
“What? kamu bilang apa? Aku cemburu? Sorry yah gak ada alasan aku cemburu sama kamu.” Sinta menutup-nutupi. Sebenarnya ia pun bingung dengan perasaannya sendiri. ia merasakan gejolak aneh saat melihat Adit bersama dengan perempuan lain, tapi apa benar perasaan itu yang dinamakan cemburu?
‘Tidak… tidak, aku hanya marah dan kesal padanya seperti biasa.’ Sinta berusaha menolak perasaannya.
Adit masih tersenyum lebar, ia merasa sangat senang karena kemungkinan besar Sinta juga suka padanya. Opininya sih…
“Kamu jangan salah paham, perempuan yang selalu bersamaku di sekolah itu adalah Adikku, adik kandungku. Apa kamu tidak lihat kemiripan wajahku dan dia, dia sangat imut dan cantik, sedangkan aku, aku sangat manis dan tampan.” Adit menaik turunkan kedua alisnya.
Sinta menatap Adit yang kini masih tersenyum padanya.
‘Menapa dia terlihat benar-benar manis? Arrgghh… Sinta apa yang kamu pikirkan?’ Sinta menggelengkan kepalanya.
“Kamu kenapa Sin, kamu baik-baik aja kan?” Tanya Adit yang melihat Sinta kini menampar pelan pipinya.
“Ck, kamu makin ngaco yah… udah deh, aku mau istirahat. Mendingan sekarang kamu pulang, sebelum kamu membahas hal yang tidak-tidak lagi.”
“Siapa juga yang ngebahas hal yang tidak-tidak, bukannya kamu yah yang keceplosan kalau kamu cemburu?” Adit kembali menggoda.
“Adit! Pulang gak!” Mengancam dengan kepalan tangannya.
Adit terkekeh melihat salah tingkah Sinta, sedetik kemudian ia pun beranjak dari duduknya.
“Iya… iya aku pulang, besok jangan lupa masuk ke sekolah yah, kalau tidak aku bakalan datang lagi ke sini, dan ekhm… jangan cemburu lagi sama adikku.”
“ADITT!!” Sinta akhirnya mengejar Adit yang kini berlari keluar rumahnya.
“Aku pulang dulu yah Sin… dah.” Teriak Adit saat berada di dekat gerbang.
Sinta hanya memasang wajah juteknya karena tak berhasil menangkap dan memukul cowok itu. Namun sedetik kemudian, terlihat senyum kecil di sudut bibirnya.
...***...
Sinta meletakkan tasnya di bangku, ia sangat senang hari ini. Entahlah rasanya bunga-bunga tengah bermekaran di hatinya. Sejak Adit pulang dari rumahnya, ia tak henti-hentinya tersenyum sendiri. Entah karena apa, apa ia senang karena kedatangan cowok itu? Apa dia senang karena ternyata perempuan yang ia lihat waktu itu adalah Adik Adit? Apa benar ia menaruh perasaan pada musuhnya itu? Tapi bagaimana mungkin? Ah, tapi bukankah cinta terkadang tak bisa di deteksi kehadirannya di hati kecilmu? Bahkan sang pemilik hati itu masih tak tahu menahu mengenai perasaannya sendiri.
“Oh ayolah Sinta, berhentilah memikirkan hal yang tidak-tidak.” Menggelengkan kepalanya. Sinta berbalik ke belakang, melihat ke arah bangku Adit, cowok itu sedang asyik berbincang dengan teman sebangkunya, si kembaran tapi beda, yahh... Radit. Saat Adit melihat ke arahnya, dengan cepat Sinta kembali mengalihkan pandangannya. Jangan sampai ia ketahuan sedang mencuri pandang pada cowok itu.
“Indah ke mana yah, kok belum datang-datang sih. Udah mau jam 7?” Menumpu dagunya di tangan.
“Cepatlah datang Indah, aku ingin menceritakan banyak hal padamu.” Ucap Sinta pelan diiringi dengan senyum tipisnya.
...***...
Indah keluar dari kamarnya beberapa menit kemudian, menemui Dania dan Farid di ruang tamu yang sudah menunggunya. Duduk di sana, tersenyum… walau wajahnya nampak redup kali ini.
“Kamu udah siap sayang?” Dania membelai lembut puncak kepala Indah.
__ADS_1
Indah mengangguk pelan, sebelum akhirnya gadis itu berucap.
“Ma, saat kita berangkat, apa Indah boleh mampir sebentar ke rumah Sinta?”
Dania menatap wajah Indah, ia tahu jika Indah sangat sedih sekarang.
“Apa yang akan kamu lakukan nak? Sinta sekarang pasti sedang berada di sekolah.”
Farid hanya terdiam mendengarkan.
“Iya ma, Indah tahu. Indah hanya ingin menitipkan sesuatu untuk Sinta, nanti Indah akan memberikannya kepada pak satpam di sana.”
“Baiklah sayang, kita akan mampir ke sana yah.”
“Terima kasih ma.” Memeluk Dania.
Dania menatap Farid, menyampaikan kata yang tersirat…
‘Tante harus kuat.’
‘Iya.’
…
Bel tanda istirahat berbunyi nyaring, para guru mengakhiri pelajarannya. Senyum kelegaan tampak di wajah seluruh siswa. Sebagian besar mungkin akan mengatakan, (hufftt… akhirnya).
“Apa hari ini Indah masuk sekolah yah?” Adnan bertanya pelan pada dirinya sendiri.
“Sebaiknya aku cek ke kelasnya saja.” Raut wajah khawatir masih nampak di wajahnya, ia tahu jika Indah dan ibunya memang masih berada dalam bahaya sekarang.
…
Saat berada di depan pintu kelas Indah, Adnan hampir saja bertabrakan dengan Sinta yang juga ingin keluar dari kelas, berniat untuk ke kantin membeli minum.
“Oh astaga kak Adnan.” Terkejut.
“Maaf Sin, aku tidak lihat kamu tadi.”
“Iya kak gak papa, aku juga yang salah. Kak Adnan ada perlu apa ke kelas aku? Mau cari Indah?” Yah… bukankah sudah bisa di tebak cowok itu ingin bertemu siapa. Sudah sangat jelas bukan, jadi yah… Sinta tinggal to the poin aja.
“Iya, Indah mana? Aku hanya ingin memastikan dia baik-baik saja.” Ucap Adnan pelan.
“Indah gak datang kak.” Sinta menjawab sedih.
“Tidak datang?”
__ADS_1
Sinta kembali mengangguk, mengiyakan.
“Tapi… kenapa?” Adnan kini tampak terkejut, sekaligus cemas.
“Aku juga gak tahu, tidak ada pemberitahuan yang di kirim ke sekolah? Apa dia sakit yah? Aku jadi mengkhawatirkan keadaannya.” Melipat kedua tangannya di dada.
Adnan terdiam, memikirkan sesuatu.
“Apa jangan-jangan…”
“Jangan-jangan apa kak?” Tanya Sinta tak mengerti.
Tanpa menjawab pertanyaan Sinta, Adnan segera berlari menuju kelas.
“Kak Adnan! Kak Adnan ada apa?” Sinta berteriak memanggil cowok itu.
Adnan tak menjawab ataupun berbalik.
Sesampainya di kelas, cowok itu mengambil tasnya dan kembali berlari menuju gerbang, ia harus segera ke rumah Indah sekarang.
…
Sebelum pergi Dania menyampaikan rasa terima kasihnya kepada salah satu penjaga dan mengatakan agar menyampaikannya juga kepada Adnan. Mereka berpamitan tapi tidak mengatakan akan ke mana.
Dania dan Farid masuk ke mobil terlebih dahulu, Indah mendekati penjaga tersebut, yang di tugaskan untuk berada di depan teras rumah mereka.
“Paman, aku bisa minta tolong sama paman?” Indah berkata ragu.
“Tentu saja, tuan muda sudah memerintahkan kami untuk menjaga anda. Dan saya akan melakukan apapun yang anda perintahkan.” Berbicara dengan sopan.
Indah membuka tas salempang yang ia gunakan, mengeluarkan lembaran putih.
“Tolong berikan ini kepada kak Adnan yah…” Ucanya sedih.
Penjaga itu menerimanya.
“Baiklah, saya akan memberikannya kepada tuan muda.”
“Terima kasih paman, Indah pergi dulu yah, assalamu’alaikum.”
“Wa… wa’alaikumsalam, hati-hati di jalan nona.”
Indah menganggukkan kepala.
Farid duduk di kursi kemudi, sementara Dania dan Indah duduk di jok belakang, Farid menyarankan agar Dania lebih baik bersama Indah saat ini, menguatkan gadis muda itu.
__ADS_1
Mobil itu mulai berjalan perlahan, sekali lagi Indah berbalik ke belakang, melihat untuk yang terakhir kalinya, rumah yang telah ia tempati beberapa bulan terakhir ini, meski tak lama sungguh tempat itu telah mengukir banyak kenangan di hatinya