
Jangan lupa vote, like dan sarannya yah. karena masukan kalian sangat penting buat aku.
Silakan tinggalkan jejak, supaya aku makin semangat update ceritanya.
Terima kasih sudah mampir
Happy reading 😊😘
"Kamu kenapa tiba-tiba bisa sampai demam begini Indah?" Tanya Bu Dania seraya memeras handuk kecil dari sebuah wadah, lalu menempelkannya pada dahi Indah yang sedang berbaring di tempat tidur.
"Indah tidak apa-apa kok ma, mungkin cuma kecapean aja jadinya drop gini." Jawab Indah memaksakan senyum.
Namun sejujurnya yang lelah berasal dari dalam diri dan pikirannya.
"Mama gak kerja?"
"Tidak, tapi mama sudah izin di kantor, mana mungkin mama tinggalin kamu dalam kondisi begini." Bu Dania terus memijat kepala Indah.
"Oh yah, mama juga sudah mengirimkan surat izin sakit ke sekolahmu, jadi tidak perlu khawatir nak."
"Maafin Indah yah ma, Indah jadi merepotkan mama." Ucap Indah sedih.
"Merepotkan bagaimana sayang... kamu anak mama, anak kesayangan mama." Ucap Bu Dania memeluk Indah.
"Ya sudah, mama mau masak dulu yah, kamu harus makan sebelum minum obat."
"Iya, ma."
Indah menatap Bu Dania melangkah keluar kamarnya.
...***...
Saat jam istirahat...
Sinta termenung di bangkunya. Menjadikan tangan kanannya sebagai tumpuan untuk meletakkan dagunya di sana. Dia merasa cukup kesepian karena hari ini Indah benar-benar tidak datang ke sekolah. Hanya surat izin yang mengatakan jika sahabatnya itu sedang sakit.
"Huufftt..." Ia menarik nafas dan menghembuskannya dengan kasar.
"Apa iya Indah sakit karena sakit hati yah?? Ah, masa sih... apa cinta memang seperti itu, membuat fisik seseorang sakit saat hatinya disakiti oleh orang yang dia cintai?"
__ADS_1
"Iihh.... kenapa juga aku jadi puitis kayak gini. Hhmmmm.... tapi kalau iya, kacau sekali. Untung aku tidak pernah jatuh cinta, dan sebaiknya aku tidak merasakan rasa itu. iihh......" Sinta mengangkat bahunya, seakan sedang bergidik ngeri.
Ia terus berbicara pelan dengan dirinya sendiri, sampai akhirnya seseorang kembali mengagetkannya.
"Laba-laba!!! laba-laba!!" Adit berteriak dan melemparkan sebuah laba-laba mainan yang mengenai tangannya.
"Aaaaa.... laba-laba!!! Aaaaa...." Teriak Sinta sembari berlari menjauh dari tempat duduknya.
Beberapa siswa yang masih berada di dalam kelas pun spontan menoleh pada Sinta dan Adit.
"Hahhhh...." Adit tertawa terpingkal-pingkal hingga memegang perutnya melihat Sinta yang masih sibuk mengibaskan pakaiannya, takut jika hewan itu benar masih ada di tubuhnya.
"Melihat Adit yang tertawa Sinta menautkan kedua alisnya. Lalu beberapa saat kemudian menampilkan raut wajah yang begitu kesal saat melihat Adit mengambil laba-laba mainan yang ia lempar tadi, memperlihatkannya pada Sinta sambil terus tertawa.
Lantas serempak semua siswa yang ada di dalam kelas itu juga menertawakan tingkah Adit yang berhasil mengerjai Sinta.
"Adit!!! Awas kamu yah!!' Teriak Sinta lantas mengejar Adit yang berlari menghindarinya.
"Awas kamu, aku dapat.... aku gebukin kamu, Addiiittt!!" Teriak Sinta seraya terus mengejar Adit yang berlari mengelilingi ruang kelas.
"Iihhh.... serem amat jadi cewek. Ayo tangkap kalau bisa, hahhh.... eit... eit." Ucapnya saat Sinta hampir meraihnya.
"Kenapa? Sudah capek yah? Hahahh.. gayanya aja kayak laki, tapi sama laba-laba mainan saja takut, weekkk." Adit menjulurkan lidahnya kembali mengejek Sinta.
Namun Sinta yang sudah sangat lelah sudah tidak ingin melanjutkan adegan kejar-kejaran itu, dan memilih untuk mengalah.
"Awas aja nanti, aku lapor sama Bang Jarwo."
"Bang Jarwo? Siapa itu?" Adit bingung.
"Dasar lemot, ah sudahlah, kamu membuat hariku semakin buruk saja." Sinta mengayunkan tangannya ke udara lalu melangkah keluar kelas, sementara Adit masih berpikir tentang siapa Bang Jarwo.
"Huufftt... capek banget, kenapa sih belakangan ini dia jadi semakin jail sama aku? Ganggu aja deh, dasar nyebelin." Gumam Sinta pelan.
" Lebih baik aku ke kantin saja, ngeladenin dia bikin perutku sangat lapar." Sambungnya.
...***...
"Terima kasih ya Tante mau anterin Celine sampai ke bandara. Maaf jadi ngerepotin Tante deh." Ucap Celine yang kini sedang berada di dalam mobil menuju bandara.
__ADS_1
Ditemani oleh Bu Ratih, Celine menuju bandara untuk kembali ke Amerika. Celine yang sudah ditinggal oleh ibunya sejak kecil memang sangat dekat dengan Bu Ratih, sementara ayahnya selalu sibuk bekerja. Yah, secara materi hidup Celine dipenuhi oleh harta yang berlimpah, namun disisi lain ia selalu kesepian dan merindukan sosok orang tua.
Ayah Celine bernama Geraldi Tirta Digyadiningrat. Seorang pemilik perusahaan Digya Group Industry, merupakan perusahaan terkenal nomor 1 di kota tersebut. Lelaki paruh baya yang gila kerja hingga jarang pulang ke rumahnya. Celine yang kerap kali merasa kesepian lantas membuatnya berkunjung ke rumah Adnan. Bu Ratih, Humairah dan Adnan yang selalu menjadi penghibur bagi Celine dalam dunia gemerlapnya yang sunyi.
"Seandainya saja Adnan bisa mengantarku juga hari ini Tante." Ucap Celine sedih.
"Adnan kan harus ke sekolah sayang, sudah jangan sedih yah... kan masih ada Tante. Lagipula sebentar lagi kan kamu juga akan lulus seperti Adnan, nanti kamu langsung pulang ke sini lagi, yah..." Bu Ratih mencoba menghibur Celine.
"Itu pasti Tante, orang pertama yang akan aku temui adalah pria dingin itu. Adnan harus mengajakku jalan-jalan seharian , sebagai hukuman karena hari ini pun dia belum juga membalas pesanku." Celine tersenyum getir, mencoba menyembunyikan kesedihannya.
"Iya sayang." Ucap Bu Ratih.
Sebenarnya Bu Ratih pun sadar bila Celine menyukai Adnan, terlihat sangat jelas dari bagaimana gadis itu menatap puteranya. Perhatian yang Celine berikan, dan segala yang menunjukkan rasa cintanya, namun Bu Ratih tidak ingin memaksakan kehendak pada Adnan. Jika memang Adnan tidak menyukai Celine, maka dia tidak akan memaksa, sebab Adnan yang akan menjalin kehidupannya sendiri nanti. Tapi ada pikiran lain yang mengganggunya, yaitu rencana perjodohan yang dilakukan suaminya dengan ayah Celine untuk menjodohkan putra putri mereka.
"Aku tahu kenapa kamu menolakku kali ini Adnan, itu semua pasti karena gadis itu kan? Indah, aku sudah mencari tahu semua tentangmu. Anak yatim yang miskin, tunggu saja pembalasanku. Miftahul Adnan Maharendra, aku janji padamu, aku pasti akan kembali untuk menjadikanmu milikku selamanya." Ucap Celine pelan.
...***...
"Mas baksonya satu yah." Ucap Sinta memesan.
Sembari menunggu pesanannya, Sinta mengambil 1 botol air mineral di lemari pendingin kantin itu, lalu duduk di salah satu meja di sana.
Menunggu dengan tidak sabar.
KRUK... KRUK...
"Duh, lama banget dah, mana cacing di perut udah pada demo lagi." Lirih Sinta memegangi perutnya yang berbunyi.
Beberapa saat kemudian, yang ditunggu-tunggu pun datang. Seorang penjaga kantin meletakkan semangkok bakso di depan Sinta.
Aroma kuahnya seketika merebak, membuat Sinta menelan salivanya tak sabar.
"Terima kasih Mas." Ucap Sinta.
"Iya neng." Balas si penjaga kantin.
Dengan tidak sabar Sinta segera meraih sendok dan garpu, saat akan memasukkan sesendok ke mulutnya
"Wah.... enak banget." Adit tiba-tiba menyambar tangan Sinta, dan memakan bakso yang ada di tangannya.
__ADS_1