Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja

Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja
Harus Ku apakan Cincin Ini?


__ADS_3

Tak punya pilihan lain, akhirnya Jayadi meninggalkan kamar tersebut. Bisa gawat bila ia tidak melakukan perintah kuncoro segera. Sebelum pergi, ia berpesan kepada Tonson dan anak buahnya untuk menjaga Dania dan Sarah.


“Jaga mereka baik-baik, kalau mereka sampai kabur nyawa kamu yang jadi taruhannya.” Ancam Jayadi.


“Baiklah, kamu tenang saja.” Jawab Tonson.


Sarah menatap Jayadi dari balik jendela, laki-laki itu telah berlalu dengan mobil mewahnya. Kilatan amarah di matanya itu belum lenyap. Ia membenci Jayadi, sangat membencinya, namun ia lebih membenci dirinya sendiri karena dari awal tidak mendengarkan perkataan Dania, air mata kembali membasahi pipinya.


Yah, Dania, ia harus mencari cara agar bisa menyelamatkan sahabatnya itu.


Sarah membuka pintu kamar, ternyata di sana telah berdiri seorang penjaga yang di tugaskan Tonson untuk menjaganya agar tidak kabur. Saat akan melangkahkan kakinya untuk keluar kamar…


“Anda mau ke mana nona cantik? Anda dilarang untuk keluar dari ruangan ini.” Ucap penjaga itu menggoda.


“A… aku… aku ingin mencari udara segar.” Sarah gugup.


“Tidak, anda tidak diperbolehkan untuk meninggalkan kamar ini.” Ucapnya tegas.


“Tapi, aku hanya….”


“Masuklah, sebelum aku bertindak kasar.” Bentak penjaga tersebut.


Sarah terkejut dengan bentakan itu, ia pun kembali masuk ke kamar.


“Bagaimana ini? Bagaimana aku bisa keluar dari sini?” wanita itu duduk di tepi ranjang dengan gelisah..


Beberapa menit kemudian ia terpikirkan sesuatu. Sarah mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar tersebut. Sampai kemudian ia tertuju pada sebuah jendela di sana.


Harap-harap cemas, dengan cepat ia mendekat.


Ia menarik nafas lega saat tahu jendela tersebut tidak terkunci.


“Alhamdulillah, ya Allah terima kasih.” Ucapnya bersyukur.


Dengan gerakan perlahan agar tidak menimbulkan suara, Sarah keluar dari kamar tersebut melalui jendela yang tak terkunci.


“Aku harus secepatnya mencari Dania.” Lirih Sarah.


Ia terpikirkan percakapan Jayadi tadi, gudang tempat Jayadi menyekap Dania adalah di belakang Villa ini.


Takut-takut, Sarah mengendap-endap menuju bagian belakang villa tersebut. Beberapa kali ia hampir saja ketahuan oleh penjaga yang berlalu-lalang.

__ADS_1


Saat telah sampai di belakang villa, ia melihat sebuah rumah kecil yang usang di sudut belakang taman itu.


“Semoga gudang itu yang dimaksudkan oleh pria brengsek itu.” Ada amarah dalam kata-katanya.


Beruntung di sana tidak ada satu pun penjaga yang berjaga di luar gudang.


Saat telah sampai di sana…


“Aarrgghh… pintunya terkunci.” Erang Sarah.


Wanita itu lalu menyusuri setiap sudut luar gudang tersebut, sampai kemudian menemukan jendela kecil di sana.


Sarah mengintip dari celah kecil jendela itu. Ruangan tersebut sangat gelap, namun samar-samar ia melihat sosok yang ia cari.


“Dania! Dania, apa itu kamu?” Sarah memanggil tertahan.


“Dania! Ini aku Sarah.”


Dania yang tertidur dalam dukanya itu sayup-sayup mendengar suara Sarah. Membuka matanya dan mengumpulkan kesadarannya dengan baik.


“Sarah? Sarah apa itu kamu?” Lirih Dania.


“Iya ini aku, aku datang untuk membantu kamu, mengeluarkan kamu dari sini, kamu baik-baik saja kan?”


“Sarah tolong aku… tangan dan kakiku di ikat.” Lirih Dania.


“Tunggu sebentar.”


Sarah mulai menarik paksa jendela kayu yang telah usang itu, setelah mencoba beberapa kali akhirnya jendela tersebut terbuka. Wanita itu tersenyum puas, namun senyum di bibirnya memudar saat menyaksikan Dania yang kini terlihat babak belur di wajahnya.


...***...


David termenung di kamarnya. Duduk di sofa yang ada di sana. Sejak kembali dari mengantar Indah, David terus saja memandangi cincin yang ia pegang. Cincin Indah berukiran hati, terus memutar-mutar cincin tersebut. Entah apa yang ada di dalam pikirannya saat ini.


Sebenarnya David membelikan cincin tersebut untuk Indah, di hari ia menemani Sinta memilihkan sebuah kalung untuk ibunya. Cowok itu menepi ke pojok toko tersebut dan membeli cincin itu.


Rencananya David akan menghadiahkan cincin itu untuk Indah saat gadis tersebut menerima cintanya. Namun itu hanyalah menjadi sebuah rencana saja, kenyataannya ia tidak memberikannya karena gadis itu menolaknya.


“Sekarang mau ku apakan cincin ini? Cintaku bertepuk sebelah tangan, huufftt...“ Cowok itu berkata lirih, menghembuskan nafas kasar.


Sejak kejadian di pantai itu, ia seperti kehilangan semangatnya, terus berada di dalam kamar. Ia hanya akan keluar jika pergi ke sekolah, selebihnya kamar adalah tempat ternyaman untuknya, menyembunyikan sesak di hati.

__ADS_1


David lalu menyimpan kembali cincin itu di kotak perhiasan, menaruhnya di lemari lalu merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Ia butuh untuk menenangkan hatinya, melupakan bayang-bayang gadis berlesung pipi itu, walau hanya sebentar.


...***...


Sarah meneteskan air matanya saat melihat keadaan Dania. Wajahnya di penuhi oleh lebam. Bibirnya berdarah juga dahi di sekitar alisnya. Penjaga Tonson baru saja memukulnya beberapa saat yang lalu karena perempuan tersebut menolak untuk makan.


“Dania…” Lirih Sarah, Sarah berlutut, memegang wajah Dania.


“Tolong aku Sarah.” Dania berkata lemah.


Sarah buru-buru menghapus air matanya.


"Tunggu yah, aku pasti akan membuka tali ini.”


Sarah mencoba membukanya dengan tangan kosong, tapi nihil tali itu terlalu kuat. Wanita tersebut lalu melihat ke sekelilingnya, mencari benda yang bisa ia gunakan.


“Tunggu sebentar Dania.” Ia berkata kembali.


Setelah berkeliling mencari, ia menemukan pecahan kaca di sudut ruangan itu. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis.


“Dania kita akan bebas...” Ucapnya lirih sambil menggoreskan benda itu pada tali yang mengikat Dania.


Beberapa menit kemudian, ikatan di tangan Dania telah terlepas. Sarah beralih pada ikatan di kaki Dania, tak lama, tali itu pun juga terlepas.


Sarah membantu Dania untuk berdiri, sahabatnya itu terlalu lemah.


“Apa kau masih bisa berjalan? Hm... maksudku berlari. Kalau hanya berjalan bisa-bisa kita akan cepat tertangkap, hehe.” Sarah mencoba untuk bercanda.


Dania menyunggingkan senyum tipis, menganggukkan kepala.


“Insya Allah aku bisa.” Dania berkata mantap.


“Ayo.” Sarah dan Dania lalu keluar melalui jendela itu, setelah mengecek keadaan di luar mereka mengendap-endap pergi dari sana.


“Sarah aku takut…”


“Jangan takut, kita bersama, aku sudah mengawasi semuanya tadi, penjaga yang berjaga di sini tidak terlalu banyak mungkin hanya ada 5-6 orang, karena selebihnya sudah pergi bersama Jayadi si breng*ek itu.” Kilatan amarah kembali terlihat di mata Sarah, raut wajahnya berubah, setetes air matanya terjatuh, wanita itu buru-buru menghapusnya.


“Kamu baik-baik saja kan? Apa dia melakukan sesuatu padamu?” Dania bertanya hati-hati.


“A... aku… aku… dia sudaah huh…” Sarah tak sanggup melanjutkan ucapannya.

__ADS_1


Sudahlah, aku akan ceritakan nanti saja, sekarang kita harus keluar dulu dari sini. Sebelum para penjaga itu sadar kalau aku dan kamu tidak ada.” Elak Sarah.


Dania mengangguk mengiyakan, yang pasti ia tahu kalau Jayadi sudah melakukan hal yang buruk pada Sarah.


__ADS_2