
Dania dan Sarah pun masuk ke restoran itu dan mulai memesan makanan.
Skip
Dania melirik jam yang melingkar di tangannya.
"Jam makan siang sudah mau selesai, kita harus kembali sekarang Sarah."
"Ya udah, Mas!" Panggil Sarah pada pelayan restoran untuk membayar tagihan makanan mereka.
Setelah itu...
"Dania kamu tunggu sebentar yah di sini, atau kalau lama ke mobil aja duluan. Aku mau ke toilet dulu."
"Iya." Dania menjawab dan tersenyum.
Beberapa menit menunggu Sarah yang belum kembali, akhirnya Dania memutuskan untuk kembali ke mobil. Namun baru saja ia beranjak dari tempat duduknya dan berbalik
Bugh
"Astaghfirullah."
Dania bertabrakan dengan seorang lelaki dengan setelan jas kantor high class dan dua orang lainnya yang berdiri di belakang lelaki itu. Seorang asisten, dan bodyguard.
"Apa kau tidak bisa berjalan dengan benar?!" Lelaki itu membentak Dania dengan kasar, tatapan pengunjung restoran pun langsung tertuju pada Dania.
"Ma... maafkan saya Pak, saya tidak sengaja." Dania bergetar.
"Maaf maaf, memangnya dengan maaf mu itu bisa mengganti kerugian bos kami karena terlambat bertemu dengan rekan bisnisnya? Dasar manusia rendahan." Hina asisten lelaki itu.
Dania hanya bisa diam, sungguh ibu itu ingin sekali menangis sekarang, tapi ia berusaha untuk tegar.
Sarah yang baru kembali dari toilet itu pun, segera menghampiri Dania saat mendengar keributan itu.
"Ada apa ini?"
Pandangan para lelaki itu berpindah pada Sarah. Begitu pun Dania yang merasa cukup lega karena Sarah ada bersamanya.
"Eh, P... Pak Jayadi." Sarah membungkukkan badannya memberi hormat pada lelaki di depannya itu.
Masih dengan tatapan penuh keangkuhan, lelaki itu bertanya.
"Siapa kamu?"
"Saya Sarah Pak, saya salah satu karyawan yang bekerja di perusahaan Fortune Jayadi Group. Pemimpin di bagian keuangan. Dan ini adalah salah satu staff saya, Bu Dania. Apa dia sudah melakukan kesalahan Pak?" Sarah bertanya selembut dan sesopan mungkin agar tidak menyinggung lelaki arogan itu .
Jayadi menatap Sarah dari ujung kaki sampai ke ujung rambutnya yang tergerai panjang itu.
__ADS_1
"Boleh juga nih cewek." ucap lelaki berusia 38 tahun.
Sarah memiliki wajah yang cantik, kulit yang sangat putih dan body yang ideal. Belum lagi karena wanita itu belum menikah, membuatnya masih terlihat sangat muda.
Di tatap seperti itu oleh Jayadi, membuat Sarah merasa tak nyaman.
"Maaf Pak, dia bertanya apa kesalahan perempuan di sampingnya itu?" Sang bodyguard menyadarkan bosnya yang sedang berpikiran kotor itu. Ia sudah hapal betul apa yang tengah dipikirkan bosnya.
Jayadi menatap kesal pada sang bodyguard.
"Ekhm, maaf nona Sarah tadi perempuan itu dengan tidak sopan menabrak Pak Jayadi." Asisten yang berbicara.
Dania menatap Sarah, begitupun sebaliknya. Sarah tahu kalau Dania pasti tidak sengaja melakukannya.
"Maafkan atas kecerobohan staff saya Pak, dia mungkin tidak sengaja tadi." Sekali lagi Sarah membungkukkan badannya.
"Mengapa kau yang meminta maaf nona Sarah. Suruhlah dia meminta maaf dengan sopan padaku, atau aku tidak akan segan-segan memecatnya hari ini juga. Dan aku yakin, dia pasti akan sangat kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan baru di perusahaan lain." Ancam Jayadi.
"Ba... baik Pak."
"Dania angkatlah wajahmu dan minta maaflah pada Pak Jayadi, dia adalah pemilik perusahaan tempat kita bekerja."
Meski belum pernah bertemu secara langsung dengan pemilik perusahaan Fortune Jayadi Group tapi dari perbincangan Sarah dan Jayadi, ia sudah bisa menebak kalau laki-laki di depannya itu adalah bos nya. Dan, hei dia dalam masalah besar sekarang.
Dania langsung mengangkat wajahnya. Membungkukkan tubuhnya untuk meminta maaf dan kembali menatap lelaki itu dengan tatapan memohon.
Jayadi dengan senyum angkuhnya itu akhirnya mau melihat wajah Dania sepenuhnya.
"Tidak ku sangka aku memiliki karyawan yang tidak komp...." Ucapannya terhenti saat mengingat dengan jelas siapa wanita yang kini ada di hadapannya.
Seketika bayangan kejadian dua tahun yang lalu melintas kembali di benaknya. Wajah yang penuh keangkuhan itu mendadak pias, dan tangannya mengeluarkan keringat.
...***...
Keesokan harinya...
"Indah, no.2 itu jawabannya A kan?" Tanya Sinta.
"Iya."
"Cara kerjanya gimana?"
"Bukannya kamu sudah tahu yah jawabannya, pastinya kamu tahu cara kerjanya."
"Enggak, aku cuma asal coret-coret aja, terus dapatnya A. Gak tahu gimana rumusnya, coba sini aku lihat punya kamu aja." Sinta merebut buku Indah.
"Kamu ini kebiasaan sekali sih, itu sama aja aku yang jawab bukan kamu." Indah mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
"Kan kamu jago matematikanya, bantuin teman sendiri dapat pahala besar loh." Sinta mulai menyalin jawaban Indah.
"Hhmm... terserah kamu aja deh."
Sinta memang paling jago memberikan alasan. Sampai Indah pun malas meladeninya, saking malasnya ia pun sering mengalah saja.
Saat ini Sinta sedang berada di rumah Indah, lebih tepatnya di kamar gadis itu. sejak sore tadi Sinta datang karena ingin mengerjakan tugas matematika bersama, sebab jika ia sendiri, bisa terbakar tuh kepala karena rumus-rumus yang selalu membuat amarahnya naik ke ubun-ubun karena tidak mendapatkan jawaban dari suatu soal.
Beberapa jam kemudian...
"Indah sekarang sudah pukul berapa yah?" Sinta tengah serius mencoreti lembaran bukunya yang kosong.
Mencoba memecahkan jawaban dari soal nomor 15, hanya mencoret-coret yah... (Aduh nih anak, bukannya membantu malah jadi beban).
Indah melirik jam wekernya.
"Eh, udah jam sembilan lewat loh, kok gak kerasa yah, pantas mata aku dari tadi udah kayak di sapu aja." Ucap Indah mengucek matanya.
"Di sapu? Jalanan kali di sapu."
"Iisstt.. kamu ini, itu kan seperti perumpamaan aja."
"Yayaya... terserah kamu, tapi kamu harus tahan mata kamu Indah, kalau tidak kita bakalan di hukum besok."
"Hhmmm."
"Ck, tugasnya masih banyak lagi. Lagian Pak Haikal itu benar-benar yah. Masa kita semua jadi di hukum sekelas buat ngerjain 50 soal ini gara-gara si Alvin ketiduran dan tidak memerhatikan pelajarannya tadi. Dia kira otak kita ini kayak dia apa yang bisa nyelesai-in ini semua dalam waktu sehari." Sinta mengomel mengeluarkan unek-uneknya.
"Huussstt... gak baik ngomong kayak gitu, yang penting kita usahain dulu buat ngerjain semua soal ini. Kalau pun nanti gak selesai semua... yah, setidaknya kita udah berusaha, iya kan?" Nasehat Indah.
"Ck, terserah kamu aja deh. Masalahnya ini udah jam 9 malam loh, kalau kita selesainya jam 12 malam gimana? Masa ia aku harus pulang di jam segitu. Nanti kalau ketemu putih-putih diperjalanan gimana? Iihh.... ngeri aku." Sinta mengedikkan bahunya.
'Nanti kalau aku juga kesambet kayak Adit waktu itu gimana?' Batin Sinta.
'Eh, Adit lagi ngapain yah sekarang?' Sinta mengecek ponselnya.
Tak ada pesan satu pun yang masuk dari cowok itu. Tak seperti biasanya, yang setiap hari, hampir setiap jam pesan Adit masuk.
Entah kenapa ada bagian dari hatinya yang merasa kehilangan, ia merasa sedih.
Sedih? Hah!
...****************...
Hy guys jangan lupa mampir juga di chat story' aku yang terbaru yah...
Aku tunggu di sana 😁❤️
__ADS_1