
Satu pagi lagi telah terlewati, subuh-subuh sekali Farid sudah berangkat ke rumah Rama temannya untuk meminjam mobil. Dania tak sabaran menunggu di ruang tamu, bersama nek Sarimah dan kakek Suryo. Juga beberapa barang yang akan mereka bawa. Dania sebenarnya tidak membawa pakaian apa-apa selain pakaian terakhir yang ia kenakan sewaktu ia kabur dari villa. Dania ingin mengenakan pakaian itu kembali, tapi nenek melarangnya. Jangan sampai itu semakin membuat para penjahat yang mencarinya mudah menemukan dirinya.
Jadilah ia memakai pakaian almarhumah anak nek Sarimah , ternyata ukurannya pas. Melihat Dania memakai pakaian itu membuat nek Sarimah dan kakek Suryo menjadi terharu, kembali teringat anaknya, tapi mereka berusaha menyembunyikan rasa sedihnya di balik senyum memuji kalau Dania tampak cantik memakainya. Baju gamis panjang abu-abu yang ia padukan dengan jilbab yang senada.
Nenek bilang, itu adalah baju yang dihadiahkan oleh menantunya untuk putri mereka.
Farid juga membawa satu tas besar berisi pakaian dan surat-surat yang akan dia butuhkan untuk mendaftar di universitas. Pria itu juga sudah mempersiapkannya sejak semalam.
Mereka bertiga menunggu Farid dengan tidak sabar.
Tak lama kemudian, Farid sampai di rumah tua mereka dengan membawa mobil sedan biasa.
Melihat itu Dania berdiri dari tempatnya duduk.
Farid mematikan mesin mobil dan menghampiri Dania, kakek, dan nenek di ruang tamu.
Semuanya sudah siap tante, sebaiknya tante masuk duluan. Barang-barang ini biar Farid yang memasukkannya ke mobil.
“Tutup wajahmu dengan kerudung ndo.” Ucap nenek.
Dania mengangguk.
Sebelum pergi ia memeluk erat nenek Sarimah.
“Aku tidak akan pernah melupakan kalian dan apa yang telah kalian lakukan untukku, doakan aku semoga nanti bisa kembali ke sini lagi dalam keadaan yang aman.” Ucap Dania dalam pelukan nenek, ia terisak dalam haru.
“Iya ndo, yang terpenting sekarang kamu harus selamat dan bertemu dengan anakmu lagi.” Nenek juga ikut menangis.
Dania beralih pada kakek Suryo menyalami tangannya dengan khidmat.
“Terima kasih banyak yah kek. Berkat kakek dan Farid aku bisa tertolong hari itu.”
“Itu semua bukan karena kakek, melainkan karena izin Allah ndo.” Kakek mengusap kepala Dania penuh kasih.
Dania mengangguk, menangis.
“Sudah sekarang kamu cepat pergi, mumpung masih agak gelap.” Ucap nenek.
__ADS_1
Dania mengangguk, ia dengan cepat berjalan masuk ke dalam mobil dengan menutupi sebagian wajahnya.
Di susul oleh Farid yang mulai memasukkan barang-barang mereka ke bagasi mobil. Lalu kemudian ia ke kursi kemudi. Setelah berpamitan dengan nenek dan kakek.
“Farid pergi yah nek, kek. Jaga diri kalian baik-baik.”
Nek Sarimah dan kakek Suryo mengangguk.
“Insya Allah Farid janji akan sering-sering mengirim surat kepada kalian.”
Rasa haru menyelimuti keluarga kecil itu.
“Assalamu’alaikum.”Pamit Farid.
“Wa’alaikumussalam warahmatullah.”
Bagai melepas anak laki-lakinya untuk kedua kalinya merantau ke kota. Hati nenek serasa di sayat sembilu. Pertama menantunya yang berpamitan, dan kedua adalah cucunya. Tapi kali ini ia yakin Farid pasti akan kembali dan tidak menghilang seperti menantunya dulu.
Di pagi yang dingin itu, dengan mentari yang belum menampakkan sepenuhnya dirinya di ufuk timur, Farid memenuhi janjinya untuk membawa Dania kembali pulang ke rumahnya.
...***...
Beberapa kali mengedipkan matanya, hingga buram itu tak terlihat lagi. Ia terdiam belum menyadari apa yang terjadi semalam, hingga beberapa detik kemudian saat ia akan berdiri dari tempatnya duduk, sesuatu dengan kuat menahannya.
Sebuah tali yang besar kini mengelilingi seluruh tubuhnya bersama dengan kedua teman lainnya yang juga di ikat bersama di samping kanan dan kiri tubuhnya.
Kedua pria yang lain masih pingsan.
“Eh, kalian bangun!!” Teriaknya pada temannya itu.
“Bangun, bod*h.” Menggoyangkan tubuhnya agar tubuh temannya bergerak.
Kedua pria yang pingsan itu pun akhirnya juga sadar. Mereka sama bingungnya saat melihat apa yang terjadi pada mereka saat ini.
“Bos, ada apa ini? Kenapa kita diikat.” Pria di sebelah kanan bertanya.
“Kita di ruang tamu?” Tanya pria di sebelah kiri yang masih memicingkan matanya.
__ADS_1
“Dasar bodoh, kamu tidak ingat semalam ada anak ingusan yang sudah buat kita jadi begini hah!” Marahnya.
“Aku tidak mengingat apa-apa, aku hanya ingat semalam seseorang memukuli ku dari belakang dan aku jatuh pingsan.” Kata pria di sebelah kiri, ia yang semalam berdiri di dekat jendela mengawasi situasi.
“Memalukan sekali, kita di kalahkan oleh seorang anak remaja.” Pria di sebelah kanan berucap.
“Diam kau, mereka hanya beruntung, kita hanya kurang persiapan dan hati-hati kali ini.” Bos mereka mencari alasan.
“Persiapan? Memangnya kita mau menghadiri makan malam, apa?” Bisik pria di sebelah kiri.
“Diam kau!”
“Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang bos?” Tanya pria di sebelah kanan.
Sebelum menjawab pertanyaan anak buahnya itu, dua remaja tampan datang dan duduk di sofa. Tersenyum meremehkan tiga pria dewasa di depan mereka saat ini.
“Sudah bangun yah? Apa tidur kalian semalam nyenyak?” David bertanya mengejek, Adnan yang ada di sampingnya tampak dengan raut wajah serius duduk bersandar dengan tangan yang bersilang di dada.
“Lepaskan kami anak ingusan!” Bentak pria tersebut dengan kasar.
“Wah… wah… wah… paman, kau sudah kalah, tapi masih saja menganggap kami sebagai anak ingusan. Apa ingin mencoba jurus ku kembali hah? aku akan dengan senang hati melakukannya.” David mendekatkan wajahnya pada pria di sebelah kiri yang segera dibalas dengan gelengan kepala. Sementara bos mereka hanya diam dalam kemarahannya.
“Lepaskan kami, kalian belum tahu sedang berhadapan dengan siapa.” Pria itu yang sejak semalam David memanggilnya dengan sebutan BosMen alias Bos Cemen itu menatapnya benci.
“Lepaskan? Yah… pasti akan kami lepaskan tapi di…”
“Katakan dulu siapa yang mengirim kalian ke sini?” Adnan memotong pembicaraan David dengan BosMen tersebut.
“Heh! Apa aku harus menjawab pertanyaanmu itu?” BosMen tertawa mengejek.
Mendengarnya Adnan beranjak dari tempatnya duduk, dan kini mensejajarkan tubuhnya pada bos penjahat tersebut. Tatapannya berbeda dari biasa, seperti seorang pria yang siap untuk menaklukkan musuhnya, penuh dengan kebencian.
David yang melihat aura yang berbeda dari Adnan hanya terdiam, biarkan temannya itu menyelesaikan kalimatnya dulu, takut-takut ialah yang akan menjadi pelampiasan amarah Adnan nantinya.
“Mengapa kalian ingin menculik Indah? Siapa yang menyuruh kalian? Dan dokumen apa yang kalian maksud? Apa hubungan kalian dengan keluarga ini?” Tanyanya dengan nada yang mengintimidasi.
“Wah… wah… wah… begitu banyak pertanyaan anak muda, dan aku…”
__ADS_1
“CEPAT JAWAB!!!” semua yang ada di ruangan tersebut terlonjak kaget, begitu pun dengan David yang mendadak hampir copot jantungnya.