
“Kamu udah beli semuanya kan?”
“Iya kak, udah semua.”
“Sekarang kita pulang yah, kaki kakak udah pegel banget ini.”
Adiknya itu anggraeni yang biasa di sapa aini mengerucutkan bibirnya.
“Iya kita pulang, baru gitu aja sudah capek. Huuu.” Aini mengejek.
‘Dalam urusan belanja ke mall, ku rasa wanita memang sangat kuat. Mereka terus berkeliling selama berjam-jam dan tidak merasa lelah.’ Batin Adit yang kini melihat adiknya kegirangan.
“Eh kak, sebelum pulang beli es krim dulu yah.” Ajak Aini saat mereka melewati toko es krim di sana.
“Oh ayolah Aini, kakak capek banget, kamu juga udah besar masih makan es krim aja, kalau kamu makan itu kamu malah terlihat seperti bocah.” Alasan garing Adit, ia ingin segera pulang.
“Memangnya es krim cuma buat anak-anak? Kakak ini kalau mau cari alasan itu yang kreatif dikit dong.”
Setelah berkata seperti ini, Aini langsung menarik Adit ke toko tersebut memesan es krim cokelat.
“Kakak gak mau?” Tanya Aini di jawab gelengan oleh Adit.
Dan lagi-lagi cowok itu harus menjadi patung hidup yang menunggu adik perempuannya, memegang banyaknya baju di tangannya.
Adit mengedarkan pandangan melihat ke sekeliling. Sampai kemudian ia melihat seseorang yang ia pikir adalah Sinta.
Cowok itu menyunggingkan senyumnya, hendak menghampiri, namun saat wanita itu berbalik…..
“Ternyata bukan dia.” Ucap Adit lirih.
Sejujurnya ia begitu merindukan Sinta, sejak Sinta yang marah padanya waktu itu, dan sejak ia berkata tidak akan mengganggu wanita itu lagi ia benar-benar tak lagi mengganggu ataupun bertegur sapa pada Sinta, atau sekedar menjahili, ia benar-benar menghindarinya.
Cowok itu menghembuskan nafas kasar, bagaimana mungkin ia mengatakan hal tersebut. Sementara hatinya kini sudah tak bisa menahan untuk kembali dekat dengan Sinta, meski dengan cara menjahili wanita itu.
“Kak aku sudah selesai, ayo.” Ucap Aini, memegang es krim cokelat cup.
Adit yang melamun itu tak menanggapi.
“Kak Adit!” Aini memukul pelan lengan kakaknya.
“Iya Sin, ada apa?” Adit berucap spontan.
Aini bingung…
“Sin? Kakak lagi mikirin kak Sinta yah….. ayo ngaku.” Aini mendekatkan telunjuknya pada wajah Adit, menggoda kakaknya itu.
“Istt… apaan sih, siapa juga yang mikirin dia, kurang kerjaan banget.” Adit mulai berjalan cepat menuju pintu keluar mall tersebut.
“Aduh kak, kalau kangen tuh tinggal bilang aja kali, gak usah malu-malu, tuh hidungnya sampai kembang-kempis gitu.”
__ADS_1
Adit menahan senyumnya.
Aini terus mengoceh menggoda Adit, sementara Adit hanya diam, merasa malu karena ketahuan memikirkan gadis tomboy itu, ia berjalan cepat menuju mobilnya.
Adit memang sangat dekat dengan Adiknya itu, ia sering membicarakan hampir semua hal kepadanya dan begitu pun sebaliknya. Ia juga menceritakan bahwa ia menyukai seorang gadis sejak lama, sejak mereka masih duduk di bangku SMP.
Sesampainya di mobiL, Aini kembali membicarakan soal Sinta.
“Kak Sinta apa kabar kak?” Tanyanya.
“Baik… ku rasa.” Jawabnya ragu.
“Loh kok jawabnya gitu sih? Bukannya setiap hari kakak ketemu yah sama dia, kalian kan sekelas.”
Aini yang merasa hubungan antara kakaknya dan gadis yang ia sukai itu sedang tidak baik-baik saja, menatap Adit menyelidik.
"Kamu kenapa kayak gitu?" Tanya Adit
"Gak kenapa-kenapa, siapa tahu aja kakak jahilnya kebangetan sampai kak Sinta marah besar."
Adit terdiam...
"Bukan seperti itu..." Lirihnya sangat pelan.
“Kak Adit lagi ada masalah yah sama kak Sinta?” Tanya Aini kemudian.
Adit yang tengah mengemudi itu menatap adiknya sebentar. Saudarinya ini selalu tahu apa yang ia rasakan.
Aini mengerutkan dahinya.
“Maksud kak Adit?” Tak mengerti.
“Kakak rasa Sinta sangat tidak menyukai kakak. Hari itu ia sangat marah dan menyuruh kakak untuk menjauhinya dan tidak mengganggunya lagi.” Adit menjawab sedih.
“Jadi? Kakak melakukannya?”
Adit menganggukkan kepala.
“Kalau begitu kakak tidak benar-benar mencintai kak Sinta.”
Criitt..... (Asal nulis soalnya gak tahu bunyinya gimana 🤣)
Mendengar itu, David menghentikan mobilnya di tepi jalan secara tiba-tiba.
“Ih,, kak Adit main berhenti aja deh, kepala aku kejedot nih.” Aini memegangi dahinya.
“Maaf kakak gak sengaja.”
Saat melihat wajah adiknya Adit tertawa.
__ADS_1
“Kenapa?” Aini tak mengerti.
Adit tak menjawab, jadilah Aini melihat wajahnya di spion mobil.
“What!” ia berteriak, sebagian wajahnya kini di penuhi es krim.
“Iisstt… ini gara-gara kakak.” Aini memukul lengan Adit.
“Maaf maaf, sini kakak bersihin.”
Adit pun membantu membersihkan es krim yang menempel di wajah adiknya itu dengan tisu.
Setelah itu…
“Terus maksudnya berhenti tiba-tiba kayak gini kenapa?”
“Ck, maksud kamu tadi apa Aini? Kamu tahu kan kakak sudah menyukainya sejak SMP, bagaimana mungkin itu tidak di sebut cinta?”
“Ya iyalah kak, kalau kakak cinta mah masa baru gitu aja udah nyerah sih. Ibarat di medan perang, kakak tuh prajurit yang pengecut. Baru lihat bala tentara lawan aja kakak udah kabur duluan.” Aini sok dewasa, tapi apa yang di katakan nya itu benar-benar dipikirkan oleh Adit.
“Gini yah kak, aku kasih tahu yah mood cewek itu berubah-ubah, dan kadang mereka menyuruh menjauh tapi sebenarnya mereka eh maksud aku kita, aku ini yang perempuan.” Adiknya itu menjelaskan.
“Isstt… iya kakak ngerti, ngomomg aja sih.”
Aini mengerucutkan bibirnya lagi merasa kesal.
“Terkadang perempuan mengatakan tak ingin bertemu padahal mereka sangat rindu, kadang kita mengatakan kamu pergi saja, tapi sebenarnya kami menginginkan pria itu tetap ada di sana. Gitu kak, barangkali juga mood kak Sinta waktu itu lagi gak baik, dan kakak pasti jahilin dia deh... jadilah kayak gini.”
“Kalau kak Sinta baru bilang kayak gitu aja dan kak Adit udah nyerah, huh, kak Adit cemen. Kalau gitu mending aku cariin kak Sinta laki-laki yang lebih baik saja dari pada kakak, yang mau memperjuangkan dia, bukan kayak kak Adit.” Aini lebay.
Mendengar itu, dengan cepat Adit menggetok kepala adiknya itu.
“Enak saja kamu mau jodoh-jodohin Sinta sama laki-laki lain, kakak gak rela yah. Lagian kamu aja gak pernah ngomong sama Sinta, sok kenal, weekk” Adit mengejek, sifat kekanakannya juga muncul saat bersama adiknya.
Aini mengerucutkan bibirnya.
“Ya udah kalau gak rela, perjuangin lagi dong kak.” Aini kembali memakan sisa es krim di tangannya.
Terukir senyum di bibir Adit, yang dikatakan Aini memang benar, mengapa dia cepat sekali menyerah hanya karena wanita itu mengatakan untuk tidak mengganggunya lagi. Mungkin saja kan waktu itu Sinta lagi ada masalah sehingga ia melampiaskan kemarahannya pada Adit.
Adit kembali bersemangat, mengejar cinta gadis tomboy itu.
“Iya, kamu memang benar dek, kakak akan berusaha kembali.” Ucapnya menyunggingkan senyum.
Aini mengangkat jempolnya.
Adit melirik Aini yang masih memakan sisa es krim yang sudah terkena wajahnya tadi.
“Itu kenapa es krimnya masih di makan? Bukannya udah kenna hidung kamu yah tadi, iiihhh…..” Adit sok dramatis.
__ADS_1
“Biarin aja, ini gak kotor kok. Hidung-hidung aku juga, weekkk.”
Adit tersenyum melanjutkan perjalanan pulang, kini ia sudah tidak sabar untuk bertemu Sinta besok di sekolah.