
Di kelas...
"Ini Indah ke mana yah?Apa gak dateng?" Sinta berdiri sambil menyandarkan tubuhnya di sana.
"Kok gak ngabarin sih kalau gak dateng, ck anak itu, padahal aku sudah gak sabar mau jitak kepalanya itu. " Berdecak
Ditengah kekesalannya, seseorang yang baru sampai menghampiri. Yup, siapa lagi kalau buka cowok nyebelin yang dijuluki Sinta makhluk astral itu.
Dengan tampang setengah kesal, Adit berdiri di depan Sinta.
"Kamu kok gak nungguin aku sih? Aku kan udah bilang mau jemput kamu." Pertanyaan pertama yang dilontarkan cowok itu.
Sinta mengerutkan keningnya, setelah itu berpura-pura tak menyadari kehadiran Adit dengan mengalihkan pandangannya ke tempat lain.
"Sin aku bicara sama kamu loh ini." Ucap Adit kembali.
Masih tak ada jawaban.
Adit menggeser tubuhnya mengikuti arah pandang Sinta, namun lagi-lagi cewek itu juga melakukan ha yang sama dengan terus mengganti arah pandangnya.
"Sinta!"
"Sin."
"Sinta!" Adit yang sudah kesal itu spontan menangkup pipi chubby gadis itu, Sinta memelototkan matanya.
"Kamu denger gak sih?"
Pandangan mereka bertemu, namun tak lama kemudian seorang siswa yang juga baru saja datang lewat di samping mereka.
"Cie... cie... udah akur nih? Ekhm... bakal ada sinetron benci bilang cinta season kedua nih kayaknya." Ucapnya lalu berlalu dari sana.
Sinta yang sadar akan posisi memalukan itu langsung melepaskan tangan Adit dari pipinya.
"Kamu apa-apaan sih Dit, mau aku tonjok?"
Sinta menghempaskan tangan Adit.
"Maaf, aku gak bermaksud." Ucapnya merasa bersalah.
Suasana canggung mendadak terjadi.
'Nih cowok bikin malu aja, ntar kalau digosipin satu kelas gimana?' Batin Sinta kesal.
'Duh, kamu malu-maluin aja deh Dih, jangan agresif guru lah.' Adit merutuki dirinya sendiri.
"Lagian kamu ngapain sih di sini? Sana! Jangan ngalangin pemandangan.
Adit melihat ke ara pandanga Sinta.
__ADS_1
"Pemandangan yang mana? Perasaan di sana cuma ada pohon."
"Yah, lebih baik melihat pohon, dari pada lihat muka kamu yang nyebelin itu." Sinta menyilangkan tangannya di dada.
Adit tersenyum tipis.
"Tunggu apalagi sana pergi!' Mendorong tubuh Adit.
"Aku gak akan pergi sebelum kamu jawab pertanyaan aku dulu."
'Nih orang yah, lama-lama aku tonjok beneran deh, setuju gak?!" Batin Sinta semakin kesal, masih pagi namun emosinya sudah naik ke ubun-ubun.
"Kamu kenapa gak tunggu aku? Aku kan udah bilang mau jemput kamu?" Ucap Adit spontan.
Sinta kembali mengerutkan dahinya, ada banyak makna yang bisa di jabarkan dari kata-kata cowok itu, tapi makna yang mana?
"Dan aku kan udah bilang aku gak mau!"
"Lagian kamu dapat nomor ponsel ku dari mana? Mengganggu saja." Memutar bola matanya jengah.
Ia tidak habis pikir kenapa cowok itu bisa tahu nomor ponsel yang selama ini hanya orang-orang terdekatnya saja yang tahu. Apa mungkin Indah yang kasi? Dan untuk alasan itu pulalah sekarang ia berdiri di depan pintu kayak manekin gini demi menunggu gadis lugu menyebalkan itu. Dia sudah tidak sabar ingin memarahi Indah kalau benar dia yang memberikan nomor ponselnya pada Adit. Sebenarnya Ia sudah akan memberitahu soal Adit yang sering mengirim pesan padanya, namun akrena tidak ingin mendengar celotehan aneh dari pikiran Indah itu, ia mengurungkan niatnya. Tapi hari ini, dia sudah benar-benar kesal, meski sudah memblokir nomor Adit tetap saja akan ada nomor baru yang datang dari cowok itu.
"Itu gak penting."
"Ck, dan kamu juga." Jawab Sinta cepat.
Yah, beberapa pekan ini ia di buat jengah dengan tingkah Adit yang tiba-tiba seakan memberikan perhatian padanya, Adit selalu mengirimkan pesan untuk jangan lupa makan atau begadang. Memangnya Sinta bodoh apa sampai lupa makan? Kalau laper juga pasti cari makanan kan? Cowok itu juga sudah dua kali datang ke rumahnya untuk menjemput gadis itu, tapi Sinta selalu berpesan pada bibi yang bekerja di rumahnya mengatakan kalau dia sudah berangkat. Adit juga jadi sering mengikuti Indah dan Sinta kalau mereka ke kantin, walau cowok itu tidak duduk di dekatnya, tapi Sinta tahu kalau Adit sedang memperhatikan dia, seakan sedang meguntit saja.
Adit terdiam mendengar ucapan Sinta.
"Hhmmm... baiklah, aku gak akan ganggu kamu lagi, maaf sudah membuatmu merasa tak nyaman." Ucap cowok itu dingin, dan langsung berlalu dari hadapan Sinta, masuk ke kelas.
Sinta yang melihat sikap Sdit jadi merasa aneh.
Ada sedikit rasa bersalah, karena sudah membentak dan melihat wajah cowok itu. Tapi cuma sedikit yah.
"Apa aku terlalu kasar?" Sinta berpikir sejenak.
"Ck, bodoh amat, yang penting dia gak ganggu aku lagi."
Penantiannya menunggu Indah di depan pintu kelas itu berakhir saat bel masuk berbunyi.
Sinta pun masuk ke kelas, saat berjalan menuju bangkunya, pandangannya dan Adit tak sengaja bertemu, namun cowok itu segera memutusnya lebih dulu.
Visual Raditya Purnama
Visual Alifia Sinta Najah
__ADS_1
...
"Kenapa kamu repot-repot pergi membelikan ku air Indah."
"Itu sama sekali tidak merepotkan kak."
Mereka berdua kembali melempar senyum.
"Kak Adnan pasti sangat lelah."
"Gak kok. itung-itung olahraga pagi." Adnan kembali menyeka keringatnya.
Indah yang melihat hal itu segera mengeluarkan sapu tangan dari saku roknya, kemudian memberikannya pada Adnan.
"Pakai ini kak."
Adnan menatap gadis itu sebentar
"Ini hanya sapu tangan kok, tenang aja dijamin bersih."
Adnan dengan cepat mengambil sapu tangan itu,ia tidak ingin Indah salam paham, kalau ia tidak mau menerima pemberian gadis itu.
"Kotor pun akan tetap aku pakai, jika kamu yang memberikannya Indah." Ucap Adnan pelan.
"Kenapa kak? Kakak ngomong sesuatu?"
"Ah, enggak." Adnan salah tingkah.
"Hhmm..."
Beberapa saat hening, Adnan melirik jam berwarna hitam yang melingkar di tangannya.
"15 menit lagi, pelajaran pertama selesai, sebaiknya kita masuk di pelajaran kedua saja, sudah nanggung, nanti kamu kenna marah lagi dari guru di kelas."
Indah juga melirik jam di tangannya.
"Ah ia, sudah mau selesai, hhuufftt.... lama juga yah kak kita beres-beresnya."
Indah tersenyum tipis.
"Iya."
"Oh iya, kamu kenapa bisa terlambat?" Tanya Adnan, pertanyaan yang sedari tadi ingin ia tanyakan tapi terpotong oleh pak Darto.
Mendengar itu, Indah menggaruk pipi kananya dan tersenyum malu-malu.
"Aku... aku terlambat bangun kak." Ucapnya dengan senyum lebar, membuat Adnan merasa gemas dengan gigi kelinci dan lesung pipi gadis itu.
__ADS_1