Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja

Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja
Wanita Kedua


__ADS_3

6 tahun yang lalu…


Dania duduk termenung di taman belakang rumahnya, memandangi pigura foto yang ia pegang. Foto berukuran 3R itu masih ia simpan dengan baik, foto pernikahannya dengan lelaki yang amat ia cintai.


Walau tampak selalu tegar, nyatanya dia adalah seorang wanita yang kini harus menjaga anaknya seorang diri. Ia tetaplah seorang wanita yang membutuhkan sosok seorang laki-laki yang akan selalu melindunginya dan putrinya. Namun kenyataannya sekarang, ia hanya bisa melihat foto di tangannya itu untuk mengobati rasa rindunya pada suami tercintanya.


“Andai saja kamu masih ada mas, di akhir pekan seperti ini kamu pasti sudah mengajak aku dan Indah untuk menghabiskan waktu bersama, kita akan jalan-jalan ke mall, menonton di bioskop atau makan bersama di luar. Itu pasti akan sangat menyenangkan, mas.” Dania berucap lirih.


Farid yang baru saja bangun dari tidurnya itu segera keluar dari kamar, hendak ke dapur untuk minum, tenggorokannya terasa sangat kering.


Sesampainya di dapur…


Setelah meminum dua gelas air putih, Farid yang hendak beranjak kembali ke kamarnya itu menghentikan langkahnya, saat melihat Dania yang menangis dari balik jendela dapur yang ada di sana.


Demi melihat wanita yang sudah ia anggap seperti ibunya itu menangis, ia menjadi tak tega. Mengurungkan niatnya untuk kembali ke kamar, ia menghampiri Dania ke halaman belakang dengan sebuah gelas yang berisi air putih.


Farid duduk di sofa di samping Dania, dengan sebuah meja di tengah mereka. Pemuda itu meletakkan gelas tersebut di atas meja, memberikannya kepada Dania. Melihat Farid yang datang Dania buru-buru menghapus jejak air matanya.


“Di minum dulu tante.” Ucapnya sopan.


“Terima kasih nak.” Dania tersenyum dengan tulus, meminum air itu.


“Tante kenapa menangis? Apa ada sesuatu yang membuat tante merasa tidak nyaman? Atau ada hal lain? Aku akan membantu semampu ku tan”


Dania menatap pemuda yang duduk di hadapannya itu. Pemuda yang sungguh baik hati, siapapun ibunya ia pasti sangat beruntung karena memiliki putera berhati malaikat seperti dirinya.


“Tante tidak ada masalah Farid, kamu tidak perlu khawatir.” Menenangkan.


“Lalu kenapa tante menangis?”

__ADS_1


Dania tertunduk sejenak, sekali lagi memandangi pigura foto itu. Sebelum akhirnya ia kembali menatap Farid.


“Tante hanya merindukan almarhum suami tante.” Ucapnya sendu.


Farid mengangguk mengerti,


“Tante jangan sedih lagi, suami tante juga pasti akan sedih kalau lihat tante terus menangis, Indah juga.”


Sekali lagi Dania tersenyum tulus pada pemuda di depannya itu, ia mengangguk mengiyakan.


“Oh iya tante, bisa aku melihat foto ayah Indah? Dia pasti sangat tampan sehingga tante jatuh cinta padanya.” Menggoda.


“Kamu bisa saja nak.” Dania tersipu.


Memandang kembali foto di tangannya,


“Dia memang sangat tampan, dan baik hati.” Ucapnya.


“Bagaimana, suami tante memang tampan kan?” Ucap Dania.


Farid masih teridam, tanpa sengaja pemuda itu kini meremas lembaran foto itu, yang al hasil merusaknya hingga pinggiran foto itu sobek. Dania yang melihatnya segera mengambilnya kembali. Memandang bingung pada Farid yang kini tampak marah dan memerah matanya, satu butiran bening jatuh melewati matanya, segera pemuda itu menepisnya dari pipi. Ia beranjak dari duduknya, membelakangi Dania yang kini tampak bingung dengan sikap Farid.


“Farid, ada apa nak?” Dania beranjak mendekati pemuda itu.


“Jadi tante orangnya…” Farid berkata lirih.


“Tante? Apa maksud kamu nak? Tante tidak mengerti.”


“Jadi tante wanita yang sudah membuat ayah saya melupakan istri dan anaknya di kampung!?” Nada bicara Farid meninggi.

__ADS_1


Mata Dania membulat, ia begitu terkejut mendengar kata-kata Farid.


“Apa maksud kamu nak? Ayah… ayah kamu? Farid jelaskan dengan baik nak.”


“Laki-laki itu! Laki-laki yang ada di foto itu adalah ayahku, suami dari ibuku!” Menunjuk foto itu.


Bagai di sayat sembilu, Dania terdiam. Apa yang di ucapkan oleh Farid sukses membuat Dania tak bisa berkata-kata.


"Kamu salah nak, lihatlah dengan baik sekali lagi, kamu pasti salah. Dia adalah suami tante, ayah Indah."


“Bertahun-tahun aku bertanya-tanya, mengapa? Mengapa ayahku tega meninggalkan ibuku seorang diri di kampung? Mengapa dia tega melupakan wanita yang begitu setia menunggunya di sana, menunggu kepulangannya dengan tidak sabar setiap harinya di depan pintu. Ternyata… heh, itu karena dia telah membangun rumah tangganya yang lain di kota, aku tidak menyangka tante tega melakukan semua ini, merebut suami orang lain. Tante sudah mengambil kebahagian wanita lain demi membangun kebahagiaan tante sendiri.” Luapan amarah Farid.


Tangan Dania bergetar, perlahan lembaran foto itu jatuh dari tangannya begitu juga air matanya yang sudah tak bisa ia bendung.


Farid mengepalkan tangannya kuat, lalu pergi dari sana. Sementara Dania, Dania jatuh terduduk dengan air mata yang tergenang di pipinya. Wanita itu begitu hancur, suami yang ternyata begitu ia cintai selama ini menjadikannya wanita kedua, telah menjadikan ia wanita jahat yang menghancurkan kehidupan orang lain.



Farid berjalan cepat menuju kamarnya, pemuda itu mengambil sebuah ponsel dan dompet, kemudian keluar kembali, meninggalkan rumah tersebut.


Dania yang masih terduduk itu melihat kepergian Farid, wanita itu berdiri perlahan, berusaha mengejar pemuda itu.


“Farid! Farid dengarkan penjelasan tante dulu! Farid!” Dania berteriak memanggil, Farid tidak mendengarkan dan segera berlalu dari sana dengan sepeda motornya.


Dania kembali menangis di depan pintu, Indah yang tadi mendengar mamanya terus memanggil nama Farid itu juga segera keluar dari kamar, ingin tahu apa yang terjadi.


Indah keluar dari kamarnya dengan tergesa-gesa mencari keberadaan Dania. Gadis itu terkejut melihat ibunya yang menangis dengan menyebut nama Farid.


“Ma… mama kenapa?” Indah menghampiri memegang pundak Dania.

__ADS_1


“Farid… aarrgghhh.” Dania merasakan sakit yang luar biasa di sebelah kiri dadanya.


“Ma! Mama! Mama kenapa?” Indah ketakutan melihat Dania yang kesakitan. Perlahan Indah merasa semakin tidak kuat menahan beban tubuh ibunya, sampai akhirnya mereka berdua terjatuh dengan Dania yang sudah tidak sadarkan diri. Sambil menangis, Indah segera mencari bantuan kepada tetangga sekitar untuk membawa ibunya ke rumah sakit.


__ADS_2