
Dengan cepat Dania bangkit dari duduknya, berlari menuju ke arah Farid yang tubuhnya sudah tergeletak di dinginnya aspal malam itu, dengan darah yang bersimbah di sana.
...***...
Hanya dalam beberapa menit orang-orang sudah ramai berkumpul di tempat kejadian menatap kasihan pada Farid yang sudah tidak sadarkan diri, dan Dania yang terus berteriak meminta tolong.
Dania terus memanggil nama Farid, orang-orang yang ada di sana segera menghubungi ambulance dan petugas keamanan.
Indah yang sempat mendengar teriakan Dania memanggil Farid terbangun. Masih mengumpulkan kesadarannya. Beberapa saat kemudian, ia mencari keberadaan Dania di kamar, kamar itu kosong. Indah kembali mencari Dania di dapur, tak ada. Terakhir gadis itu menuju ruang tamu, namun ia juga tak menemukan Dania maupun Farid. Namun gadis itu merasa heran melihat pintu depan yang terbuka. Dan tunggu... suara keramaian itu...
Banyak orang berkerumun membentuk lingkaran di tengah jalan. Mobil dan pengendara lain pun tak sedikit berhenti untuk melihat apa yang terjadi.
"Kenapa di sana ramai sekali?" Melihat dari jauh.
"Apa ada yang kecelakaan?" Hanya berjarak 100 meter. Samar-samar kemudian Indah mendengar suara yang sangat ia kenali.
"Farid! Farid bangun nak, tolong jangan tinggalkan Tante." Pilunya.
"Mama?" Degup jantungnya berdebar kencang mendengar suara Dania yang menangis.
tanpa pikir panjang, Indah berlari menuju kerumunan, Berkali-kali hatinya memohon agar apa yang ia pikirkan tidak terjadi.
...
Tergopoh-gopoh Indah berlari ke sana, menyibak kerumunan satu per satu. Bersamaan dengan datangnya gadis itu, petugas kepolisian dan ambulance juga sampai di sana.
Degan menutup mulutnya dengan kedua tangan. Gadis itu mendekat ke arah Dania yang masih terduduk memegangi kepala Farid yang berdarah, masih menangis sejadi-jadinya.
"Ma... mama." Mendekat dan jatuh terduduk di samping Dania. Para petugas mulai mendisiplinkan kerumunan, agar tidak terjadi kemacetan dalam waktu yang lama.
Dania melihat ke arah putrinya sesaat, lalu kembali menatap Farid.
"Indah... Farid nak, hiks... hiks... Farid." Tersedu.
"K... kak Farid, ba... bangun kak." Mengguncang pelan tubuh Farid, tangan Indah bergetar melihat banyaknya dara, kepalanya mulai terasa pusing, sejak terakhir ia melihat ayahnya dengan keadaan yang sama seperti Farid, gadis itu jadi memiliki trauma tersendiri saat melihat cairan merah itu.
"Kak... k... kak Farid." Sesaat kemudian penglihatannya sudah gelap, sampai akhirnya ia terjatuh tak sadarkan diri di samping kakaknya.
...........
Perjalanan waktu, perjalanan kehidupan, sungguh penuh misteri yang tak terduga. Farid tidak pernah menyangka jika ia akan bertemu dan menyelamatkan Dania hari itu. Ia tidak pernah menyangka jika wanita itu adalah istri kedua ayahnya, memiliki adik perempuan yang lucu, meski ia memang selalu menginginkannya. Saat sepi melanda melihat kawan-kawan di kampung saat mereka bermain dengan adik-adiknya, memiliki tempat cerita dan saling menyayangi juga melindungi. Pemuda itu tidak pernah menyangka jika hari ini wanita yang ia benci kini telah menyelamatkan hidupnya.
Farid tersadar setelah beberapa hari ia sempat koma, kepala yang masih terasa sakit membuat penglihatannya pun buram, ia mengeluh.
"Arrgghh..."
Indah yang baru selesai mengucap salah dalam sholatnya mendengar itu. ia sedang menunaikan sholat Dzuhur di samping brangkar kakaknya, dengan segera beranjak dari duduknya, melihat keadaan Farid.
__ADS_1
"Kak... kak Farid, kak Farid sudah sadar?" Berucap bahagia.
Farid terdiam, masih bingung dengan apa yang terjadi.
"Tunggu yah kak, Indah panggil dokter dulu." Segera keluar.
...
"Bagaimana keadaan kakak saya dok,?" Bertanya, takut-takut.
Pria itu melepas stetoskopnya.
"Keadaannya sudah jauh lebih baik, tinggal menunggu waktu pemulihan bekas operasi di perutnya saja." Tersenyum menjawab.
"Alhamdulillah." Indah begitu lega mendengarnya, Farid pun ikut mengucap syukur.
"Kamu harus banyak-banyak istirahat yah, supaya cepat pulih." Memegang pundak Farid.
"Iya dok, terima kasih." Jawabnya.
Dokter itu mengangguk, kemudian pamit untuk memeriksa pasien lain.
"Bagaimana perasaan, apa kak Farid butuh sesuatu?" Indah tersenyum tulus.
"Kakak merasa jauh lebih baik Ndah, hanya pusing sedikit dan perutku agak keram rasanya."
" Itu pasti karena bekas operasinya kak." Memaksakan senyum.
"Iya, luka di perut bagian kiri kak Farid itu menyebabkan luka di ginjal kakak, sehingga ginjal kak Farid tidak lagi berfungsi, dan...." Menarik nafas.
"Dan itu juga membuat ginjal yang lainnya mengalami kerusakan."
Farid shock mendengarnya.
"Jadi kedua ginjal kakak..." Menatap ke arah perutnya.
"Lalu ini..."
"Seseorang berhati malaikat telah mendonorkan ginjalnya untuk kak Farid sebelum ia meninggal." Gadis itu mendadak meneteskan air mata.
Farid bernafas lega.
"Alhamdulillah, Allah masih memberikan kakak kesempatan melalui orang yang baik hati itu." Mengucap syukur.
Indah kembali menangis, ia tidak bisa menutupi kesedihannya yang begitu mendalam. Farid yang melihatnya di buat bingung.
"Indah ada apa? Kamu jangan menangis lagi, kak Farid sudah baik-baik saja sekarang."
__ADS_1
Indah mengangguk dalam tangisnya, mencoba untuk mengendalikan gejolak di dada, menahan isakan di tenggorokan.
"Indah, Tante Dania di mana?" Tanya Farid saat menyadari tidak ada Dania di sana.
Dan isakan tangis yang sedari tadi di tahan oleh gadis itu akhirnya meledak memenuhi ruangan. Ingin menahan pun nyatanya Farid kembali menyebut nama wanita yang paling ia cintai itu.
Farid semakin di buat bingung dengan sikap gadis itu, yang sekarang malah menangis sejadi-jadinya.
Indah kini tak bisa mengontrol perasaannya, beberapa hari menyembunyikan luka itu, kini ia memiliki tempat untuk menumpahkan kepedihannya yang dalam.
"Indah kamu kenapa menangis seperti ini?" Tangannya ingin mencapai gadis itu, tapi tak sampai.
"Indah... hei... Lihat kakak!" Tak menyerah membujuk.
Perlahan Indah yang tertunduk menangis, mengangkat pandangannya, menatap Farid. Masih dengan isakan, ia beberapa kali menghapus air matanya yang kembali jatuh.
"Ada apa? Kenapa kamu menangis seperti itu, hm!" Farid bertanya, ia sedikit was-was kali ini.
"Apa kamu mengkhawatirkan kakak, atau ada hal yang lainnya lagi?"
Indah masih menutup rapat-rapat bibirnya.
"Cerita sama kakak Indah, dan.... berhentilah menangis, kalau Tante Dania datang lalu lihat kamu seperti ini dia akan sedih." Membujuk.
Indah menggigit bibirnya...
Farid tersenyum tipis, berusaha menghibur gadis itu.
Suasana hening sejenak, Indah kembali menunduk.
"Mama tidak akan datang kak." Ucap Indah lirih.
Farid mengerutkan keningnya, menatap gadis itu kembali.
"Maksud kamu...?"
"Tante lagi sibuk yah di kantor?" Jawabnya.
"Ya udah tidak apa-apa, kan ada kamu yang temenin kakak, besok-besok Tante Dania juga akan ke sini, kalau dia sudah tidak sibuk lagi." Tersenyum menjawab.
"Sampai kapan pun, mama tidak akan datang kak, dia tidak bisa datang, tidak akan bisa..." Indah menggelengkan kepala pelan.
"Tapi kenapa Indah? Apa Tante Dania marah padaku?" Raut kesedihan kini tampak di wajah Farid, ia menyesali tindakannya malam itu.
" Tidak kak, mama tidak pernah marah sama kak Farid, mama justru sangat menyayangi kak Farid." Indah meyakinkan.
"Lalu kenapa?" Kembali bertanya.
__ADS_1
"Mama tidak bisa datang, karena sekarang mama sudah berada di tempat yang sama dengan papa."
Farid mengerutkan keningnya, sampai akhirnya pemuda itu terkejut menatap gadis itu penuh tanda tanya dan tak percaya.