Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja

Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja
Terpaksa


__ADS_3

Beberapa menit kemudian Indah keluar dari kamar mandi. Setelah itu mereka sholat ashar berjamaah.


Selesai sholat….


Sinta tampak berbaring di tempat tidur, sedang menelfon dengan seseorang, Indah memainkan ponselnya sambil bersandar di sofa. Sedari tadi ia mencoba menghubungi ibunya, tapi masih belum juga tersambung.


‘Mungkin mama lagi kerja, sebaiknya aku tidak mengganggunya.’ Batin Indah, menghembuskan nafasnya kasar, reflek ia memegang pipinya yang terasa masih sedikit ngilu.


Ia kembali melirik ke arah Sinta yang baru saja selesai dengan teleponnya.


“Sin, waktu bangun tidur tadi pipiku sakit sekali seperti ada yang sudah mencubitnya dengan keras, rasanya masih sedikit ngilu.” Ucap Indah masih memegang pipinya dengan wajah yang sendu.


Sinta gelagapan.


“Eem.. emm.. mungkin ada serangga yang menggigit pipimu.” Sinta bangun dari posisi tidurnya. Tersenyum kaku pada Indah.


“Benarkah? Jadi di sini ada serangga? Serangga apa?” Tanya Indah polos.


“Mungkin… mungkin kecoa, iya kecoa.” Jawab Sinta asal.


“Hah! Kecoa! Iihh….” Indah bergidik.


“Pantas saja pipiku rasanya sakit sekali, aku jadi ngeri.” Indah menaikkan kedua kakinya ke sofa, melihat ke sisi kanan dan kiri.


“He he.” Sinta tersenyum paksa.


“Kamu pasti sering di gigit juga yah? Makanya Sin kamu jangan jorok, kamar kamu jangan di buat berantakan, jadi banyak serangga kan, bagaimana kalau serangga itu menggigit mata atau hidung ku sampai bengkak. Aku bisa gak cantik lagi.” Setengah marah.



‘Iya in aja deh.’ Batin Sinta kesal.


“Indah kita jalan yuk!” Ucap Sinta mengalihkan pembicaraan, ia mulai jengkel mendengar ocehan Indah yang terkesan memarahi dan menasehatinya itu.


“Ke mana?” Tanya Indah cepat. Tampak ia tersenyum senang, biasanya kalau Sinta mengajaknya jalan, maka sahabatnya itu akan membawanya ke tempat makan yang enak-enak.


“Ke mall aja gimana?”


“Hmm… oke.”


“Ya udah, kita siap-siap dulu.”


“Iya, yeeaahhh akhirnya jalan-jalan lagi.” Indah berteriak senang.



Selesai bersiap-siap, Sinta memakai celana jeans hitam dan kaos hitam dengan kemeja di luarnya, rambut yang ia ikat dan ia masukkan ke dalam topi berwarna abu-abu. Sementara Indah kembali memakai gamis putih dan jilbab berwarna ungu.


“Kamu kok pakai baju yang kemarin, apa gak bawa baju yang lain lagi?” Tanya Sinta yang melihat Indah memakai warna baju yang sama dengan kemarin.


“Yee… ini bukan baju yang kemarin tahu, Cuma warnanya aja yang sama. Enak aja huh.” Indah sebal.


“Ya udah gak usah sewot gitu kali, kan warnanya sama, jadi yah aku lihatnya sama aja.”


Indah mengerucutkan bibirnya, beberapa detik kemudian ia juga memperhatikan penampilan Sinta yang terlihat seperti laki-laki.

__ADS_1


“Lihatlah penampilanmu sendiri, aku sudah seperti ingin kencan dengan seorang pria saja. Aku tidak mau pergi kalau kamu memakai baju itu. Kalau ibuku lihat dia bisa salah paham nanti, dikiranya aku sedang jalan dengan laki-laki.” Indah menyilangkan tangannya di dada.


Sinta melihat pakaiannya sendiri yang ia rasa tak ada yang salah.


“Pertama, kamu kan tahu aku memang sering pakai pakaian seperti ini, kenapa sekarang kamu baru sewot? Kedua ibumu tidak di sini Indah, dia sedang berada di luar kota jadi mana mungkin dia bisa melihatmu? Kamu kalau ingin membalas ku carilah bahan yang keren sedikit, otak licik mu itu sudah bisa ku tebak.” Sinta berkacak pinggang.


Indah gelagapan, namun ia tidak kehabisan ide.


“Pokoknya aku gak mau pergi kalau kamu gak ganti baju.”


“Loh kok gitu, kan aku yang ngajakin kamu kenapa malah kamu yang ngancem sih.”


‘Oh, ayolah, bagaimana jika ia tidak mendapatkan hadiahnya hari ini?’ Sinta berpikir keras.


Indah berpura-pura marah dan tak mau menatap Sinta.


“Ck, oke-oke aku ganti baju.” Sinta mengalah dan beranjak menuju lemari.


“Tunggu!”


“Apalagi Indah?” Sinta emosi.


“Hari ini biar aku aja yang pilihin kamu baju yah, tunggu bentar.” Indah menghampiri Sinta, menggeser sedikit posisi sahabatnya itu dan mulai mencarikan pakaian yang cocok untuk sahabatnya.


"Apa ini bajunya hitam semua." Indah mengacak-acak isi lemari, sampai kemudian senyumnya tampak mengembang ketika melihat sepasang baju yang terlihat cute di matanya.


“Kamu pakai ini yah.” Indah memperlihatkan sebuah jeans putih dengan baju kaos oversize pink


“What?! Gak salah nih.” Sinta membulatkan matanya.


“Enggak-enggak, aku gak mau pakai itu Indah, lagian kenapa baju itu bisa ada di dalam lemariku sih?” Sinta sewot.


’Oh, iya itu kan hadiah dari mama yang tidak pernah ku pakai. Duh gimana nih?’ Sinta tampak berpikir.


“Mau di pakai gak? Kalau enggak kita gak usah pergi aja deh.” Indah memilih duduk di tempat tidur menunggu Sinta berpikir.


“Tapi kan gak harus baju itu juga Indah, aku kan bukan cewek yang feminim, mana warna pink lagi.” Sinta melirik baju itu tak suka.


“Ini gak terlalu feminim kok, terlihat netral aja.” Indah kembali memperhatikan baju itu.


“No, aku gak mau.” Tolak Sinta.


“Ya udah gak usah pergi.”


“Eh, kok gitu sih?”


“Aku heran yah sama kamu kok tumben ngebet banget mau jalan, kamu gak lagi rencanain sesuatu buat nyulik aku kan?” Indah menatap Sinta penuh selidik.


“Ck, ayolah gak usah kembali berpikiran macam-macam. Otak kecil mu itu memang sungguh menyedihkan. Rugi aku kalau harus menculik gadis cerewet seperti kamu.”


Indah mengerucutkan bibirnya.


“Jadi pergi gak nih?” Tanya Indah lagi.


“Tapi….”

__ADS_1


Drrtt… Drrtt…


Sinta meraih ponselnya yang bergetar.


Message:


Kakak nunggu kalian di bawah yah, cepetan turun.


Pesan dari David sukses membuatnya harus berlapang dada dan menerima kekalahan di antara perdebatan panjang dirinya dan Indah.


“Ya udah, iya-iya.” Sinta menyambar baju itu di tangan Indah lalu masuk ke kamar mandi.


Skip


Sinta keluar dari kamar mandi dengan wajah cemberutnya.


“Wah, masya Allah, kalau gini kan cantik.” Indah tampak girang sendiri.


“Sekarang tinggal…” Indah melepas ikat rambut yang Sinta kenakan. Nah, begini lebih cantik lagi.


“Indah gak usah macam-macam deh, aku gerah nanti.” Sinta berusaha merebut ikat rambutnya dari Indah, namun Indah buru-buru menyembunyikannya di kantong baju. Ia juga memakaikan sedikit bedak dan lip tint di bibir Sinta.


“Ck, kau menyebalkan.” Sinta mensedekapkan kedua tangannya di dada.


Indah berjalan menuju pintu, membukanya dan menengok ke kanan dan kiri.


“Sekarang apalagi Indah?”


Indah tak menjawab dan malah memanggil seorang asisten rumah tangga yang kebetulan lewat di sana.


“Bibi!”


Yang dipanggil berbalik dan menghampiri Indah.


“Ada apa non?” Tanyanya.


“Aku boleh minta tolong fotoin aku dan Sinta gak?” Tanyanya tersenyum manis.


“Iya non, tentu saja boleh.”Katanya mengangguk.


“Ya udah masuk yuk!” Ajak Indah membukakan pintu dengan lebar.


“Wah… non Sinta cantik sekali.” Ucap asisten rumah tangga itu.


Sinta yang tadi menyembunyikan wajahnya hanya bisa tersenyum kaku. Indah bener-bener yah, oke dia akan membalasnya nanti, lihat saja, pikirnya.


“Bi fotoin.”Indah menyerahkan ponselnya pada bibi itu dan mulai berpose di samping Sinta.”


“Non Sinta, senyum non.” Ucap bibi yang melihat Sinta tampak kesal.


Sinta tersenyum kaku dan mengiyakan.


‘Huufftt… sabar Sin, sabar.’ Batinnya menenangkan diri sendiri.


“Senyum non, satu dua tiga.”

__ADS_1


Cekrek



__ADS_2