
Sinta duduk di teras rumah Indah, sedari tadi ia menduga-duga. Apa benar Indah pindah dari rumah tersebut? Tapi kenapa dia tidak memberitahunya, bukankah mereka bersahabat? Jika dia pindah, dia pindah ke mana? Apa tante Dania membawanya keluar kota? Ah tidak! Semoga apa yang kupikirkan ini salah.
Panik, sedih, takut kehilangan, Sinta memegang ponselnya dengan gusar, Adit yang duduk di sampingnya merasa tak tega, ia merebut ponsel itu.
“Tenangkan diri kamu dulu Sin, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Indah pindah dari rumah ini? Dan sepertinya kamu tidak tahu hal itu.” Bertanya.
“Adit aku tidak bisa menceritakannya padamu, ini adalah masalah yang sangat pribadi bagi Indah dan keluarganya, kemarikan ponselku aku harus menghubungi kak David dan kak Adnan!” Sinta berusaha meraih kembali ponselnya. Namun seketika gerakannya terhenti saat teringat sesuatu.
“Kak Adnan… yah, kak Adnan pasti tahu ke mana Indah, dia, waktu dia tadi berlari meninggalkan aku di kelas dia pasti langsung menyusul Indah ke sini.” Sinta yakin.
“Aku harus menghubunginya Adit, kemarikan!” berhasil merebut ponselnya kembali.
Meski sedikit kesal karena Sinta terlihat begitu dekat dengan Adnan, untuk saat ini ia mengesampingkan perasaannya dulu melihat Sinta yang kini sangat mengkhawatirkan keadaan Indah, oke… untuk saat ini jangan bertanya hal yang aneh-aneh, atau Sinta akan sangat marah dan tidak ingin berbicara dengannya lagi.
Adit duduk cemberut menyilangkan kedua tangannya di dada. Siap memasang kupingnya lebar-lebar mendengar pembicaraan antara Sinta dan Adnan.
Dengan tergesa-gesa, Sinta menekan tombol panggilan pada nomor ponsel kakak kelasnya itu.
Tersambung, tapi belum di angkat…
“Argghh… kenapa kak Adnan tidak mengangkat teleponku!” kesal.
‘Namanya juga sok jual mahal, sok tampan sekali. Eh… tapi memang dia tampan sih, aarrghh… karena dia tampan itu aku tidak rela kalau Sinta dekat sama dia.’ Adit mengomel dalam hati.
Sinta kembali menghubungi Adnan untuk yang ketiga kalinya, dan akhirnya cowok itu mengakat juga panggilannya.
__ADS_1
“Kak Adnan! Kak Adnan tahu Indah di mana? Aku di rumahnya sekarang tapi rumahnya sudah kosong kak.” To the point.
Adnan tidak menjawab, Sinta mengerutkan keningnya.
“Kak! Kak Adnan… kak Adnan di sana kan?”
“Iya maaf Sin…”
“Kak Adnan, Indah…”
“Indah dan ibunya sudah pindah Sin, aku tidak tahu mereka ke mana, mereka tidak memberitahukan apa-apa, saat aku sampai di sana, Indah dan tante Dania sudah tidak ada.” Adnan berucap pelan menjelaskan.
Sekujur tubuh Sinta mendadak lemas, ponsel yang ia pegang pun terlepas dari tangannya, untung saja Adit dengan sigap menangkap ponsel itu.
“Sin, kamu kenapa? Kamu gak papa kan?” Khawatir berdiri dari tempatnya duduk, kini berlutut di depan Sinta yang sekarang malah menangis.
“Sin…” Bingung apa yang harus ia lakukan.
“Indah jahat banget Dit, dia ninggalin aku di sini, dia bahkan tidak berpamitan padaku, hiks… hiks…”
Adit terdiam, ia tahu bagaimana kedekatan antara Sinta dan Indah. Selama ini, sejak mengenal Sinta hanya Indahlah teman perempuan yang sangat dekat dengannya. Gadis polos dan imut itu berhasil membuatnya bersimpati dan malah ingin selalu melindungi Indah yang di ganggu para cowok playboy yang berusaha mendekatinya.
“Mungkin Indah punya alasannya tersendiri Sin, siapa tahu saja ini bukan keinginannya juga, atau ada hal yang membuatnya terpaksa tidak memberitahu kamu tentang kepindahannya.” Berusaha menghibur.
“Kamu jangan nangis lagi yah… gak enak kalau di lihat tetangga. Nanti disangkanya aku lagi ngapa-ngapain kamu lagi.” Menggoda.
__ADS_1
Mendengar itu Sinta terdiam, benar juga apa yang dikatakan Adit. Hanya ada mereka berdua di rumah itu, walaupun berada di teras tetap saja mereka hanya berdua. Akan ada bisik-bisik yang tidak menyenangkan jika ia menangis dan orang akan berpikir negative tentangnya dan Adit.
Berusaha menguatkan hatinya yang hancur karena kepergian sahabatnya itu. Sinta beranjak, menghapus air matanya dan berjalan cepat keluar dari lingkungan rumah tersebut.
“Sin!” Adit mengikuti langkah gadis itu.
...***...
7 tahun kemudian…
Di sebuah pemakaman umum di kota B, terlihat seorang lelaki dan perempuan yang tengah berada di salah satu makam di tempat tersebut. Laki-laki tersebut tengah berdo’a sedang perempuan itu terlihat menghapus bulir air mata yang jatuh ke pipinya sembari mengelus lembut batu nisan di depannya.
Setelah berdo’a, laki-laki itu menaburkan bunga, tersenyum hangat saat memegang batu nisan di depannya juga.
“Ayo dek, kita pulang!” Ajaknya pada wanita di depannya.
Wanita itu mengangguk, beranjak dari tempatnya. Laki-laki itu menggandeng tangan adiknya, namun sebelum pergi sekali lagi ia menatap ke makam tersebut. Seolah mengucapkan selamat tinggal, makam yang bertuliskan nama DANIA AVANTI pada batu nisannya.
…
Setelah meninggalkan kota J, Dania, Farid dan Indah menetap di kota B. di sana mereka memulai hidup baru. Hidup bersama seperti keluarga kecil yang bahagia.
Indah kembali melanjutkan sekolahnya di SMA yang ada di kota tersebut. Meski gadis itu selalu tampak murung di setiap harinya, namun begitu sampai di rumah, ia akan kembali menjadi Indah seperti yang ibunya kenal. Gadis yang ceria. Namun saat berada di sekolah atau di manapun tanpa ibunya, ia kembali menjadi gadis yang menutup diri, pendiam, dan misterius. Ia banyak menghabisan waktunya sendiri, tak ingin menjalin sebuah persahabatan kepada siapapun. Baginya sahabatnya hanya satu, gadis tomboy yang ia kenal tujuh tahun yang lalu.
Indah kini bekerja di salah satu sekolah islami di kota tersebut, menjadi seorang guru TK. Gadis itu tumbuh semakin cantik, nampak semakin anggun dengan kain yang kini menutupi wajahnya. Yah… keindahan wajahnya kini ia sembunyikan dari balik cadar yang ia kenakan. Namun tidak, siapapun tak bisa menolak pesonanya.
__ADS_1
Sementara Farid, pemuda baik hati itu juga melanjutkan kuliahnya setelah mereka menetap di kota tersebut. Berkat kepandaiannya dalam bidang bisnis, kini ia bekerja di sebuah perusahaan yang ada di sana, sebagai CEO muda kaya raya yang digandrungi kaum hawa.
Kini, ia menjadi satu-satunya keluarga yang Indah punya, ia sangat menyayangi gadis itu, menganggapnya seperti adik kandungnya sendiri, dan yah… memang benar walau lain ibu nyatanya mereka satu bapak. Hal itulah yang membuatnya semakin dekat dengan gadis itu sekarang, karena ternyata mereka benar-benar saudara. Walau rahasia besar itu teruangkap dan sempat membuat semuanya menjadi kacau, nyatanya mereka bertiga tetap bersama. Dengan lapang dada Dania menerima Farid sebagai anak dari istri lain suaminya.