
Jangan lupa vote, like dan sarannya yah. karena masukan kalian sangat penting buat aku.
Silakan tinggalkan jejak, supaya aku makin semangat update ceritanya.
Terima kasih sudah mampir
Happy reading 😊😘
Puas berkeliling cukup lama, Indah dan Sinta akhirnya memilih salah satu restoran yang ada di sana. Mengisi perut mereka sebelum pulang ke rumah.
Beberapa saat kemudian larut dalam menikmati semangkuk bakmi yang ada di depan, mereka sembari bercanda membahas kembali bagaimana jika Sinta benar-benar memakai sepatu balet ke sekolah. Gelak tawa sesekali terdengar pada meja mereka yang terletak di pojok restoran itu.
Sampai kemudian Indra penglihatan Indah melihat Adnan dan Celine yang berdampingan memasuki restoran itu.
Ada perasaan hancur yang kembali menusuk relung hati Indah. Rasa resah yang sedari tadi berusaha ia alihkan nyatanya kembali mengusik, menyisakan sesak di dada.
Sinta yang sedang asyik dengan makanannya belum menyadari Adnan dan Celine yang kini duduk tak jauh dari mereka dengan posisi mereka yang berhadapan.
Adnan pun belum menyadari jika Indah ada di sana. Indah berusaha untuk tidak memandang pada pria di depannya itu, menutup sedikit wajahnya dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya berusaha secepat mungkin menghabiskan makanan di depannya. Ia ingin cepat pergi dari tempat itu. Sementara Adnan sibuk memainkan ponselnya agar tidak terlibat banyak percakapan dengan Celine.
Celine tampak agresif dengan duduk di samping Adnan, kemudian menggeser kembali kursinya agar lebih dekat dengan pria itu.
"Adnan, kita Selfi yah..." Celine mengambil ponsel dalam tas branded-nya.
"Aku tidak suka Selfi Celine, tolong jangan memaksa." Ucap Adnan datar tanpa menoleh pada wanita itu.
"Ya ya ya, aku tahu kamu akan bilang begitu. Tapi kali ini aku tidak mau mendengar penolakan, kamu selalu mengatakannya, dan aku akan selalu memaksamu." Celine tersenyum lebar.
"Aku mohon sekali saja, yah....." Tanpa menunggu persetujuan Adnan, Celine mengangkat ponselnya ke udara.
"Adnan lihat ke sini!" Perintah Celine.
Adnan yang ingin semuanya cepat berakhir hari ini akhirnya berbalik mengarah pads ponsel Celine, namun tanpa senyum.
Jepret
"Yah... kamu kok gak senyum sih, senyum sedikit dong." Celine cemberut melihat tangkapan gambarnya di ponsel.
"Ulang lagi yah... ayo." Ucapnya kembali siap mengambil gambar.
__ADS_1
"Aku mohon Celine, sudahlah." Ujar Adnan dingin.
Celine mengerucutkan bibirnya, kesal dengan kelakuan Adnan. Tapi bagaimana lagi, walaupun lelaki itu sangat dingin padanya, ia berusaha mengabaikan itu semua. Rasa sayang dan ingin memiliki Adnan membuatnya selalu ingin berada di dekat pria itu.
"Ya udah deh gak apa-apa, yang penting aku sudah dapat satu."
Celine membuka gambar yang tadi ia ambil, memperlihatkannya pada Adnan.
Indah yang sesekali melirik ke arah Adnan semakin sakit hati saja melihat kedekatan pria itu dengan Celine. Rasanya bulir bening sebentar lagi akan jatuh di pipi manis gadis itu.
"Lihat deh, kamu tuh ganteng banget. Apalagi kalau tadi kamu mau senyum." Celine memperlihatkan foto itu pada Adnan, lalu menyandarkan kepalanya pada pria itu.
Cukup Indah tak bisa menahannya lagi. Merasakan pipinya menghangat, indah menyeka air matanya segera lalu kembali menundukkan pandangan.
Walaupun pria itu tampak tak suka dengan tindakan Celine, tapi degan seringnya melihat mereka berdua Indah tahu perasaan mereka bukanlah perasaan yang biasa. Entah itu Adnan atau Celine yang merasakannya, atau mungkin mereka berdua...
"Celine, tolong jangan seperti ini." Adnan segera menjauhkan bahunya pada Celine.
Gadis itu kembali kesal, namun sebisa mungkin ia tak memperlihatkannya. Bukankah untuk mendapatkan hati pria itu, ia harus menjadi gadis yang manis? Jangan sampai sikap pemarahnya ia tampakkan.
Sementara Sinta yang sedari tadi berbicara namun tak mendapat respon dari Indah lantas menoleh pada gadis itu. Ia bingung kenapa Indah nampak begitu sedih, bahkan terlihat matanya memerah.
tak ada respon.
"Indah!"
Indah masih terdiam, mengaduk-aduk bakminya yang masih tersisa banyak.
"Indah!!!" Sinta menaikkan suaranya sambil menyenggol lengan gadis di sampingnya itu.
"Ehh, eemm.... i... iya ke... kenapa Sin?" Indah yang kaget malah gugup.
Adnan yang sedari tadi menatap ponselnya itu segera mengalihkan pandangannya ketika mendengar seseorang memanggil nama yang paling ia kenal.
Ia mendongak, dan kedua netra tak sengaja saling bertemu.
"Indah..." Gumam Adnan lirih.
Indah segera mengalihkan pandangannya, semetara Sinta segera tahu apa yang terjadi.
__ADS_1
'Kak Adnan...? Siapa cewek itu?' Sinta mengerutkan keningnya, batinnya bertanya.
Sementara Celine menatap tak suka pada Indah.
"Aku udah selesai, kita pergi yuk Sinta!" Indah berdiri dan langsung menarik tangan Sinta. Tak lupa meninggalkan sejumlah uang dan meletakkannya di atas meja, untuk membayar makanan mereka.
"Yah.... Indah, tapi makannya kan belum habis." Langkah Sinta sedikit terseok karena Indah menariknya kuat.
Ia hanya bisa menatap bakmi yang masih berisi setengah itu di meja. Tapi ia juga sadar bahwa Indah sedang tidak baik-baik saja, ia jadi khawatir pada sahabatnya itu.
Indah melewati meja Adnan tanpa sedikit pun menatap kearahnya. Berbeda dengan pria itu yang terus menatapnya lekat.
Demi apa... Indah sangat malu. Seolah sedang tertangkap basah sedang menguntit seseorang, atau seperti tak sengaja melihat orang yang memiliki ikatan dengannya sedang berkencan dengan cewek lain. Ah.... entahlah, sulit sekali untuk dijabarkan. Yang pasti perasaannya bercampur aduk, ibarat gado-gado, tapi dengan rasa pahit luar biasa.
"Indah..." Ucap Adnan pelan yang lantas berdiri dari tempatnya duduk, hendak mengejar gadis itu.
Namun langkahnya berhenti saat Celine meraih lengannya.
"Kamu mau ke mana sih?" Tanya Celine kesal, ia tidak rela Adnan meninggalkannya sendiri di restoran karena ingin menyusul gadis berjilbab itu.
"Tunggu di sini, aku.... mau..." Adnan melepaskan tangan Celine di lengannya.
"Kamu mau pergi tinggalin aku di sini nan?" Celine membentak, wajahnya telah merah karena menahan amarah dan cemburu. Ia tidak suka melihat Adnan seolah sangat memperhatikan gadis itu.
"Aku..." Adnan berulang kali menatap Ke arah pintu luar restoran lalu melihat Celine bergantian.
"Gak, kamu gak boleh pergi. Atau aku akan bilang sama papa dan om kalau kamu ninggalin aku sendirian di restoran karena mau ngejar orang yang gak jelas." Ancam Celine.
"Kamu apa-apaan sih, aku cuma mau ketemu sama Indah sebentar." Nada suara Adnan meninggi.
Beruntung sore itu restoran sedang sepi pengunjung.
"Gak Adnan, aku mohon duduklah kembali." Celine berusaha mengendalikan amarahnya di depan Adnan.
"Please..." Sambungnya dengan wajah memohon.
Adnan menghembuskan nafas kasar. Hatinya kalut, kenapa? Kenapa ia merasa sangat khawatir bila Indah melihatnya sedang bersama dengan perempuan lain? Kenapa ia sangat takut bila Indah akan Salah paham dan cemburu? Bahkan di saat Ia dan Indah tidak memiliki ikatan apapun.
'Indah.... siapa kamu? Kenapa Adnan begitu memperhatikan kamu? Siapa kamu dalam hidupnya? Apa kamu adalah ancaman untukku dalam mendapatkan hati Adnan? Gak... gak... gak, aku sudah berusaha bertahun-tahun, aku tidak mau ada yang masuk dalam kehidupan aku dan Adnan. Hanya aku yang akan selalu bersamanya. Aku akan menyingkirkan siapapun yang menjadi penghalang bagiku, termasuk itu kamu.' Batin Celine.
__ADS_1