Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja

Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja
Virus Kecemburuan


__ADS_3

Jangan lupa vote, like dan sarannya yah. karena masukan kalian sangat penting buat aku.


Silakan tinggalkan jejak, supaya aku makin semangat update ceritanya.


Terima kasih sudah mampir


Happy reading 😊😘


Pip Pip


Suara klakson yang keras membuat Indah terperanjat kerena terkejut.


Seseorang dengan menggunakan sepeda motor Moge berhenti di sampingnya.


"Hai Indah." Sapa David.


"Eh, kak David, aku kira siapa." Jawab Indah masih memegangi dadanya.


"Kamu kenapa?"


"Kak David ini bagaimana, aku sampai kaget banget tadi dengar suara klakson kakak yang tepat ada dibelakang aku. Bagaimana mungkin aku gak kaget, sekarang malah bertanya lagi aku kenapa?" Indah berpura-pura marah.


"Hehe, iya iya maaf." David menertawakan wajah kesal Indah.


"Oh iya, ada apa kak?" Indah dan David masih mengobrol di tepi jalan.


"Tidak ada, cuma kebetulan lewat aja terus lihat kamu. Barangkali kamu mau aku antar pulang?"


"Tidak usah kak, udah dekat banget ini loh rumah aku, aku jalan aja." Tolak Indah halus.


"Kan kalau naik motor sampainya lebih cepat lagi Indah."


"Gak usah kak, Indah jalan aja, gak papa kok."


"Hhmmm....ya udah deh. Aku balik yah, kamu hati-hati." Ucap David tampak sedikit kecewa.


Indah mengangguk, mengiyakan.


"Beneran nih, gak mau dianterin aja?" David kembali menawarkan saat ia akan memutar balik arah.

__ADS_1


"Iya kak beneran, tapi kalau kakak terus ngajakin aku ngobrol, kapan aku pulangnya?"


"Iya... iya, aku duluan yah, dah."


Indah kembali mengangguk dan tersenyum tipis.


...***...


Rasa cemburu sering dialami oleh semua pasangan kekasih, suami istri atau pun dengan orang yang kita cintai.


Indah yang memendam perasaan pada kakak kelasnya itu beberapa kali harus merasakan virus kecemburuan, namun dia juga tahu diri bahwa dia bukanlah siapa-siapa untuk pria tersebut. Hanya seseorang yang selalu bersembunyi dibalik perasannya sendiri. Tidak ada alasan untuknya harus marah pada Adnan. Namun sekuat apapun ia untuk menolak virus kecemburuan tersebut, benteng pertahanan yang ia bangun tak bisa membendungnya. Dia bukannya marah pada Adnan, namun marah pada dirinya sendiri yang dengan lancang jatuh hati pada pria terpopuler dan terpintar di sekolahnya.


Indah yang berniat untuk menjauhi Adnan karena tak ingin mengganggu pria itu bersama dengan Celine, nyatanya malam ini harus luluh kembali pada perasaannya sendiri. Adnan selalu bisa membuatnya bahagia, membuat jantungnya berdebar tak karuan, namun disisi lain merasakan ketenangan saat bersama dengan pria itu. Membuat bunga-bunga bermekaran dihatinya, dan kupu-kupu berterbangan disekitarnya. Malam ini dia melihat sisi lain dari seorang Adnan. Ternyata pria tersebut juga memiliki sifat jahil. Pipi Indah kembali merona saat mengingat kejadian di jalan tadi.


Namun berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Virus kecemburuan itu bukan hanya menjangkiti seorang Indah, namun kali ini Adnan pun ikut merasakannya. Pria tampan itu sedari tadi terus meraup wajahnya dengan kasar, mengingat bagaimana akrabnya Indah saat mengobrol dengan David. Pikiran Adnan dongkol, untuk pertama kalinya pria yang selama ini selalu tampak tenang, menjadi sangat gelisah.


"Apa aku cemburu melihat kedekatan mereka?"


"Mengapa mereka terlihat sangat dekat?"


Adnan kembali terdiam, tampak berpikir.


Pikiran Adnan kembali mengiyakan.


"Kenapa aku jadi tidak rela melihat Indah dekat sama dia? Belum tentu juga kan mereka ada apa-apa. Tapi siapa yang menjamin kalau David tidak akan suka Indah kalau mereka sering ketemu? Bagaimana kalau Indah juga bakalan luluh sama David? Lagi pula Indah adalah perempuan yang sangat cantik, lembut, baik hati, dan manis, siapa yang bisa menolak pesonanya."


Adnan terus berbicara sendiri tak karuan.


"Aaaagghhh..." Adnan kembali mengacak-acak rambutnya. Ia bingung dengan sikapnya yang mendadak posesif pada seorang Indah yang tidak terikat hubungan apapun dengannya.


...


Indah yang juga sedang berada di kamarnya tak berhenti terus tersenyum. Wajahnya berseri-seri, memikirkan kejadian tadi saat Adnan mengobrol dengan begitu lepas dengannya. Saat makan malam pun Bu Dania dibuat bingung dengan sikap putrinya itu karena melihatnya terus tersenyum-senyum sendiri.


Ketika Bu Dania bertanya, Indah hanya menjawab hari ini ia merasa senang karena sudah berbaikan dengan temannya.


Eh, berbaikan? Memangnya kapan mereka bertengkar? Bukankah hanya Indah yang merasa begitu dan menjauhi Adnan? Indah memukul pelan dahinya sendiri.


"Padahal aku sudah niat buat jauhi kak Adnan, tapi kalau sikap kakak kayak gini .. aku mana bisa? Huufftt...."

__ADS_1


Mendadak ia jadi teringat saat tubuhnya yang hampir terjatuh itu segera di tahan oleh Adnan. Wajahnya kembali memerah karena merasa malu, ia berguling-guling tidak jelas di tempat tidurnya seraya tersenyum bahagia.


...***...


Untuk kesekian kalinya Sinta kembali menguap, memperhatikan dengan malas guru yang sedang menjelaskan materi pelajarannya di depan kelas. Sesekali ia hampir saja tertidur. Karena apa yang dijelaskan oleh guru di depan, serasa seperti sedang mendongeng di telinga Sinta. Namun Indah dengan cepat kembali menegurnya, entah dengan mencubit tangannya atau mengatakan kalau Bu Ara, guru yang mengajar mata pelajaran sejarah itu sedang melihat ke arahnya.


"Duh... aku ngantuk banget, masih lama gak Ndah?" Tanya Sinta yang berusaha membuka matanya dengan kedua tangannya lebar-lebar, lalu memperlihatkannya pada Indah.


"Ih Sinta, kamu ngapain begitu sih." Indah memukul lengan Sinta karena terkejut.


"Aku ngantuk banget Ndah, masih lama gak?" Tanya Sinta berbisik.


"Gak, tinggal 15 menit lagi. Tahan bentar, memangnya kamu mau di hukum lari keliling lapangan siang bolong begini karena ketahuan tidur di kelas, hah?"


"Huufftt...ia juga sih. Lari keliling lapangan sih gak masalah buat aku, tapi kalau disuruhnya sekarang bisa pingsan aku. Di sini aja udah panas, apalagi diluar mataharinya terik banget." Sinta kembali mengeluh.


"Makanya tahan dulu, atau cuci muka dulu sana."


"Malas ah."


"Yeee... kamu ini di bilangin juga."


Dengan berat hati plus penuh paksaan. Sinta berusaha untuk tidak tertidur. Bu Ara yang menjelaskan tentang terjadinya peristiwa Bandung Lautan Api itu, kembali membuat Sinta seperti mendengarkan dongeng pengantar tidur. Karena tak tahan ia meminta Indah untuk mencubitnya kalau-kalau ia kembali menutup matanya, Indah tentu saja dengan senang hati melakukan perintah Sinta. Gadis itu beberapa kali terus tertawa melihat ekspresi kesal sahabatnya saat ia mencubit dengan cukup kuat.


15 menit berlalu yang bagi Sinta serasa 1 jam lebih. Akhirnya bel berbunyi. Bu Ara mengakhiri pembelajaran. Para siswa segera berhamburan keluar kelas. Entah itu menuju kantin, taman sekolah, perpustakaan, atau sekedar duduk-duduk di teras kelas, mencuri-curi pandang pada kakak-kakak kelas yang ganteng-ganteng.


"Sin, temani aku ke perpustakaan dong, setelah itu kita ke kantin deh...yuk!" Indah terus mencolek-colek lengan Sinta dengan jari telunjuknya.


"Aku ngantuk banget Indah. Kamu pergi sendiri aja sana." Sinta mengibaskan tangannya di udara, menyuruh Indah untuk segera pergi dan tidak menganggu tidurnya.


"Memangnya semalam kamu begadang? Kenapa jadi ngantuk begini sih? Sin! Sinta!" Kali ini Indah mengguncang-guncangkan tubuh Sinta yang sedang tertidur dengan posisi duduk, dengan menyandarkan kepalanya di meja.


"Duh... Apa sih Ndah, udah sana,ganggu banget sih....." Sinta kembali menggerutu.


Indah hanya mengerucutkan bibirnya, kesal. Sudahlah... menunggu sahabatnya ini bangun pun akan lama, dari pada dia semakin marah karena di ganggu, lebih baik Indah pergi saja.


Ia lalu berjalan seorang diri menuju perpustakaan.


Visual David Anggara

__ADS_1



__ADS_2