
Para penjaga tersebut pun masuk ke rumah itu, mendapati nenek dan kakek yang sedang duduk di dipan sambil meminum secangkir teh dan kopi.
“Eh, ada tamu toh.” Ucap kakek.”
Sementara nenek terlihat takut-takut melihat orang-orang berbadan kekar dan berwajah ganas tersebut.
“Geledah seluruh isi rumah ini.” Ucap salah satu penjaga.
Namun saat mereka hendak bergerak Farid menghentikan mereka.
“Hei… hei, tunggu… “
“Atas dasar apa kalian bisa melakukan semua ini? Masuk ke rumah orang tanpa permisi dan ingin menggeledah rumah kami.” Farid protes.
“Sebaiknya kamu minggir, atau kami akan bertindak kasar, jika memang wanita yang kami cari tidak ada di sini, maka kalian tidak perlu se-panik ini kan!”
Farid terdiam.
“Cepat, cari wanita itu!” Perintah kembali pemimpin penjaga tersebut.
Kali ini Farid hanya terdiam dan membiarkan dua penjaga lainnya menggeledah rumah mereka. Begitu pula dengan nenek dan kakek.
Para penjaga memasuki setiap kamar dan memeriksa setiap sudut rumah itu, tapi mereka tidak menemukan apapun.
Beberapa saat kemudian mereka kembali pada pemimpin mereka.
“Tidak ada sesuatu yang mencurigakan bos, wanita itu tidak ada di sini.” Kata seorang yang tadi sibuk membongkar barang di rumah tua tersebut.
“Iya, wanita itu tidak ada.” Ucap yang satunya lagi.
Pemimpin penjaga tersebut terdiam sejenak.
“Dengar kan! Memangnya untuk apa kami menyembunyikan seseorang di sini.” Ucap Farid merasa lega.
“Iya, kami tidak pernah melihat wanita yang ada di foto itu, kalian juga sudah memeriksa rumah kami dan tidak menemukan apapun, sekarang kalian boleh pergi.” Ucap kakek.
“Iya bos, sebaiknya kita mencari ke rumah penduduk yang lain lagi,” Bisik salah satu penjaga.
Namun pemimpin penjaga tersebut masih tak bergeming dari tempatnya, sepertinya ia masih mencurigai sikap Farid tadi.
“Apa kalian sudah mencari di halaman belakang rumah ini?” Tanyanya.
Mendengar itu, Farid melotot kan matanya, terkejut. Nenek yang mendengarnya pun mulai gelisah.
“Belum bos.”
“Kalau begitu aku sendiri yang akan memeriksanya.” Ucap pemimpin penjaga tersebut, segera menuju halaman belakang.
Melihat hal itu Farid, dan kakek ikut menyusul. Nenek yang juga sudah akan beranjak itu kembali duduk saat kakek melarangnya untuk ikut.
Pemimpin penjaga itu mulai memeriksa, di semak-semak, sampai kepada di sudut kandang kambing dan ayam di sana.
Kakek dan Farid yang berdiri di sana harap-harap cemas.
__ADS_1
Setelah cukup lama berkeliling, pemimpin penjaga itu pun menyerah.
“Yah, kau benar dia memang tidak ada di sini. Maaf sudah mengganggu kenyamanan kalian.” Ucapnya saat menghampiri kakek dan Farid.
“Yah tuan, itu tidak masalah.” Jawab kakek.
Namun saat akan beranjak dari sana, penjaga tersebut kembali menghentikan langkahnya saat pandangannya tak sengaja melihat setumpuk rerumputan di sudut rumah tersebut, di sana yang ada di bawah sinar matahari.
Melihat hal itu, pelipis kakek berkeringat.
“Mengapa kalian menaruh rumput itu di sana?” Tanya penjaga tersebut.
“Yah….. eemmm… i…itu untuk makanan ternak kami.” Ucap Farid gugup.
“Yah, sebaiknya kalian memindahkannya sebelum rumput itu kering karena sinar matahari.”
“Y… yah… tuan benar, ternak kami pasti tidak akan suka memakannya jika tidak segar lagi, aku akan segera memindahkannya.”
Penjaga tersebut mengangguk, lalu berlalu dari sana.
Kakek dan Faridyang mengikuti dari belakang, bernapas lega.
Sesampainya di ruang tamu tempat dua penjaga lainnya menunggu.
“Ayo kita lanjutkan pencarian, wanita itu tidak ada di rumah ini.” Ucap pemimpin penjaga itu.
“Baik bos.” Jawab mereka bersamaan.
…
“Aku rasa mereka sudah cukup jauh kek.” Ucap Farid mengedarkan pandangannya di balik jendela.
“Iya, kek. Kita harus cepat mengeluarkan Dania dari lubang itu, dia pasti merasa sesak.” Nenek khawatir.
“Iya nek, ayo.”
Mereka bertiga pun segera menuju kembali ke halaman belakang, untuk mengeluarkan Dania dari lubang tersebut.
...***...
Pagi hari, Adnan menghentikan langkah papanya yang akan berangkat ke kantor.
“Tunggu, aku ingin bicara sebentar.” Ucap Adnan datar.
Ayah Adnan menghentikan langkahnya, berbalik ke arah putranya. Tatapan pria paruh bayah itu tampak dingin.
“Cepat katakan, papa sudah terlambat.”
“Aku ingin menanyakan sesuatu soal perusahaan Jayadi Group Industry.”
Ayah Adnan mengerutkan keningnya mendengar nama perusahaan tersebut.
“Apa yang ingin kamu tanyakan?”
__ADS_1
“Apa papa mengenal pemimpin perusahaan itu?”
“Yah, dia salah satu rekan bisnis papa."
“Begini, aku memiliki seorang teman yang ibunya bekerja di perusahaan itu namanya tante Dania.”
Mendengar nama itu, mimik wajah ayah Adnan tampak berubah, pria tersebut terdiam.
“Pa… pa apa papa mendengar ku?”
“I… iya, lalu… apa hubungannya dengan papa?”
“Beberapa hari yang lalu tante Dania melakukan perjalanan bisnis, tante Dania mengatakan akan pulang kemarin pagi, tapi sampai sekarang temanku itu belum mendapatkan kabar apapun dari ibunya, kami juga tidak bisa menghubunginya, ponselnya mati.”
“Lalu, mengapa kamu menceritakan hal ini pada papa?”
“Yah… aku pikir papa bisa membantuku untuk mencari tahu mengenai ibu temanku itu, papa bisa mengubungi pemimpin perusahaan tersebut dan mencari tahu kabarnya, aku rasa itu tidak akan sulit untuk papa.”
“Temanmu itu pasti sangat istimewa bukan?”
“Maksud papa?”
“Yah… kalau dia hanya sekedar teman, kamu tentu tidak akan sudi untuk memulai pembicaraan panjang ini dengan papa.”
Adnan terdiam, tak menjawab. Ayah Adnan sudah menduga hal tersebut dengan diamnya si putra satu-satunya itu. Ia berbalik meninggalkan Adnan.
Melihat hal tersebut, Adnan kembali menghentikan ayahnya.
“Apa papa akan mencari tahu tentang tante Dania?” Tanya Adnan ragu-ragu.
Ayah Adnan terdiam sejenak, sebelum akhirnya ia menjawab…
“Papa akan coba.” Jawabnya singkat, lalu berlalu meninggalkan Adnan.
“Papa pasti bisa melakukannya, dia akan mendapatkan informasi itu, kecuali jika ia tidak ingin membantuku ia pasti mengabaikan permintaanku.” Ucap Adnan lirih.
...***...
“Terima kasih, kek, nek, Farid. Kalian sudah membantuku lagi.”Dania bersyukur.
“Tidak perlu berterima kasih seperti itu ndo, itu sudah menjadi kewajiban kami.” Ucap nenek.
“Tante, Insya Allah besok Farid akan meminjam mobil teman Farid untuk mengantar tante ke kota. Di sini tidak aman untuk Tante, kita juga harus segera pulang untuk menyelamatkan anak tante.”
Mendengar hal itu, Dania tampak begitu senang dan terharu. Rasa syukur menyelimuti dirinya, juga merasa tak percaya dipertemukan dengan orang-orang yang sangat baik dengannya, terutama pemuda di depannya sekarang.
“Benarkah nak? Apa kamu benar-benar akan mengantar tante?” Dania reflek memegang tangan pemuda itu.
“Insya Allah tante, tante berdo’a yah… semoga semuanya berjalan dengan lancar.”
“Iya… iya, tante pasti akan berdo’a, terima kasih yah nak, sungguh terima kasih.” Dania tersenyum bahagia.
Farid menganggukkan kepalanya, merasa senang melihat Dania yang sangat bahagia.
__ADS_1
‘Indah… tunggu mama nak, mama akan membawa kamu pergi jauh dari semua ini. Ya Allah lindungilah hamba, dan orang-orang baik ini.’ Do’a Dania.