
“CEPAT JAWAB!!!” Bentak Adnan.
“Astagfirullah.” David terkejut memegangi dadanya.
Mendengar itu Adnan dan tiga penjahat tersebut juga reflek berbalik melihat David.
“Kenapa?” David bingung.
Semua terdiam….
“Aku kan terkejut, nan kalau teriak bilang-bilang dong, bikin jantungan aja.”
Adnan hanya bisa menghembuskan nafas kasar melihat tingkah David ini, ia membuatnya salah fokus saja.
“Aku tidak ingin mengulangi pertanyaanku, cepat katakan atau kalian akan berakhir di kantor polisi.”
Mendengar itu ketiga pria tersebut saling pandang, dua di antara mereka terdiam karena takut sementara bos mereka tergelak.
“Hahahhh… anak muda, sebesar apapun kau mengancam ku, aku tetap tidak akan mengatakan apapun. Bagiku kesetiaan adalah yang utama. Kalau kau ingin melaporkanku pada polisi, laporkan saja, namun atas dasar apa?”Lelaki itu memandang remeh.
“Atas dasar penculikan dan masuk ke rumah orang tanpa izin.” Jawab Adnan santai.
“Hahahh… apa kau punya buktinya kalau aku melakukan penculikan? Siapa yang ku culik? Apa yang akan kau katakan pada polisi?” Sekali lagi ia meremehkan, kali ini kedua temannya juga ikut tertawa.
“Hahahh… “ David menirukan tawa si bos penjahat itu.
“Sudah selesai ha ha ha nya?" Cowok itu beranjak dari duduknya.
“Jangan pernah menilai dan memandang orang lain dari umurnya BosMen.”
Mendengar ia di sebut dengan sebutan yang aneh, pria itu mengerutkan keningnya.
“BosMen?” Tanyanya kecil.
“Iya kamu BosMen, alias Bos Cemen. Hahhh…” Tiba-tiba David tertawa merasa geli dengan nama itu, sementara si BosMen tampak memerah wajahnya.
“Apa! mau marah? Sudahlah… terima saja, sebutan itu memang cocok untukmu.”
BosMen memberontak menggoyangkan tubuh dan tangannya yang terikat.
Adnan yang melihat tingkah David hari ini membuatnya geleng-geleng kepala, cowok itu tampak lebih jenaka sama seperti dulu, sifatnya yang seperti ini akan keluar saat menghaapi seseorang yang ia benci atau apapun itu yang sama dengan situasi saat ini.
__ADS_1
“Oh yah, sampai mana tadi? Kamu jangan menilai seseorang dari usianya, walaupun kami masih SMA dan tampan, kami sudah mempersiapan semuanya, kami ini pintar tidak seperti kalian.”
BosMen dan anak buahnya tak mengerti.
“Belum mengerti juga yah… ck ck ck.” David menggelengkan kepalanya.
“Apa kalian tidak memperhatikan tempat ini? Di sana dan di sana.” Tunjuk Adnan pada sudut ruang tamu dan ruang tengah rumah itu.
BosMen dan anak buahnya terdiam.
“Bagaimana ini bos?” Bisik salah satu dari mereka, BosMen tak menjawab.
Ia tidak bisa menduga kalau Adnan dan David sudah memasang CCTV di rumah tersebut. Pikir mereka rumah sederhana itu tidak mungkin memiliki CCTV, kali ini ia kurang berhati-hati.
“Dan jangan lupakan, 2 CCTV lagi di kamar Indah dan juga depan rumah ini. Aku rasa itu sudah menjadi bukti yang sangat kuat bukan.”
BosMen terdiam….
“Sudahlah Adnan ku rasa dia tidak akan bicara. Biar polisi saja yang melakukan pekerjaan ini, cepat telepon mereka!” Usul David.
Adnan tampak berpikir sejenak, sebelum akhirnya menganggukkan kepala dan menelpon pihak kepolisian.
…
“Farid lebih cepat lagi nak!” Kata Dania yang duduk di sebelahnya.
“Ia tante.”
Farid menambah kecepatan mobil itu.
“Semoga saja kita tidak ketahuan, tante takut sekali.” Dania meremas jemarinya.
“Tante tenang saja, Insya Allah kita akan selamat sampai tujuan, tante berdo’a saja yah.” Farid menenangkan, meski kini jantungnya pun sudah dag dig dug.
Dania mengangguk.
Beberapa jam dalam situasi yang menegangkan, mereka akhirnya memasuki kawasan kota. Dania begitu bersyukur karena apa yang ia takutkan tidak terjadi. Tanpa membuang waktu, mereka langsung menuju kota tujuan berikutnya.
‘Indah, mama datang sayang.’ Dania tersenyum dalam diam.
...***...
__ADS_1
Polisi datang beberapa saat setelah Adnan menelpon mereka. Para tetangga yang melihat kedatangan pihak berwajib itu berdiri di depan rumah mereka masing-masing. Bertanya-tanya ada apa gerangan? Mengapa di rumah tetangga mereka yang belum begitu lama tinggal di sana kedatangan polisi? Mengapa Bu Dania dan Indah tidak terlihat di sana?
BosMen dan anak buahnya itu pun di ringkus polisi, tangan mereka terborgol sekarang. BosMen menatap benci pada Adnan dan David, dan sebelum mereka masuk ke mobil BosMen berhenti sejenak di hadapan Adnan.
“Kalian tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa, ingat! Ini belum berakhir, kita pasti akan bertemu kembali.” Ucapnya menatap Adnan marah.
Adnan hanya diam tak berniat untuk membalas ucapan pria itu, memasang wajah datar. Sementara David…
“Ya ya ya, jika kita bertemu lagi, ku pastikan kalian juga akan kalah seperti hari ini.” Ucapnya percaya diri, eh… atau lebih ke sombong gak sih, hehe.
BosMen mendengus bergantian menatap tajam pada David, sebelum akhirnya ia di masukkan ke mobil dan berlalu dari tempat tersebut.
…
“Kenapa aku tidak bisa ke sana Sinta? Aku mau melihat keadaan kak Adnan dan kak David.” Indah berdiri di depan pintu kamar Sinta, mencoba untuk keluar. Sementara Sinta berdiri tepat di hadapan Indah, menghalangi gadis itu untuk keluar.
“Indah, kamu ini keras kepala sekali sih kalau dibilangin, aku kan sudah bilang kita tidak boleh ke sana, sampai kak David atau kak Adnan menelpon. Kita tunggu telepon dari mereka dulu Indah.”
“Sampai kapan Sin? Ini sudah jam berapa aku sudah tidak bisa menunggu lagi, sana aku mau pulang!” Indah menggeser tubuh Sinta, walau Sinta pun tidak bergeming dari tempatnya.
“Sinta, kamu ini makan apa sih, kenapa badan kamu berat sekali?” Ucap Indah kala mendorong tubuh Sinta.
“Ck.” Sinta berdecak, namun saat ia akan menarik Indah untuk kembali duduk di sofa. Ponselnya berdering.
Mendengar ponsel Sinta yang ada di atas tempat tidur berdering, Indah dengan cepat mengambilnya sebelum sahabatnya itu. Melihat nama yang tertera di ponsel, senyumnya mengembang.
“Kak David.” Ucapnya.
“Ayo, cepat angkat!”
Indah menganggukkan kepala, dan menjawab telepon itu.
“Halo kak, ini Indah apa aku sudah bisa pulang ke rumah sekarang? Kak David dan kak Adnan baik-baik saja kan? Tidak ada yang terluka kan? Apa semalam benar-benar ada seseorang yang Mencari ku kak?” Ucapnya cepat dengan banyak pertanyaan.
David menjawab di seberang telepon, Indah tampak lega mendengarnya.
Beberapa saat kemudian ia mematikan teleponnya. Lalu memegang tangan Sinta segera.
“Ayo, kita pulang ke rumahku Sin, kak David bilang aku sudah boleh ke sana.” Indah menarik tangan Sinta keluar dari kamar.
“Indah pelan-pelan!” Ucap Sinta saat Indah menariknya menuruni tangga.
__ADS_1