak aja.


Indah mulai menyapu seluruh ruang perpustakaan itu, dan Adnan merapikan buku-buku di rak, menyusunnya sesuai dengan jenis bukunya.


Setelah selesai Indah melanjutkan mengambil kain pel. Namun baru saja ia akan mengepel lantai, tangan lain telah memegang gagang pel itu.


"Biar aku saja yang mengepel lantainya, kamu lanjut rapi-in buku yah." Ucap Adnan lembut.


"Sini!" Adnan menarik pelan gagang pel itu, namun Indah menahan dan menariknya kembali.


"Tidak apa-apa kak, aku tahu kok caranya. Lagian aku juga sudah terbiasa mengepel lantai di rumah. Hal ini bukan masalah untukku." Indah mencoba menolak dengan lembut.


Sejujurnya ia sangat terkesan karena cowok di depannya itu begitu memperhatikan dirinya,


'Apa dia juga baik pada semua orang?' Batin Indah.


"Aku tahu kamu bisa Indah, tapi nanti kamu lelah kalau harus mengepel semua ruangan ini." Melihat perpustakaan yang cukup luas.


"Kalau menyapu tidak apa-apa kamu tidak akan terlalu lelah, tapi kalau mengepel ... sudah, sini biar aku saja." Adnan merebut kain pel itu dari Indah.

__ADS_1


"Tapi kak..."


"Udah, gak ada tapi-tapian, kamu rapi-in sana buku-buku yang masih berantakan." Adnan mulai mengepel lantai.


Indah tersenyum dan mengangguk.


"Terima kasih kak."


Adnan mengedipkan kedua matanya, mengisyaratkan kalau ia berkata Yah, sama-sama.


Indah mulai merapikan buku-buku di rak, sesekali ia melirik ke arah Adnan.


Lelaki itu tampak serius dengan pekerjaanku. Walau itu tidak terlalu bersih, namun bisa ditebak jika ia pernah melakukannya sebelumnya.


Indah pernah mendengar seorang siswi yang sedang bergosip ria sesaat setelah Adnan lewat di depan mereka. Si pengagum Adnan itu mengatakan kalau Adnan adalah cowok tampan yang sungguh kaya raya. Orangtuanya pun merupakan investor terbesar di sekolahnya ini sebelum orang tua Ayu.


Namun cowok jenius itu begitu rendah hati, ia tidak mau diperlakukan istimewa di sekolah ini, bahkan ada yang mengatakan kalau sebagian guru tidak mengetahui identitasnya yang sebenarnya.


Indah tersenyum kecut saat mengingat kehidupannya sendiri. Gadis tidak tahu malu yang jatuh cinta pada seorang pangeran.


...


Setengah jam kemudian Adnan telah selesai mengepel seisi ruangan.


Adnan duduk di salah satu bangku di sana. Ia sedikit lelah, biasanya dia hanya mengepel lantai kamarnya saja, karena tidak ingin merepotkan bibi yang bekerja di rumahnya, lagi pula ia tidak menyukai jika ada orang lain yang masuk di kamarnya, ruangan yang memiliki privasi super tinggi untuk dirinya. Yah, kecuali Adiknya Humairah dan ibunya sih.


Indah yang juga baru selesai merapikan buku itu, melihat Adnan yang tampak menyeka keringatnya.


"Dia terlihat sangat lelah." Ucap Indah pelan.


Indah pun keluar dari perpustakaan, tujuannya saat ini adalah kantin.


Tak lama kemudian dia kembali dengan 2 air mineral ditangannya.


Sebelumnya Indah meminta izin untuk istirahat dan minum sebentar pada penjaga perpustakaan itu.


"Baiklah, setelah istirahat kalian cepat kembali ke kelas."


"Baik Bu, terima kasih."


Indah menghampiri Adnan yang sedang termenung menatap keluar jendela, dengan menjadikan kedua tangannya sebagai tumpuan untuk wajahnya.



'Kenapa dia jadi terlihat sangat imut.' Batin Indah.


Indah lalu duduk di bangku di depan Adnan, mereka dibatasi oleh meja bundar berukuran sedang.


"Minum dulu kak, pasti capek kan." Indah tersenyum.


"Ah, iya...terima kasih." Adnan menerimanya dengan senang hati.

__ADS_1


__ADS_2