Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja

Gadis Cantik Dan Pria Di Ujung Senja
Dania Kembali


__ADS_3

...***...


Adit duduk termenung di taman sekolah, sendirian. Ia tidak berminat untuk di temani oleh Radit kawan sebangkunya itu. Sejak Radit tahu kalau ia menyukai Sinta, tidak ada hari berlalu tanpa sehari saja teman sebangkunya itu tidak mengejeknya atau menggodanya.


Hari ini pun masih sama, Sinta yang tidak datang ke sekolah menjadi bahan godaannya.


“Ekhem, ada yang sedih nih karena si pujaan hati tidak datang ke sekolah, sepertinya ada yang akan pergi apel lagi ke rumah si dia.” Ucapnya berbisik saat pelajaran Bu Rahma sedang berlangsung.


Adit hampir saja terpancing kembali, kalau saja Bu Rahma tidak sedang menjelaskan di depan kelas, tentu ia akan mendaratkan tinjunya ke bahu cowok itu.


“Hei, fokuslah ke depan… jangan terus memikirkan Sinta.” Ucapnya kembali di iringi cekikikan kecil.


“Awas kamu yah, lihat saja nanti kalau Bu Rahma sudah keluar kelas.” Adit mengancam.


“Hehe…” Radit tertawa kecil, ia berhasil membuat temannya itu kesal lagi.



“Huufftt…” Adit menghela nafas.


“Kenapa Sinta tidak datang yah? Apa dia sedang sakit? Atau sesuatu terjadi padanya? Aku harus melihatnya nanti.” Gumamnya.


“Ternyata benar apa kata si rese’ Radit itu, aku memang akan ke rumah Sinta. Ck, anak itu menyebalkan sekali selalu saja menggodaku.” Gumamnya kembali.


Beberapa saat kemudian, bel tanda masuk berbunyi menandakan istirahat kedua telah berakhir, mendengar itu dengan langkah yang lesu, Adit segera kembali ke kelas.


...***...


“Semuanya sudah aman, apa kita harus menghubungi Sinta sekarang?” Tanya David. Begitu BosMen dan kedua temannya itu sudah tak terlihat.Adnan dan David kembali masuk ke rumah Indah. Dua cowok itu duduk di sofa, Adnan menyandarkan kepalanya, malam yang panjang untuk mereka tanpa tertidur sejenak pun.


“Nanti dulu Vid, sebaiknya kita membereskan semua kekacauan yang terjadi di sini dulu.” Adnan bergumam, masih menutup matanya.


David melihat sekeliling…


Yah, memang agak berantakan sih, barang-barang berserakan di mana-mana, apalagi ruang tamu dan kamar Indah, belum lagi gudang yang David berantakin karena mencari tali tambang semalam.


‘Tapi ah, gudang tidak perlu di bereskan. Pasti tante Dania tidak masalah.’ Batinnya.


“Aaakkhh…” David menguap.


“Apa kita yang akan melakukan semuanya? Aku sangat mengantuk dan lelah sekarang, kan kamu bisa memanggil asisten rumah tanggamu ke sini, atau siapa kek, petugas kebersihan gitu.” David mengambil posisi tengkurap di sofa.

__ADS_1


Adnan berpikir sejenak.


‘Iya juga, aku juga sangat lelah sekarang, sebaiknya aku menghubungi orang rumah saja.’ Batin Adnan.


Akhirnya setelah menghubungi orang-orangnya untuk membersihkan rumah Indah, Adnan dan David memilih untuk tidur di sofa.


Sementara orang yang dipanggil Adnan sedang sibuk membersihkan rumah Indah, setelah semuanya telah selesai, mereka pun pulang tanpa membangunkan Adnan ataupun David sesuai dengan perintah Adnan.



Pukul 14:20, Adnan terbangun saat seseorang mengetuk pintu dari luar, tak lama kemudian terdengarlah suara pintu yang terbuka.


Adnan menguap dan beberapa kali mengedipkan matanya, namun ia segera tersadar saat suara seorang perempuan memanggil nama Indah.


“Indah! Indah! Mama pulang nak, kamu di mana?” Tanpa memperdulikan dua cowok yang kini ada di ruang tamu rumahnya, Dania langsung masuk menuju kamar Indah. Farid menunggu di ruang tamu, tampak penasaran dengan kedua cowok di depannya itu.


Melihat Dania telah pulang, Adnan membangunkan David.


“Vid, David bangun! Tante Dania sudah kembali.” Adnan menggoyangkan tubuh David.


Mendengar nama Dania, David langsung terbangun dari tidurnya, membenarkan posisi duduknya.


“Tante Dania sudah kembali?” David bertanya dengan setengah kesadarannya.


Dania membuka kamar Indah dengan tidak sabar, tapi ia tidak menemukan anaknya itu di sana, ia memasuki dapur dan halaman belakang rumahnya tapi tetap sama, Indah tak ada di rumah tersebut.


“Apa mungkin… Jayadi? Tidak… tidak… tidak mungkin.” Dania mulai cemas. Namun ia kembali mengingat bahwa ada dua cowok yang berada di ruang tamu tadi, bagaimana mungkin dia tidak menyadari hal itu. Dengan langkah cepat ia kembali ke ruang tersebut, mendapati Adnan dan David yang dalam posisi berdiri ingin menghampiri Dania.


“Siapa kalian? Kenapa kalian bisa ada di rumahku? Di mana anakku? Di mana Indah?” Dania gusar. Farid berdiri di samping Dania, menatap tajam pada Adnan dan David.


“Tenang tante, kami akan menjelaskannya.” David menenangkan.


“Kami berdua adalah teman Indah, Saya Adnan apa Tante lupa? Kita pernah bertemu sebelumnya di Masjid."


Dania tampak mengingat-ingat, tak lama ia kemudian mengangguk.


"Iya, tante ingat, kamu kakak kelasnya Indah kan?"


"Iya Tante dan ini David, mari tante duduk dulu biar aku menjelaskan semuanya pada tante.” Ucap Adnan, tak tega melihat Dania yang hampir pingsan.


Farid melunak, ia menuntun Dania untuk duduk di sofa.

__ADS_1


“Sebenarnya apa yang terjadi, kenapa kalian bisa ada di sini? Dan di mana anak tante Dania?” Farid bertanya.


‘Siapa laki-laki ini? Apa dia kakak Indah? Ah, tidak mungkin Sinta bilang Indah anak tunggal. Lalu siapa dia?’ Batin David memperhatikan Farid.


“Begini, sebenarnya…” Adnan mulai menceritakan semuanya, mulai dari dia yang mencari-cari keberadaan Dania, sampai mereka meringkus kawanan penjahat tersebut. Dania yang mendengarnya nampak shcok, namun ada rasa syukur dalam hatinya, bahwa kedua pemuda tersebut sudah menyelamatkan nyawa putrinya, dan putrinya dalam keadaan baik-baik saja sekarang.


“Astagfirullah, Ya Allah… terima kasih sudah melindungi putriku, hiks… hiks…” Dania menangis menutup wajahnya.


Farid juga tampak lega mendengar cerita tersebut. Rupanya 2 anak remaja di depannya ini sangat pemberani dan baik hati.


Setelah merasa lebih tenang, Dania menghapus jejak air matanya. Kembali menatap Adnan dan David dengan raut wajah penuh rasa terima kasih.


“Terima kasih nak, terima kasih sudah melindungi Indah. Sampai kapanpun, tante berhutang budi pada kalian berdua, terima kasih banyak.” Dania menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


“Tidak tante, tante tidak perlu seperti ini.” Ucap Adnan.


“Yah, Indah adalah teman kami yang lucu dan menggemaskan, kami tidak mungkin membiarkan sesuatu yang buruk terjadi padanya.” Ucap David.


“Ekhem…”


“Ck.”


Farid berdehem, sementara Adnan berdecak.


“Kamu ini ngomong apa sih.” Sambung Adnan, berbisik.


“Maafkan sikap teman saya tante. Dia memang suka begitu.” Adnan meminta maaf.


Dania tersenyum mendengar hal tersebut, rupanya Indah memiliki banyak teman yang menyayanginya.


“Sekali lagi terima kasih yah, karena kalian sudah melindungi putri tante, tante tidak tahu bagaimana jadinya kalau dia benar-benar di culik, tante hanya punya Indah di dunia ini.” Dania kembali menghapus air matanya yang jatuh.


Adnan dan David mengangguk.


“Tante tidak perlu sedih sekarang, Indah sudah baik-baik saja.” Farid tersenyum tulus.


Dania tersenyum, menganggukkan kepala.


“Kalau begitu aku akan menelpon adikku untuk membawanya kemari.” David mengambil ponselnya di kantong celana depannya.


“Jadi kamu kakaknya Sinta nak?” Tanya Dania.

__ADS_1


“Ia tan.” David tersenyum mengiyakan.


__ADS_2